iv.

58 9 2
                                        

Nᴀʀᴜ ᴛɪɴɢɢᴀʟ ᴅɪ ꜱᴇʙᴜᴀʜ kota kecil, di sebuah tempat di antara perbukitan, yang terbelah menjadi tiga bagian berdasarkan kesejahteraan masyarakatnya.

Nah, kali ini biar Naru ajak kau berkeliling dan melihat-lihat. Ide bagus, bukan?

Mari kita mulai dengan tempat tinggalnya terlebih dahulu. Dia tinggal bersama Laila dan ayah tirinya di pemukiman yang agak kumuh dan sedikit kotor, di antara rumah-rumah lain yang berdempetan seolah-olah tidak ada ruang yang tersisa, dan memang demikian.

Ada beberapa jalan sempit yang membagi rumah-rumah berdinding kusam itu, terhubung satu sama lain bagai ranting pohon penuh cabang, dengan selokan yang menghitam serta berlumut tebal di kedua sisinya.

Kalau hujan lebat bertamu, genangan air yang tercemar juga hadir di kediaman mereka, jadi Naru perlu membereskan kekacauan yang mereka perbuat keesokan paginya.

Apabila Naru hendak pergi ke suatu tempat, dia perlu melewati gang kecil yang berkelok-kelok itu, menghadapi penjaga warung yang enggan bertatapan dengannya, pandangan aneh ibu-ibu yang mengitari gerobak tukang sayur, atau wajah ingin tahu anak-anak sekitar.

Namun tatapan mereka tidak menganggunya, tidak lagi karena dia terlalu lelah untuk berbuat apa-apa. Dia juga sering berhadapan dengan para pencopet ulung berkedok remaja putus sekolah (anggap saja begitu) yang senang mangkal di pos ronda, dengan tangan-tangan iseng yang hobi menjamah, dan sejujurnya tidak ada yang bisa dirampas dari saku celana Naru selain pecahan uang logam dan lembaran uang lusuh.

Begitu kau keluar dari jalan sumpek seribu arah tersebut, kau akan menemukan aspal tidak rata sekaligus lebar yang menghubungkan bagian pertama dengan bagian kedua di kota itu, dengan lintasan rel kereta sebagai pembatasnya.

Setiap malam Naru bisa mendengar suara roda kereta yang nyaring dari kejauhan apabila insomnia mencegahnya jatuh ke dalam lubang bawah sadarnya. Kau juga bisa melihat banyak ruko kecil berjejer di sepanjang sisi jalan utama itu, punya berbagai noda cat semprot di tubuh mereka, atau tukang angkot yang seenaknya mengetem di dekat lampu lalu lintas dan menciptakan masalah klasik para pengendara-kemacetan.

Sekarang, mari kita menelusuri bagian kedua, yang punya kondisi sedikit lebih baik dibanding bagian pertama. Teman-teman sekolahnya sebagian besar tinggal di bagian ini, dengan banyak akses ke tempat keren seperti toko buku dua tingkat, rumah makan dengan hidangan lumayan gurih, alun-alun kota yang sebagian kecil mirip mungkin seperti Central Park di New York (masalahnya hanya tidak seluas itu), atau tongkrongan yang cukup cantik untuk didokumentasikan di sebuah jepretan foto.

Namun ada beberapa daerah yang perlu kau hindari, seperti di sela-sela gedung yang bersinar pada malam hari, di ujung sebuah jalan kecil yang buntu, di sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang mabuk padahal mereka masih di bawah umur. Naru janji akan ceritakan padamu apa sebabnya, tetapi tidak sekarang, oke?

Beberapa tingkat akademi juga singgah di bagian ini, seperti SMA Pramadana juga SD Wijaya Kusuma, tetapi tidak dengan satu sekolah lainnya di kota itu.

Namanya SMA Askana Havika, sekolah asrama khusus putri. Apa kau pernah dengar nama sekolah itu? Kalau belum, Naru hanya bisa menjelaskan beberapa hal saja karena, toh, dia sama sekali tidak pernah berani pergi ke bagian ketiga, kawasan paling bergengsi dibanding dua area sebelumnya.

Kau perlu berjalan melalui terowongan pendek dengan taman kecil yang cantik di atasnya, melewati aspal berkualitas tinggi dan mungkin menangkap rumah-rumah besar yang punya gerbang-gerbang besar pula dengan kedua matamu, hingga mungkin berhenti pada jalan khusus menuju SMA Askana Havika, Naru tidak begitu yakin.

