Dengan sangat tergesa-gesa Davina memasuki ruangan rapatnya dan mempersiapkan materi serta dirinya sendiri untuk rapat besar kali ini..
Setelah menjabarkan seluruh materinya dengan sangat baik. Banyak pertanyaan dan masukan untukku dari para audience. Ia terlalu fokus pada client dan juga para pimpinan, yang sangat aktif. Kemampuannya sangat diuji kali ini.
"Hufttt...akhirnya selesai"
Wanita ini merapikan pakaian dan sedikit membenahi riasan wajahnya di toilet.
Davina terkejut ketika mendengar tepukan tangan dari belakangnya segera ia membalikan badan.
"Materi yang sangat bagus,Davina" pujinya
"Xa..vi.." gugup Davina pelan
Xa mendeket kearahnya.
Davina menenangkan dirinya,mengatur nafas dan raut wajahnya. Dibuat sesantai mungkin
"Terimakasih" jawab Davina
Xa menyibak anak rambut Davina,dan nenatap tajam kearahnya.
"Kemana saja,jalang?" Bisik Xa
"Maaf,saya permisi!" singkat Davina dan segera membereskan alat makeupnya.
"Apa yang kau berikan pada Bossmu? Hingga dapat bekerja disini?" Tanya Xa lagi.
Tahan,Dav
Ini sudah berakhir!
"Tidak ada. Saya permisi" tubuh Davina di dorong hingga terpojok. Xa menghimpitnya kembali
"Saya rasa sudah tidak ada yang dibahas. Saya ingin kembali bekerj..Akhh!" Cetus Davina
Bugh..
Kepala Davina dibentur cukup keras,membuatnya meringis sakit.
"Ku bantu kau agar ingat" ucap Xa dengan tangannya yang menjambak rambut Davina
"Tolong lepaskan!" Rintih Davina kesakitan
"Kau masih lupa rupanya" senyum Xa ketika hendak membenturkan kepala Davina kembali
"Ya!"cegah Davina
"Saya tidak akan pernah melupakan itu. Tuan Xavier.dan perlu kau ketahui, Saya tidak pernah menjual atau menjajakan tubuh saya pada siapun dan untuk alasan apapun!" Ucap Davina tenang. Tangan Xa dilepaskannya dengan paksa
"Lagi pula,we are adult,dan Itu bukan hal yang akan menghancurkanku. Lihat!Saya masih tetap hidup!" Jawabnya lagi. Membuat Xa terdiam.
"Saya rasa dari awal kita tidak memiliki hubungan ataupun memori yang patut diingat. Sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Saya ingin kembali bekerja,selamat siang!" Davina pergi meninggalkan toilet dengan perasaan campur aduk dan menata rambutnya kembali yang sangat berantakan.
Detak jantungnya kembali tak karuan dibuat Xa. Ia memasuki ruangannya dan langsung duduk sambil berusaha menelan air minumnya.
"Are u okay?" Tanya Lydia
Davina hanya mengangguk dan memegang kepalanya yang kini terasa berdenyut
"What's wrong,Dav" panik Lydia melihat darah mengalir cukup banyak dari hidung Davina.
"Gapapa kok" tekan Davina menepis bantuan dari Lydia.walau Kepalanya sangat pusing.
Davina malah lanjut membuka Laptopnya dan mengerjaian tugas dan merevisi beberapa bab yang tadi di bahas. Lydia menatap bingung padanya.
Davina Absen pulang dengan secepat kilat. Ia berjalan menuju basement untuk mengambil mobil dan segera pulang. Kepalanya masih sangat pening.
Ia berkali-kali menekan kunci mobilnya namun tidak terbuka. Mencoba manualpun juga tidak bisa. Ia cek kembali ternyata kuncinya salah.
Ini bukan kunci mobilnya!
"Mencari ini? Jalang?" Senyum Xa seraya mengeluarkan kunci dari sakunya.
