[END] [Spin-off Sungjake Help&Weakness] [Original Fanfiction]
Jake mencoba menahan emosionalnya karena dia skeptis akan berbagai hal namun Sunghoon terkadang aneh dan membuatnya marah.
Sunghoon itu wujud manusia pada umumnya sehingga baginya Jake me...
SUDAH dua hari semenjak kejadian tersebut berlangsung. Jake memperhatikan balkon kelas yang selalu terisi baik oleh siswa maupun siswi kelas. Mungkin balkon-balkon kelas lain diangkatannya terisi sedemikian rupa pula. Suara seruan berulang kali mengulangi nama yang sama terdengar bergaung hingga kedalam kelas.
"Lihat-lihat, Sunghoon nya ganteng banget," seru warga sekelasnya.
Kalimat itu adalah kalimat yang sudah tak mampu ia hitung sejak kali pertama dia mendengar. Hal itu terus berulang, namun dirinya tak kunjung beranjak dari tempatnya bahkan hanya untuk bersikap penasaran. Airel, teman barunya, berjalan menarik kursi mendekati mejanya. Keduanya kini mendengar seruan atau percakapan lain secara bersama dalam diam.
"Eh, Sunghoon berdiri dilapangan karena kena hukum? Masa baju seragamnya basah sudah dua hari ini," ujar yang lain.
Hal itu tampaknya memiliki dampak yang signifikan. Jelas menambah keributan ditengah-tengah percakapan bersemangat lainnya. Jake yang mendengar hal tersebut melemaskan otot lengannya. Kepalanya ia jatuhkan hingga jidatnya tepat menyentuh meja langsung. Airel menarik dekat kursinya, melihat pelan kerumunan lalu mulai berbisik.
"Jake ini sudah dua hari, masa kamu tega?"
Jake yang mendengar itu seakan menulikan telinganya. Ia sudah banyak mendengar dari Airel tentang siapa korbannya saat tragedi susu cokelat itu berlangsung. Pastinya, siswa tersebut juga merupakan siswa baru yang pindah sekolah bersamaan dengan Jake. Tidak banyak pertanyaan mengenai bagaimana dia dengan cepat disukai. Karena Jake sudah menguji satu hipotesisnya dan kesimpulannya, wajahnya anak baru itu terlihat bagus. Jake mengakui itu.
Lalu jika dijelaskan secara singkat, Jake tak kunjung mengembalikan baju seragam Sunghoon hingga saat ini. Seperti yang didengar, lelaki itu sudah dihukum dua hari karena menggunakan kemeja selain seragamnya. Bukan berniat apapun, Jake sungguh ingin mengembalikannya. Ia hanya benar-benar tidak memiliki nyali untuk mengembalikan seragam itu.
"Yaudah, nanti pulang," jawab pemuda itu atas ucapannya.
Jake beralih melirik pada paperbag kecil yang ia letakkan dibawah mejanya. Airel memandang kearah yang sama, setelahnya menghela napas. Gadis itu menggeser kursinya kembali dan menepuk pundak Jake. Setelahnya pergi berkumpul ke balkon bersama-sama menatap Sunghoon. Kalau yang Jake tahu, Airel menyukai lelaki tampan, katanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue minta maaf," ujar Jake
Pemuda itu menunduk sebentar lalu hendak memutuskan untuk pergi. Ia tenang, meski hatinya berdegup kencang akibat panik. Kebiasaan ini diajarkan agar ia mampu mengatur ekspresi wajah dan hatinya. Dalam dunia bisnis yang ia tahu, membaca pergerakan lawan ketika berbicara adalah cara untuk menempatkan posisi dan menyembunyikan keraguan.
Begitu mirip dengan perasaannya saat ini yang panik. Jake entah mengapa merasa takut akan makian manusia didepannya. Dia juga takut dimintai ganti rugi selama dua hari. Bukan tidak ingin ganti rugi, tapi kartunya tersambung dengan orangtuanya. Dia hanya tidak mau diberi pertanyaan oleh orangtuanya.