Orang bilang biaya SPP sekolah itu betul-betul sinting, tetapi Naru tidak pernah tahu seberapa besar uang yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di sana. Yang dia ketahui hanyalah fakta bahwa sekolah itu lumayan elit dan desas-desus kalau murid-muridnya (tentunya para remaja perempuan) begitu congkak untuk bertukar sapa.

Biasanya mereka keluar gerbang pada akhir pekan, hari yang sama bagi Naru untuk punya kegiatan lain di dapur pengap sebuah kafe, kerepotan mencuci piring serta gelas kotor yang tak habis-habis.

Biasanya lagi para siswi SMA Askana Havika enggan berada di bagian dua maupun satu terlalu lama, tetapi Naru yakin dengan ingatannya sendiri, bahwa pada malam itu-sepulang dia bekerja-dia mendapati seorang murid yang sedang bersungut-sungut sambil menangis di depan ruko tak terpakai.

Dengan aroma sigaret yang agak menyengat dan seragam yang kusut, dia lalu merokok sambil memandangi langit sebelum akhirnya berjalan terhuyung-huyung, meninggalkan Naru dan keterkejutannya di antara kegelapan.

Ingatan itu terlalu jelas untuk dilupakan sekaligus diabaikan, bahkan setelah satu pekan lamanya. Naru masih suka mengira-ngira penyebab gadis itu berada di bagian satu pada malam yang larut dan remang-remang, tetapi terutama alasan mengapa dia menangis, yang terdengar sama menyedihkannya seperti isakan Naru pada hari di mana semuanya telah berubah.

***

Suara lantang Pak Bayu menarik Naru kembali ke dunia.

"Tahun ini kalian akan melewati banyak tryout, jadi gunakan waktu kalian sebaik mungkin untuk belajar dan mengurangi kegiatan yang kurang bermanfaat. Bagi yang ingin mendaftar les tambahan, temui saya sepulang sekolah."

Seisi kelas menyahut asal-asalan, "Baik, Pak."

Kepergian Pak Bayu memancing kericuhan lebih banyak-atau Naru tidak menyadari-para murid yang tampaknya senang mempermalukan orang lain. Naru memang tidak lagi terpengaruh, terutama setelah apa yang terjadi pada liburan semester kemarin, seolah-olah dia tak bisa merasakan apapun selain kekosongan yang sudah lama menyeruak di dadanya.

Dia sedang mencatat tanggal pelaksanaan tryout yang terpampang di papan tulis saat seseorang mendekatinya.

"Naru, gue minta video mesum lo, dong, buat bahan coli," ujarnya lalu terkikik, dan Naru langsung tahu siapa yang berbicara tanpa menoleh. Namanya Bagas, dan kalau kau mau tahu, dia lelaki aneh yang senang masturbasi tanpa peduli tempat, tanpa peduli gender, dan tak acuh apakah kau merasa jijik padanya.

Mendengar ucapan Bagas membuat perhatian Naru teralih kepada malam yang dingin itu, di mana semuanya hancur dalam satu waktu: harapan, mimpi, dan kebahagiaan. Hatinya segera menjadi sesak sementara perutnya seakan dililit akar keras.

Laila tidak boleh tahu kalau nyatanya dia hanyalah seorang pecundang yang dihantui mimpi-mimpi buruk yang selalu ada, setiap saat, terus mengawasinya sepanjang dia bernapas.

Belum sempat Naru menyahut, seseorang berkata. Itu suara seorang gadis, cukup melengking untuk didengar semua orang di ruangan itu. "Ru, orang-orang udah pada tau kelakuan biadab lo di belakang, jadi nggak usah sok suci, deh. Mending lo bunuh diri aja dari pada hidup jadi sampah masyarakat. Lo mati juga nggak bakal ada yang dateng ke pemakaman lo."

Nah, sekarang dia dihakimi lagi. Namun bukankah sesungguhnya menusia selalu penuh dengan prasangka?

Naru mengulum bibir, menggigitinya terus-menerus-kebiasaan yang selalu dia lakukan jika mulai merasa gelisah. Sebanyak apapun hinaan yang ditujukan padanya, amarah, kebencian, Naru adalah Naru, yang kini lebih takut daripada kijang yang terluka di hadapan sekawanan singa.

Namun dia masih tutup mulut saat semua pandangan mata menusuknya-seperti yang orang-orang lakukan. Semuanya. Semuanya. []

***

Catatan tambahan:

Halo, teman-teman semua! Maaf sekali karena aku baru bisa update cerita ini. Minggu kemarin aku sudah mulai berkuliah dan tugas-tugasnya langsung numpuk! Jadi baru bisa update sekarang, deh. Aku akan berusaha untuk up bagian baru satu kali seminggu, jadi ditunggu aja, ya! Have a good day, homies! ☺️

If We were FlowersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang