Persimpangan Takdir di Tengah Badai

220 32 2
                                        

​Malam itu, sirkuit balap lama tampak seperti raksasa yang tertidur dalam kegelapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Malam itu, sirkuit balap lama tampak seperti raksasa yang tertidur dalam kegelapan. Udara dingin yang lembap sisa hujan sore tadi menusuk hingga ke tulang. Jeno dan Seungmin melangkah hati-hati di antara puing-puing bangunan, berusaha tidak menimbulkan suara di area yang seharusnya sudah tertutup bagi publik ini.

​"Gila, Jen. Suasana di sini lebih horor daripada film pemanggilan arwah," bisik Seungmin sambil merapatkan jaketnya, matanya waspada menyapu sekeliling.

​"Fokus, Min. Bukti itu ada di dalam sana, dan itu satu-satunya cara untuk membersihkan namaku," balas Jeno dengan nada rendah namun penuh tekad.

​Tiba-tiba, sebuah suara santai membelah kesunyian dari arah tribun yang gelap.

​"Kalian sedang melakukan uji nyali, ya?"

​Jeno dan Seungmin tersentak hebat, hampir meloncat dari posisi mereka. Dari balik bayangan pilar, muncul Haechan dengan tangan di saku celana dan senyum khasnya yang menyebalkan.

​"Haechan? Apa yang kau lakukan sendirian di tempat terpencil begini?" tanya Jeno, mengatur napasnya yang sempat tertahan.

​Haechan mendongak, menatap langit malam yang kelabu. "Hanya mencari ketenangan. Rumahku sedang berisik seperti pasar malam. Di sini lebih baik untuk melihat bintang, meski tertutup awan."

​"Kau benar-benar aneh, Chan," sindir Seungmin ketus.

​"Lalu, kalian sendiri? Mau balapan tengah malam?" tanya Haechan dengan tatapan menyelidik.

​Jeno memutuskan untuk tidak membuang waktu. "Kau tahu di mana ruang kendali CCTV yang lama?"

​Haechan menunjuk ke arah pintu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan ban bekas. "Di sana. Pintu belakang ruang keamanan. Tapi aku tidak menjamin sistemnya masih menyala."

​"Terima kasih, Chan. Berhati-hatilah dengan bintangmu," ujar Jeno menepuk bahu sahabatnya itu sebelum bergegas masuk diikuti Seungmin.

​Di dalam ruangan yang berdebu dan berbau apek, Seungmin segera bekerja. Jari-jarinya menari di atas keyboard usang yang berderit. Butuh waktu lama dan beberapa kali kegagalan koneksi, hingga akhirnya monitor tua itu berkedip, menampilkan folder bertahun 2018.

​"Dapat!" seru Seungmin pelan. Jeno menahan napas saat melihat rekaman video hitam putih itu tersalin ke dalam flashdisk-nya. Bukti itu kini ada di tangannya. Kebenaran tentang kecelakaan Kak Mark sudah berada dalam genggamannya.

​Setelah mengantar Seungmin pulang, Jeno melajukan motornya menuju rumah dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Ia berencana mengirimkan pesan pada Giselle besok pagi untuk mengajaknya bertemu. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan gerbang rumahnya.

​Seorang gadis berdiri di sana, gemetar di bawah lampu jalan yang temaram. Itu Nancy. Wajahnya sembap, matanya merah karena tangis yang seolah tak kunjung usai.

​"Nancy? Ada apa? Kenapa kau di sini?" Jeno bergegas menghampiri dan memegang bahu gadis itu.

​Nancy langsung menghambur ke pelukan Jeno, tangisnya pecah seketika. "Jeno... orang tuaku... pesawat yang mereka tumpangi kecelakaan," isaknya pilu. "Asisten Papa baru saja menelepon. Mereka tidak selamat, Jeno. Mereka pergi..."

​Tubuh Jeno membeku. Rasa dingin yang lebih hebat dari udara malam menyergapnya. Semua rencana tentang Giselle, bukti CCTV, dan penjelasan masa lalu seketika menguap, tergantikan oleh rasa iba yang menghancurkan hati. Ia membalas pelukan Nancy erat, mencoba memberikan kekuatan pada satu-satunya orang yang telah bersamanya sejak kecil.

​"Tenanglah, Nancy. Masuk dulu ke dalam, tenangkan dirimu," ucap Jeno lembut sembari memapah Nancy yang nyaris tak sanggup berdiri.

​Di ruang tamu, setelah isaknya sedikit mereda, Nancy menatap Jeno dengan tatapan yang hancur. "Besok... maukah kau menemaniku ke Amerika? Aku harus menjemput mereka, Jeno. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di sana. Tolong... aku tidak bisa melakukan ini sendirian."

​Jeno tertegun. Dilema hebat menghantam dadanya. Besok adalah hari di mana ia seharusnya bertemu Giselle. Besok adalah hari ia seharusnya membuktikan cintanya.

​"Nancy, aku—"

​"Aku mohon, Jeno. Hanya kamu yang tersisa bagiku," pinta Nancy putus asa, menggenggam tangan Jeno dengan sisa kekuatannya.

​Jeno menatap wajah Nancy yang hancur. Rasa tanggung jawab sebagai teman masa kecil dan satu-satunya sandaran bagi gadis yang baru kehilangan dunianya itu menang atas segalanya. "Baiklah," bisik Jeno akhirnya. "Besok kita berangkat. Istirahatlah di sini malam ini."

​Setelah Nancy tertidur di kamar tamu, Jeno duduk di teras dengan ponsel di tangan. Ia mengirim pesan pada Seungmin.

Jeno: Min, aku ke Amerika besok.

Seungmin: Apa?! Untuk apa?

Jeno: Orang tua Nancy meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dia hancur, Min. Aku tidak bisa membiarkannya pergi sendiri.

Seungmin: Lalu bagaimana dengan Giselle? Kau tidak akan menjelaskannya dulu?

​Jeno menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin berlari ke rumah Giselle sekarang juga, namun waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Memberitahunya lewat pesan singkat tentang rahasia sebesar ini terasa tidak pantas, apalagi di tengah duka Nancy yang sedang tidur di dalam rumahnya.

Jeno: Aku tidak bisa mengganggunya jam segini. Dan aku tidak bisa meninggalkan Nancy dalam kondisi seperti ini. Tolong... jaga dia untukku sementara waktu.

Seungmin: Lakukan yang terbaik, Jen. Turut berdukacita. Hati-hati di jalan.

​Jeno meletakkan ponselnya, menatap langit yang mulai memucat. Bukti kebenaran itu tersimpan rapi di saku jaketnya, namun takdir seolah sengaja memisahkan jarak antara dirinya dan Giselle. Ia pergi bukan karena perasaannya pada Nancy kembali, tapi karena sebuah kewajiban moral yang tak bisa ia abaikan.

​Di bawah langit fajar yang sunyi, Jeno hanya bisa berharap bahwa saat ia kembali nanti, pintu hati Giselle belum tertutup sepenuhnya untuknya.

RUANG ANTARA KITA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang