Skeptomai [-3] : I Couldn't Pretend Anymore

152 14 4
                                        

TANGAN dengan sebungkus eskrim terulur dihadapan Jake. Sepasang mata itu menatap binar. Jika kalian pernah melihat hal bodoh, maka hari ini Jake adalah pemeran utama dari hal tersebut.

"Nih, diambil, diliatin mulu," celetuk si pemberi.

Ekspresi Jake berubah dalam waktu yang signifikan. Banyak hal terjadi hari ini atau bahkan keesokan harinya, mengingat itu membuat Jake ingin mengigit jari kukunya habis. Sedangkan, pelaku sekaligus pahlawan yang membawanya saat ini, belum juga berniat mengembalikannya ke daerah asalnya.

"Gue pulang sendiri," cetus Jake setelah meraih bungkusan tersebut. Tubuhnya berdiri dari ayunan taman bermain itu, hanya ada cahaya lampu taman yang tersusun dengan posisi yang baik menerangi keduanya.

"Naik apa?"

Sunghoon bertanya membuat Jake mengernyit keras. Menelepon supir untuk menjemput tidak akan mungkin, Sunghoon pasti akan menjadi tempat caci maki keluarganya. Padahal, hampir delapan puluh persen kejadian ini oleh karenanya. Yah, walaupun dua puluh persen lagi juga bukan kesalahan Sunghoon sepenuhnya.

"Naik kereta seperti tadi," balasnya mulai meninggalkan Sunghoon.

"Ga bisa."

Jawaban Sunghoon membuat Jake berbalik. Dirinya menatap heran, lelaki itu menahannya balik atau apa. Tak mungkin kan, berharap untuk diajak pulang bersama. Jake pikir mereka tak sedekat itu.

"Apanya yang ga bisa?"

Tanya Jake. Sunghoon menghela nafasnya lalu menunduk setengah badan. Tunggu, bukan, Jake merasa itu aneh. Itu simbol minta maaf. Maka hal aneh apa lagi yang akan ditemuinya. Jake mengacak rambutnya tidak mengerti dengan apa pun yang akan dialaminya.

"Itu kereta api terakhir," jelas Sunghoon. Jake yang sudah mengira-ngira hanya tersenyum miris.

"Lalu gue dan lo kemana?"

Pertanyaan Jake yang spontan membuat Sunghoon melirik pemuda itu pelan. Keduanya terlihat sibuk berpikir menelusuri jalan di malam ini. Tidak, sebenarnya daripada menelusuri, Jake hanya mengikuti pergerakan Sunghoon. Ia memandang pula pada beberapa rumah yang berada disekitarnya.

"Aku punya dua pilihan dan mungkin kamu ga akan suka," balas Sunghoon membuat Jake tertawa.

"Kenapa?" tanya Sunghoon .

Jake hanya menggeleng, lalu menarik nafasnya lelah, "maaf, tapi- lo ga cocok pakai aku-kamu."

Sunghoon mengacak rambutnya bingung. Lelaki itu sedikit malu namun ia merasa fokus Jake benar-benar sudah tidak menyesuaikan dengan percakapan yang sebelumnya dikatakannya. Tak berselang lama, Jake yang tadinya tertawa lantas tiba-tiba terdiam. Tangannya diletakkan didepan mulut terkejut. Tertawa karena panggilan mudah itu membuatnya terlihat bodoh. Seperti menular, Sunghoon yang melihat kebingungan Jake membuatnya tertawa.

"Maaf, lanjut," ucap Jake menunduk lalu berjalan lebih cepat satu langkah.

"Ada dua tempat, tidak dengan hotel karena lo dan gue belum punya kartu pengenal, " jelas Sunghoon.

Jake cuma melirik, "gue juga nggak mau seboros itu demi hotel."

Sebenarnya sejenak Jake berpikir untuk menelepon orang rumah dan mengatakan kebenarannya. Tetapi mengingat itu, saat Jake ditarik paksa oleh Sunghoon, dia telah meminta izin menginap dengan alasan klasik mengerjakan tugas dengan tenggat esok hari. Padahal besok adalah hari sabtu, seharusnya Jake tidak masuk sekolah untuk belajar melainkan mengikuti ekstrakulikuler. Tepuk tangan karena pemuda itu semakin jago mengeluarkan kebohongan baru.

SKEPTICAL : That's How I Know YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang