Pengakuan

3.4K 133 7
                                        

Hari ini,kantor libur. Davina memilih untuk istirahat dan bermalas-malasan dikasurnya. Entahlah, saat ini dia tidak ingin melalukan sesuatu.

Ponselnya sedari tadi berbunyi. Namun diabaikan oleh Davina,ia benar-benar tidak ingin ada interaksi dengan orang lain.

Bell Apartementnya bunyi, ia berdecak sebal. Dengan pakaian kaos oversize dan celana pendek serta rambut di cepol asal,ia membuka pintunya. Ia fikir ini adalah kurir antar makanannya, untuk apa bersiap.

"Kk..kau" panik Davina dan menutup pintunya dengan cepat. Tapi Xa tidak kalah cepat. Ia sudah berhasil masuk ke dalam

"Sangat tidak sopan!" Jerit Davina.

Xa langsung duduk di sofa.dan memperhatikan sekeliling Apartment Davina yang dominan berwarna hitam.

"Maaf,saya sedang tidak terima tamu. Silahkan pergi" ucap Davina melipat tangan

Xa berdiri,dan berjalan menghampiri Davina. Davina tetap dengan wajah malas meresponnya
Dan kali ini ia sudah benar-benar muak  dan lelah!
Ia tak ingin menjatuhkan harga dirinya pada pria kejam ini.

Saat Xa ingin mencium,Davina langsung menahannya.
"Stop!" Henti Davina dengan wajah serius.

"Saya serius. Berapa yang harus di bayar si brengsek?"tanya Davina

"Sudah ku bilang.kau takkan sanggup bayar" jawab Xa dingin.

"Saya akan membayarnya! Dan jauhi saya!" Sengit Davina

Xa memcengkram rahang Davina dengan sangat emosi. Matanya saling beradu amarah. Davina menampar Xa dengan sekuat tenaga hingga tangannya sakit.

Tenaganya kali ini mampu membuat Xa bereaksi. Xa kembali menjambak Davina dan membantingnya ke lantai,ia menghimpit tubuh Davina di lantai,badan Xa menekan perut Davina dengan tangannya sekuat tenaga mencekik leher. Davina kewalahan dan  mulai sulit bernafas.

"Kau ingin membayarnya bukan?" Davina mengangguk cepat.
Xa malah menguatkan cengkramannya pada leher Davina.

"Hanya nyawa yang dapat membayarnya" mata Davina membelak.

"Hhh....Mmaksudnya" tanya Davina. Tangannya memegang tangan Xa yang masih mencekiknya dengan kuat

"Lllepashhh..Aakk" ucap Davina terbata

"Milo telah kehilangan Mommynya karena Si Bajingan itu membunuhnya"

"Seluruh hidupmu takkan mampu membayar nyawanya!" Amarah Xa memuncak mengingat kejadian  itu.

Davina mulai batuk-batuk. Dadanya sudah sangat terasa sesak,ulu hatinya kembali sakit.karna tubuh Xa menekannya kuat, Pengelihatannya mulai kabur. Tangannya masih menepuk Xa walau perlahan.

"Ambilah nyawaku" lirih perlah Davina disisa nafasnya.
Matanya menutup sempurna...

Xa langsung melepaskan tangannya. Ia sadar jika Davina sudah tidak bernafas. Ia mengecek denyut nadi Davina yang melemah. Dan langsung membawanya ke rumah sakit.

"Silahkan tanda tangan perjanjian. Jika kami tidak bertanggung jawab akan resiko yang terjadi pada saat tindakan berjalan" ucap Dokter.
Xa menatap surah itu,dan menandatanganinya.

Ia bersandar pada dindng rumah sakit. Apa kiranya tindakan yang harus dilalukan Dokter hingga ia harus tanda tangan surat itu?.

Ponselnya berdering panggilan dari Milo

"Dad...." tangis Milo sangat kencang.

"Ada apa,nak" panik Xa bertambah

"Can you stop?"  Tanya anak itu. Xa sangat bingung dibuatnya.

DANGEROUS DADDY  [21+]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang