Skeptomai [-8] : Noticing You

233 30 0
                                        


JAKE menggenggam pergelangan tangannya, menggosok pergelangan itu tak tentu arah merasa tak nyaman. Pindah sekolah bukanlah hal yang mudah baginya. Karena dari dulu anak itu bukanlah seorang extrovert, ini akan menjadi masalah besar untuk Jake. Saat ini kakinya tertuntun mengarah pada kelas baru. Sekilas sang guru tersenyum kemudian mengusap pundak Jake menyemangati. Lantas masuk terlebih dahulu.

"Semangat Jake! Semangat!" mantra Jake.

Dirinya menghela napas. Sebuah memori berputar dikepalanya. Kakek tua itu meninggal empat bulan setelah kejadian tersebut. Para pelayat hadir begitu banyak dan menangisinya dan sudah pasti keluarga besarnya. Tapi siapa yang tahu bahwa mereka mungkin menangisi sisa warisan sekitar lima belas persen yang ia pegang menggantikan sisa bagian neneknya sebagai cucu pertama.

Begitulah bagaimana ia bisa bersekolah dengan bebas. Orangtuanya tidak akan cukup peduli dengan itu karena bagi mereka lima belas persen yang Jake miliki sudah menjamin hidup sang anak. Ia terpupuk seperti itu walaupun tau bahwa tidak semua hal tentang materiil. Begitulah cara dia dibesarkan, meromantisasi hidup melalui kekayaan bukan kebebasan.

"Yah, Miss dia bukan si ganteng yang tadi saya jumpai di kantor guru? Jadi, anak baru itu anak unggulan?"

Jake yang tadinya menari dalam pikirannya sedikit tertegun mendengar perkataan itu. Hal ini sedikit menekan emosionalnya sehingga rasa gugup menyerang. Ia mengambil langkah mundur perlahan secara tak karuan. Namun, ia tetap berkali-kali menyadari garis lantai yang terus berlalu. Entahlah, Jake biasanya tidak tertekan separah ini. Dalam langkahnya tak beraturan, pemuda itu tak sengaja menabrak seseorang yang berlari dibelakangnya. Napasnya terhenti, ia tersadar akan rasa takutnya. Jake mencoba melihat wajah yang ia tabrak namun hanya menemukan suara maaf memenuhi telinganya.

"Maaf, gue terlambat," ucapnya.

Manusia itu berlari meninggalkan Jake yang terjatuh. Matanya mengikuti lelaki itu hingga memasuki ruangan kelas disebelahnya. Jake mencoba mengerti ucapan maaf manusia tersebut. Mungkin, dia siswa baru yang juga turut masuk bersamaan dengan Jake. Mungkin, dia tersesat atau hanya memang sekedar terlambat. Jake tidak mampu melihat wajahnya keseluruhan, ia hanya melihat karakteristik seorang lelaki dengan kulit putih bersih. Anehnya itu terasa sangat familiar.

"Siapa?" bingung Jake melihat kepergian tersebut sambil memiringkan kepalanya.

"Jake, kenapa kamu dilantai?"

Suara interupsi tersebut membuat pemuda itu gelagapan menatap sang guru yang berdiri kebingungan dihadapannya. Jake dengan cepat beranjak dari posisinya mengikuti instruksi guru yang mengajaknya berdiri.

"Eh, maaf bu..," ucap Jake dengan cepat.

Semuanya berakhir begitu saja, tetapi pikirannya tak mampu Jake selesaikan sendiri. Hari itu, ia memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan, dan belajar. Hal biasa ini, ia jadikan aktivitas khusus yang diharapkan mampu membantu dirinya untuk berkembang. Sampai akhirnya, Jake siap mengurusi masa depannya. Lalu, terkait anak kandung sang paman, Jake benar-benar berharap bahwa ia menemukan anak itu karena setelah kematian sang kakek, dia seperti menghilang bak gelembung pecah.

 Lalu, terkait anak kandung sang paman, Jake benar-benar berharap bahwa ia menemukan anak itu karena setelah kematian sang kakek, dia seperti menghilang bak gelembung pecah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SKEPTICAL : That's How I Know YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang