[END] [Spin-off Sungjake Help&Weakness] [Original Fanfiction]
Jake mencoba menahan emosionalnya karena dia skeptis akan berbagai hal namun Sunghoon terkadang aneh dan membuatnya marah.
Sunghoon itu wujud manusia pada umumnya sehingga baginya Jake me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jake bersumpah akan mengigit tangan manusia disebelahnya sebentar lagi. Mungkin bahkan lebih baik saat dirinya melirik ke sebelah kanan, menggigit lehernya lelaki disebelahnya. Lelaki itu mungkin dan berpikir bahwa sebenarnya Jake adalah seorang monster.
"Lepas..," bisik Jake frustasi.
"Kalau gue lepas sekarang, lo bakal ditarik dan dipukul sama mereka," balas lelaki itu berbisik dengan wajah tersenyum menatapnya.
"Sung-.."
Lelaki itu malah tersenyum dan berteriak menyambung kalimat Jake, "...hoon sialan, kenapa mau gue traktir roti melon pinggir stasiun!"
Bukannya terdengar sedang melakukan penawaran, Sunghoon justru terlihat memancing siswa-siswa yang sedaritadi melirik Jake. Sungguh, mulai berikutnya Jake tak lagi akan mencampuri urusan orang lain.
Permulaan ini terjadi setelah tiga hari Jake menegur kakak kelas dari perpustakaan tersebut. Entah kabar burung darimana pemuda itu mendengar bahwa siswa nakal di perpustakaan telah putus dengan siswi yang bersama nya saat itu. Parahnya, setelah itu Jake hanya akan disenggol secara tiba-tiba, kehilangan sepatu olahraga indoornya. Seingat Jake, buku perpustakaan hilang tanpa sepengetahuannya.
Para penganggu itu akan ketahuan oleh guru penanggungjawab, memberi argumentasi bohong dan Jake terpaksa meminta maaf terhadap guru penanggungjawab, meski itu bukan kesalahan nya. Tak ada yang sadar bahwa itu kesengajaan.
Sunghoon mengeratkan rangkulannya pada Jake. Pemuda itu tersentak, melalui langkah ini, dia yakin bahwa Sunghoon benar-benar berniat membawanya ke stasiun.
"Kita beneran ke stasiun?" retorika Jake.
Sunghoon cuma menatap depan tak melirik kearah Jake, tatapan matanya fokus dan dingin. Lelaki itu menghela napas dan mulai angkat bicara, "lo udah tau diganggu selama tiga hari itu, minimal cari pertolongan. Lo kira kakak kelas sok hebat itu bakal lepasin lo setelah mohon-mohon?"
Jake cuma menunduk, dia hanya tak ingin memberatkan Airel ataupun membuat malu keluarganya. Tak seperti Sunghoon, keluarga Jake tidak memiliki toleransi terhadap penerus-penerusnya. Lamat memikirkan semuanya, perempatan imajiner muncul di kepala Jake menatap kesal Sunghoon.
"Emang lo tahu apa sih!"
Protes Jake membuat keduanya berhenti canggung. Sunghoon melepaskan rangkulannya, tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Matanya melirik kearah lain, keduanya terhenyak hampir dua menit. Sunghoon hanya memperhatikan sekitar, melirik kaca perempatan jalan, menyadari yang mengikuti keduanya sudah dekat.
"Jalan, Jake," perintah Sunghoon sembari menarik kerahnya seperti anak ayam. Jake mulai berpikir bahwa Sunghoon sangat sulit ditebak, entah bagaimana pemuda itu, mengetahui hal yang Jake tak pernah sebutkan.
"Dengar, gue sengaja ngarahin mereka ke stasiun karna itu tempat ramai. Tapi kalau lo tahu, sebenarnya ada bagian gang dekat stasiun yang ga tersentuh. Gue bakal bawa mereka kesana, karna itu daerah kenalan gue nongkrong," ucap Sunghoon.