"Kembalikan!" Davina mencoba meraih kunci itu.
"Kau fikir bisa kabur untuk kedua kalinya?" Tanya Xa.
Davina tertawa sumbang
"Kabur? Ahahah,lucu sekali!"
"Kau yang meninggalkanku,Xa" sambung Davina.
Bughh..
Tumbuh Davina limbun ke tanah,Xa menaparnya cukup keras.
"Kau yang berlari dan menjauh. Menghampiri polisi dan memintanya bantuan" marah Xa
Davina dengan susah payah bangkit. Dan ingin mengambil kuncinya. Namun sayang,tangan kanannya di cengkram dengan sangat kasar oleh Xa. Membuatnya kembali meringis kesakitan.
"Aku sendirian seperti orang bodoh yang dibuang olehmu. Linglung dikeramaian,mencarimu dan meneriaki namamu,kau pergi entah kemana,Xa"jerit Davina frustasi.
Cengkraman Xa melemah,Davina langsung mengambil kuncinya dan membuka mobil secepat mungkin dan langsung masuk serta menguncinya dari dalam.
Davina sudah tidak tahan lagi. Ia menangis sekencangnya. Merasakan sakit pada kepala,tangan dan juga batinya. Batinnya sangat tersiksa dan terluka menerima semua perlakuan Xa terhadap dirinya.
Ia melajukan mobilnya dan meninggalkan Xa yang memanggilnya.
Ia pergi menjauh,sejauh mungkin dari apartementnya. Sambil terus menangis, pikirannya sangat kacau,
Hujan turun sangat deras beserta petir dan angin yang kencang. Suasana sangat mendukung Davina untuk kalut dalam kehancuran
Bagaimana ini selanjutnya!
Aku harus apa?
Tangisnya kian pecah saat mengingat Ibu dan Adiknya. Terbawa sendiri pada rumahnya,Ia parkir didepan rumah Mamanya,sambil memandang iba.
Ma,Davina rindu Mama.
Ma,kita sangat dekat padahal. Tapi masih sudi kah kau melihatku,Ma.
Ma,disini sangat dingin dan kejam.
Tanpamu.
Aku harus apa lagi,Ma?
Inikah hukuman untukku?
Mama,ini sangat sakit.
Aku tidak bohong.
Berkali-kali ia membenturkan kepalanya pada stir mobil.
Menatap ponselnya dan nomor ibunya. Rasanya ingin sekali menelfon,mendengar suaranya.
Namun sangat tidak mungkin.
Ia turun dari mobilnya. Berdiri di depan pagar rumahnya,sambil menatap ke pintu. Berharap Mamanya keluar dari sana lalu menghampiri dan memeluknya.
Ma,sekali saja!
Keluar dan peluk aku.
Hujan membasahinya,dingin menusuk kulit hingga ke tulang. Dengan gemetar ia berjalan ke mobilnya,matanya masih menatap pintu rumahnya dengan nanar.
Kepalanya bertambah pusing,dan jantunya berbedar dengan sangat kencang. Dadanya terasa sangat sesak.
Davina memperkuat pegangannya pada pintu mobil dan menepuk pelan dadanya.
Tubuhnya kembali limbun pada tanah dan derasnya hujan.
"Mam..."
"Wake up...
"are you still alive?"
Bersambung....
Udah lama banget ga nulis cerita,jadi masih kaku banget.
Enjoy!
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS DADDY [21+]
FantasyPengkhiatanan yang Davina terima sungguh sangat menyakitkan. Kekasihnya yang selama ini tega melakukan itu.Hal-hal diluar ekspetasinya membuat ia tak mengerti bagaimana kehidupannya yang telah hancur ini selanjutnya. Apalagi pertemuannya dengan Xavi...
![DANGEROUS DADDY [21+]](https://img.wattpad.com/cover/304998616-64-k581749.jpg)