Memang seberapa luar biasa Jake saat memegang benda bulat ini. Setidaknya pikiran itu yang telah memenuhinya semenjak memijak kakinya untuk latihan khusus turnamen pada lapangan indoor ini. Netranya beralih pada Airel yang membaca buku kesehatan remaja. Seperti merasa diperhatikan, gadis itu menatap Jake dan melambaikan tangannya tersenyum menyemangati.
Jake memang harusnya tidak menyetujui ucapan Airel. Selain waktu belajar, ekspetasi yang terlalu tinggi sering menyerangnya. Itu membuatnya pikirannya ngilu. Begitu sulit untuk memenuhi ekspetasi manusia. Menyelesaikan pikirannya yang berlarut, pemuda itu melompat kecil hendak memasukkan bola kedalam ring.
three point.
Kebetulan yang diberikan tepuk tangan oleh Airel. Jake yang mendengar itu menghentikan kegiatannya dan mendekati Airel. Meletakkan tubuhnya disebelah gadis itu dengan lemah. Dirinya menatap lapangan dengan bosan.
"Keren sekali, anak muda ini," bangga Airel menepuk pundak sang teman.
Perlahan-lahan bentuk bibirnya mulai menurun seakan-akan ingin menunjukkan protes pada Airel. Lagipula, Jake merasa ia tidak harus yang mendapatkan keberuntungan ini. Begitu merepotkan atau sebenarnya mampukah Jake mengatakan ini sebagai sebuah kesialan. Dewi keberuntungan sepertinya tertidur saat hari itu terjadi.
"Kenapa harus klub ini? Kamu juga keluar setelah minggu kemarin. Pilih yang setidaknya kita bisa bersama, rel," cerewet Jake.
Airel tertawa gemas, seperti melihat anak kecil. Ia menarik kedua pipi Jake, "aku terpilih menjadi perwakilan daerah. Ga efisien waktuku kalau ikut latihan basket, lagipula, disini banyak orang cakep. Cuci mata Jake," canda gadis itu menaikkan kedua alisnya.
Candaannya membuat Jake merinding. Yang benar saja, persetan wajah, pemuda itu masih merasa tidak menyangka akan kejadian ini. Apalagi terpilihnya seorang Jake menjadi anggota basket sementara. Sialan, Sunghoon. Jake benar-benar berusaha menghindari Sunghoon kecuali ketika diwajibkan berkumpul bersama. Itupun dilalui Jake dengan kecanggungan, siapapun akan canggung setelah memukul asal tengkuk seseorang dengan kekesalan.
Panjang umur, kalau kata tua-tua zaman dahulu. Jake dan Airel melirik bersamaan ketika mendengar suara tawa. Dua siswa yang mereka kenali membuka pintu lapangan. Wajah musam Jake semakin tak terkontrol saat matanya menemukan mata si tukang saran-Sunghoon- menatapnya dengan pas.
"Wow, jam tiga! aku ikut lomba minggu depan. Aku duluan, ya!" seru Airel tertawa tipis.
Jake menatapnya sewot. Ia tahu gadis itu hanya tak ingin mendengar celotehannya lebih panjang. Sedangkan, Sunghoon dan Kai berjalan mendekati posisi Jake. Anehnya, Airel sedang menuju keluar mencoba berpapasan dengan kedua mahkluk itu. Jake menaruh curiha. Intuisi kadang tidak salah, Airel dan keduanya memang saling melewati. Tetapi itu bukanlah inti masalahnya. Masalahnya, gadis itu tiba-tiba berteriak dengan kalimat yang aneh, Kai hanya tertawa sementara Sunghoon diam tak berkespresi.
"Aku titip anakku! Meski bukan malika tolong di jaga sepenuh hati!" seru Airel sebelum menutup pintu lapangan sembari tertawa puas.
Wajah Jake mulai memerah, ingatkan Jake untuk menyentil dahi gadis itu saat keduanya bertemu nanti. Sunghoon tetap tak berekspresi apapun, hanya Kai yang meninggalkan tawa kecil saat mendengar cara Airel menitipkan sang sahabat.
Keduanya akhirnya mengambil posisi duduk berjarak tiga bangku dari tempat Jake. Hanya diisi oleh percakapan oleh Sunghoon dan Kai yang seperti bisik-bisik. Jake memilih tetap diam dan memperhatikan lapangan hingga suara Kai memenuhi pendengarannya.
"Jake, anak Airel. Lo mau susu ga? Gue mau kekantin," tawar Kai dengan senyuman ejek.
Jake menatap kesal lelaki itu lantas menggeleng. Melihat ekspresi wajah pemuda itu membuat Kai kembali terkekeh kecil. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keduanya dengan lari cepatnya. Keusilan Kai tak sampai situ, sebelum menutup pintu, lelaki itu kembali berpesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKEPTICAL : That's How I Know You
Cerita Pendek[END] [Spin-off Sungjake Help&Weakness] [Original Fanfiction] Jake mencoba menahan emosionalnya karena dia skeptis akan berbagai hal namun Sunghoon terkadang aneh dan membuatnya marah. Sunghoon itu wujud manusia pada umumnya sehingga baginya Jake me...
