[END] [Spin-off Sungjake Help&Weakness] [Original Fanfiction]
Jake mencoba menahan emosionalnya karena dia skeptis akan berbagai hal namun Sunghoon terkadang aneh dan membuatnya marah.
Sunghoon itu wujud manusia pada umumnya sehingga baginya Jake me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Berdiri tegak, Jake."
Remaja berumur empat belas tahun itu memutar bola matanya saat merasakan hentakan keras pada bahunya. Tubuhnya mengikuti arahan tersebut dengan setengah hati.
"Hari ini kita akan kembali menemui anak itu. Dia setidaknya sudah mengerti bahasa manusia," celetuk lelaki tua disebelahnya.
Pemuda yang dipanggil Jake itu hanya diam, matanya mengobservasi kembali seluruh bagian daerah ini. Beberapa anak kecil terlihat berlarian kesana kemari dengan pakaian lusuh. Ia melihat miris tempat kumuh dan tidak teratur ini. Jake begitu menyayangkan akan kesehatan dan keberlangsungan anak-anak yang tinggal. Ada baiknya, negara lebih mempedulikan tentang masa depan anak-anak tersebut.
Itu pemikirannya dan hal itu sangat jauh dari kebenaran yang pemuda itu ketahui. Kawasan tepat ia berdiri sekarang adalah kawasan ilegal. Ada banyak kasus penggusuran dan rumah-rumah ini mungkin akan dihancurkan dalam waktu dekat. Karena kemungkinan, pemerintah daerah yang akan menyisir wilayah ini untuk dijadikan sebagai perumahan mewah. Jake menghela napas, seandainya dia cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah ini.
"Saya berharap kamu tak menemukannya," cicit Jake sangat pelan ditengah-tengah langkahnya.
Entah pendengaran yang sudah tua, tidak ada yang mendengar ucapannya dengan baik. Itu mungkin menjadi nilai tambah ketika hanya mereka berdua yang berjalan bersama. Jake dan kakek tua. Dia kakek kandung, namun pemuda itu membencinya.
Terlarut dalam pemikirannya, Jake mulai terdiam saat menemui rumah yang sama dihadapannya untuk yang kedua kali. Lelaki berumur disebelahnya langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Usangnya pintu rumah tergantikan dengan wajah lelaki tampan paruh baya yang ia kenali sebagai pamannya.
"Aku ingin bertemu dengan cucuku," frontal lelaki tua itu.
Jake menatap sinis belakang tubuh sang kakek. Kemudian mengalihkan tatapannya kedalam rumah kecil itu. Matanya tak sengaja melakukan kontak terhadap sepasang mata kecil didalam ruangan. Mata bulat dan kulit putih yang terjaga. Jake terkejut tanpa suara, sebelum akhirnya anak tersebut kembali bersembunyi.
"Dia tidak ada disini," ujar sang paman.
Pamannya itu terlihat menutup pintu ketika menyadari tatapan Jake kedalam rumah. Jake tersenyum canggung kemudian menggeleng pelan seolah bereaksi terhadap kekhawatiran lelaki itu. Dia sendiri tidak ingin anak itu diambil oleh orang tua disebelahnya. Tersiksa dalam masa mudanya merupakan rekomendasi terakhir yang Jake ingin anak itu rasakan.
"Maaf tapi bisa kita berbicara diluar?" cetus sang paman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.