'Selamat pagi Athaya, hari ini ada waktu kosong?'
'Jika ada waktu kosong, mau berkencan?'
Athaya sejak tadi tersenyum lebar mengingat dua deret pesan chat yang didapat dari Yo Hoon, alias pacarnya. Menunggu jarum jam bergerak pada angka dua ternyata sangat lama.
Ya, Yo Hoon menentukan jam untuk berkencan setelah Athaya menyetujui ajakannya. Sekarang masih pukul dua belas siang, Athaya sudah duduk manis di depan cermin kecil kamarnya sambil merapikan rambutnya. Bersiap-siap untuk menuju jam dua.
"Rapi amat, masih lama keles jam dua. Sekarang masih jam segini, tidur dulu, kek." Suara Siska membuat Athaya menggerutu pelan.
"Sstt, lo mending diem, deh. Makan atau bobo gitu, jangan ganggu gue." Athaya melambai-lambaikan tangannya seolah mengusir Siska.
"Gini amat temen satu kos gue." Siska akhirnya memutuskan untuk pergi ke teras kos untuk mencari udara segar. Akhir-akhir ini, gadis berasal dari Indonesia itu tengah merindukan keluarganya. Hampir setiap malam Siska menelepon ayah dan ibunya untuk melepas rindu, hal itu membuat Athaya ikut merindukan keluarganya di Indonesia.
Sudahlah, ayo kembali mengikuti kebahagiaan Athaya hari ini!
Ponsel Athaya berdering beberapa kali, menampilkan nomor Yo Hoon yang menelponnya. Segera gadis itu mengangkat telepon tersebut dengan penuh semangat.
"Jam dua terlalu lama, aku ke kos kamu sekarang saja," ucap Yo Hoon dengan suara resah di balik ponsel Athaya.
Mendengar itu, Athaya langsung berdiri dan berjingkrak kegirangan. Ternyata Yo Hoon juga tidak sabar menunggu pukul dua. Sama seperti Athaya. Salah siapa juga Yo Hoon menentukan waktu yang terlalu lama begini.
"Baiklah, aku sudah siap, kok. Kamu langsung datang aja," jawab Athaya sambil mengoleskan sedikit lip tint pada bibirnya. Setelah itu dia tidak lupa memakai blazer putih kesukaannya.
Berjalan ke arah teras, mendapati sosok Siska yang menyendiri sambil bermain ponsel. Di sana dia tengah membaringkan tubuhnya di atas lantai. "Siska, gue mu berangkat. Habis ini dijemput."
"Ini sekedar info atau ngejek gue yang jomblo, sih?" Siska sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Athaya tertawa mendengar itu, dia kemudian duduk di samping tubuh Siska yang berbaring nyaman tanpa bantal atau alas apa pun. "Masud gue tanya gini ke lo, gue mau nawarin titipan. Lo mau nitip sesuatu, nggak? Nanti gue beliin, deh."
"Apa aja, deh, pokoknya yang halal. Jangan sampai lo beliin gue babi, sih," sungut Siska sambil menunjukkan pelototan mata yang membuat Athaya lagi-lagi tertawa.
Ah, sekadar informasi, Siska memang sedikit judes. Bicaranya pun cukup sinis. Tetapi, aslinya gadis itu sangat baik dan pengertian, kok.
"Iya Siska tersayang."
Baru saja Siska ingin mengacak-acak rambut Athaya agar gadis itu kesal, tetapi aktivitasnya lebih dulu dibuat urung akibat kedatangan Kim Yo Hoon.
"Parah, bisa-bisanya pacaran sama orang Korea lo, Ay." Begitu gumam Siska masih tidak menyangka ketika melihat kenyataan di depan mata bahwa Athaya benar-benar berpacaran dengan laki-laki asli Korea.
"Gue jadi pengen pacaran sama anak Jepang." Sambil tertawa mengingat keinginan anehnya, Siska berjalan masuk ke kamarnya untuk tidur siang.
***
"Do you like macaron ice cream, Athaya?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Yo Hoon setelah menuruni mobil.

KAMU SEDANG MEMBACA
ATHAYA [Sekuel Roman-tis]
Teen FictionSEKUEL ROMAN-TIS Aku pernah bersahabat dengan hati, tapi tidak dengan cinta. Aku pernah merasakan bagaimana perihnya melihat seseorang yang aku sayangi menangis di hadapanku karena cinta yang masih enggan bersahabat denganku, dan ... dengan caraku y...