Layaknya Sampah

6.4K 138 5
                                        


Sinar Matahari sangat silau. Membuat tidur Davina terusik.

"Nghhhh..." lenguhnya sambil membuka matanya. Dan merasakan sekujur tubuhnya yang sangat sakit.
Ia tersadar,ini bukanlah kamarnya. Dan tangannya masih terikat dengan kuat,menyebabkan bekas yang cukup perih,namun tidak kalah perih dibawah sana.

Davina sadar itu bukanlah mimpi,namun kenyataan. Kenyataan yang sangat pahit!
Ia mencoba sekuat tenaga membuka ikatan tali itu,dan tetap tidak bisa. Yang ada tangannya makin terluka.

Srekk
Pisau tajam membelah tali itu. Alhasil meninggalkan luka merah kebiruan bekas  tali.

"Mandi dan makan"perintah Xavier yang kini tengan mengenakan pakaiannya.

Davina menatap bingung kearahnya. Ia tak punya pakaian selain dari si Bajingan Yasya bukan?

Dengan perlahan ia coba untuk duduk dan bangkit. Badannya masih terasa sangat sakit. Dikamar mandi ia menyalakan air dari pancuran dan menggosok badannya yang penuh dengan peluh dan cairan mereka semalam.

Dipandangnya pakaian dan beralih ke kaca besar,terlihat dengan jelas bekas yang di timbulkan oleh Xavier di tubuhnya. Ia meraba semua luka itu,matanya memerah. Membayangkan semua kejadian itu. Tangisnya pun tak dapat di bendungnya. Tatkala melihat sekujur tubuh dan kewanitaannya yang memar.

Ia merasa sangat kotor dan sangat kecewa.laki-laki yang ia cintai selama ini dengan tega menjualnya kepada orang kasar dan tidak memiliki hati.

Davina tidak punya pilihan selain hanya pasrah dan mengikuti alur ini. Ia memakai bajunya dan segera keluar dari kamar mandi. Ia mencari ponsel dan tasnya,tetapi semua itu berada di tangan Xavier. Davina menatap pria itu malas.

"Kembalikan ponselku" ucap Davina

Xavier hanya diam dan menyimpan ponsel Davina di sakunya. Dan tas Davina ia buang ke jendela luar Apartementnya.
Sontak Davina berlari ingin menggapai tasnya,namun rasa sakit pada bawahnya lebih besar dan tangan Xavier menahan tubuhnya

"Kau tidak memerlukan itu" ucap Xavier

"Apa-apaan kau. Itu ada identitasku dan semua kartu bank" marah Davina

"Karena mulai sekarang. Kau akan tinggal disini. Bersamaku" jelas Xavier

"TIDAK!" Jerit Davina.
"Kau tidak bisa mengurungku disini. Aku punya kehidupanku sendiri!" Ucap Davina

"Hidupmu sudah berakhir!" Seru Xavier

Deg...

"Kau tak lebih berharga dari sampah di pinggir jalan,Davina Arabella Musadam" ucap Xavier tajam

Tess
Air mata Davina mengalir deras mendengan hinaan dari Xavier. Lengkap sudah,ia tak bisa berkutik lagi.
Ia memikirkan nasib adik dan Ibunya dirumah. Karena ia adalah tulang punggung keluarganya.

Davina hilang akal sehat ketika melihat foto-fotonya dengan Xavier diatas ranjang yang terkirim ke Nomor Ibunya dan sudah di baca.
Ia mencengkram kuat kerah baju Xavier

"Apa yang anda lakukan?!" Ucap Davina
Cengkraman itu makin kuat pada leher Xavier.

"Kau ingin membunuh Ibuku,Xavier? Oh atau ku harus panggil engkau. TUAN XAVIER?" Tegas Davina tanpa melepaskan kontak matanya dengan Xavier. Dapat dilihat jika Davina benar-benar kehilangan akal sehatnya

Tak tinggal diam. Xavier membalas dengan mencekik leher Davina dengan sangat keras,hingga Davina kesulitan bernafas.

"Jangan melawan!" Ucap Xavier tajam,ia melempar tubuh Davina hingga memecahkan lemari. Davinapun bangkit dan mencoba melawan Xavier. Tapi sayang,badannya tidak sekuat itu karena darah yang keluar cukup banyak dari bahunya.

Xavier keluar kamar dan datang pelayannya,kemudian segera mengobati Davina.

"Dia itu siapa?" Tanya Davina pada maid.namun tak mendapat jawaban apapun.

Sudah hampir bulan Davina ada di Apartement Xavier dengan penjagaan yang cukup ketat. Dan juga hampir setiap hari Davina melayani Xavier,yang seperti sangat haus akan sex. Tak hanya melakukan itu,Davina mencoba untuk tetap biasa saja melalukan kesehariannya. Seperti memasak,membersihkan Apartement,dan kegiatan rumah tangga lainnya. Karna pada dasarnya,Davina adalah seseorang yang sangat rajin dan serba bisa.

Sampai waktu itupun tiba,Davina diajak ke sebuah pusat keramaian. Dan Xavier meninggalkannya begitu saja,tanpa memberitau dan mengembalikan ponsel serta dompet Davina. Menjadikannya seseorang yang benar-benar linglung.

"Xavier.... dimana kau? Jangan tinggalkan aku..." panik Davina mencari Xavier kesana kemari.

Ia terhenti pada 1 titik bahu jalan.
Mengapa aku sangat bodoh?
Lagi-lagi aku mengalami ini!
Kenapa aku sangat bodoh!

Batin Davina.
Ya! Seharusnya ia sadar bahwa Xavier telah puas memakainya dan sudah membuangnya begitu saja.

Apa yang akan aku lalukan?
Selanjutnya bagaimana?

Pertanyaan itu terus berputar di fikiran Davina.

Ia tak mungkin kembali kerumah orang tuanya,karena sudah 1 bulan lebih ia tak pulang. Ditambah foto yang dikirim Xavier saat itu. Bahkan Ia berfikir jika Ibunya telah tiada melihat semua itu.

"Apakah kau tersesat?" Tanya seseorang. Davina terkejut dan menatap ke arahnya.

Bersambung....

Enjoy guys!

DANGEROUS DADDY  [21+]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang