[END] [Spin-off Sungjake Help&Weakness] [Original Fanfiction]
Jake mencoba menahan emosionalnya karena dia skeptis akan berbagai hal namun Sunghoon terkadang aneh dan membuatnya marah.
Sunghoon itu wujud manusia pada umumnya sehingga baginya Jake me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INILAH yang Jake sebut dengan hidup. Sekadar merasakan heningnya ruangan ini dengan pendingin ruangan yang menjadi sahabatnya di masa-masa pulang sekolah. Tak ada latihan fisik ataupun suara berteriak. Jiwanya yang sebenarnya, pikir pemuda itu.
Mengenai Airel, pemuda itu berakhir dengan tidak mempedulikan celotehan gadis itu selama hampir seminggu lebih hingga akhirnya gadis itu melepaskan Jake dan justru memilih untuk duduk menemani pemuda itu. Benar, saat ini Airel memilih untuk menemani Jake.
Keterdiaman selalu menemui ruangan itu beberapa saat sebelum Airel merenggangkan tubuhnya. Matanya memutar pada siswa yang membaca sebelum akhirnya mengerutkan kening. Lalu mencolek bahu Jake. Oknum yang dikenai terjengit terkejut menatap dengan pandangan bertanya.
"Katakan padaku bahwa dua orang stress disana akan membuat masalah besar," bisik Airel membuat Jake memandang kearah yang sama.
Keduanya melihat sepasang remaja tengah tertawa dengan candaan yang agak aneh. Seperti memeluk lalu mencium kemudian sang lelaki yang seperti benar-benar. Wah, Airel tidak bisa terima. Meski saling suka, menurutnya tempat ini bukanlah wadah yang pantas. Gadis itu berdiri sebelum akhirnya Jake menarik lengannya.
"Jangan, atributnya bukan anak angkatan kita. Takutnya, mereka pembully. Kita kena masalah nantinya," bisik Jake khawatir.
Airel terlihat menggebu-gebu, "bukan itu Jake, masalahnya aku lihat yang perempuan meja seberang mereka terganggu sama candaannya, tidak sopan sekali. Ini bagaimana sih, aku penjaga perpustakaannya atau kamu sih?"
Jake menghela napas sedikit tersinggung meski sebenarnya ucapan Airel tidak membuatnya sakit hati sama sekali. Dirinya bergerak untuk berjalan mendekati pasangan tersebut. Airel tampak setuju dan kagum meski tak tau bahwa Jake merasa sangat gugup saat ini. Walaupun sedikit melupakan ucapannya yanga agak sedikit menyinggung tersebut.
"Permisi, kakak-kakak, disana sudah diperlihatkan untuk tidak menganggu kenyamanan di perpustakaan," ucap Jake perlahan membuat keduanya mengerutkan kening.
Keduanya terdiam lantas melirik seperti mencela, hingga siswi itu mulai membalas perkataan Jake, "mana sih yang terganggu memangnya? Daritadi ga ada yang protes kok!"
Sedikit bentakan yang keluar membuat Jake seperti menyimpan rasa kesal. Entah mengapa, lama kelamaan pemuda itu merasa lebih berani. Ia ingin berbicara sinis, namun mengingat posisinya. Jake menurukan perasaan itu meski didalam pikirannya merasa kesal akan manusia-manusia yang tidak paham aturan ini.
"Tapi ka-"
Belum selesai pemuda itu menjawab siswa kelas lain menimpal, "banyak bicara banget dek, kelas berapa emangnya sih. Kok sok pinter banget, anak unggulan atau jangan-jangan anak kelas C?"
Keduanya terkekeh saat itu, Jake menghela napas karena sekarang mahkluk-mahkluk minim kelakuan itu mempertanyakan kelasnya. Pemuda itu memang tidak terlalu pintar untuk masuk kedalam kelas unggulan tetapi tidak sebegitunya senangnya ia mendengar siswa tersebut merendahkan siswa lain yang berada pada kelas tersebut. Ia rasa percakapan ini akan semakin keterlaluan jika dilanjutkan.