Pertemuan yang Tak Terelakkan

285 24 4
                                        

​Minggu sore itu, semilir angin di taman kota terasa menyejukkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Minggu sore itu, semilir angin di taman kota terasa menyejukkan. Seungmin benar-benar menepati janjinya untuk membawa Giselle keluar dari kamar yang pengap oleh kesedihan. Di atas kain kotak-kotak yang mereka gelar, tumpukan roti lapis dan keripik kentang menjadi saksi bisu tawa tipis yang mulai kembali ke wajah Giselle.

​"kak Umin," panggil Giselle pelan, jemarinya memainkan ujung plastik kemasan camilan.

​"Apa? Akhirnya mau mengakui kalau aku lebih tampan dari Jeno?" potong Seungmin dengan gaya narsisnya yang khas.

​"Berhenti bercanda!" Giselle menyikut lengan Seungmin. "Aku serius. Bagaimana kabarmu dengan Karina? Haechan sedang gencar-gencarnya mendekati dia. Kalau kakak hanya diam, jangan menangis kalau dia direbut orang lain."

​"Seperti kamu yang menangis kemarin, maksudmu? Hahaha!" Tawa Seungmin meledak, mengundang tatapan dari beberapa pengunjung taman.

​"Boleh tidak sih aku menenggelamkan orang ini sekali saja?" batin Giselle gemas. Namun, di tengah tawa itu, Seungmin mendadak menatap lurus ke arah danau. "Lalu, kalau suatu saat aku tiba-tiba tidak ada di sini lagi, apakah kau akan merindukanku?"

​"Memangnya kakak mau ke mana? Ke luar negeri?" tanya Giselle polos, yang hanya dijawab Seungmin dengan senyuman misterius sembari menyuapkan keripik kentang ke mulut gadis itu.

​Tepat saat suasana mulai mencair, sebuah suara yang sangat familiar menyapa dari arah belakang. Suara yang pernah didengar Giselle di tengah aroma kuah bakso beberapa waktu lalu.
​"Loh, Seungmin? Sedang apa di sini?"

​Jantung Giselle seolah merosot ke perut. Ia menoleh perlahan dan mendapati Nancy berdiri di sana. Gadis itu tampak sangat anggun, jauh lebih nyata dan cantik daripada saat dilihat dari belakang di warung bakso tempo hari.

​Nancy menatap Giselle, keningnya berkerut halus seolah mencoba mengingat sesuatu. "Eh? Wajahmu... sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat?"

​Giselle membeku. Ia teringat momen di warung bakso saat ia hampir ketahuan menguping. "Ah... itu... mungkin hanya perasaan Kakak saja. Kakak kan populer, wajar jika banyak orang yang merasa familiar," jawab Giselle dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba bersikap setenang mungkin.

​"Begitukah?" Nancy masih menatapnya penuh selidik. "Siapa namamu?"

​"Giselle."

​Mendengar nama itu, raut wajah Nancy berubah drastis dalam sekejap. Matanya menyipit tajam. "Giselle? 'Gis'?" Nancy melangkah maju satu tindak, tatapannya kini berubah menjadi penuh permusuhan. "Jangan-jangan... kamu adalah gadis yang disebut-sebut Jeno saat kami putus waktu itu? Kamu alasan dia mengabaikan aku di hari-hari terakhir kami?"

RUANG ANTARA KITA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang