Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga: Jeno dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga bulan telah berlalu sejak badai malam itu membawa Jeno pergi tanpa sepatah kata pun. Waktu perlahan menyapu sisa-sisa kesedihan di wajah Giselle, menggantinya dengan rutinitas sekolah yang padat. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, bayangan pria itu masih sering muncul, seperti melodi lagu lama yang enggan terlupakan. Kini, seluruh atensi sekolah tersedot pada persiapan Ujian Akhir Sekolah yang tinggal menghitung hari.
Giselle duduk di sudut kantin yang riuh, keningnya berkerut dalam saat jemarinya menelusuri barisan kalimat di buku Biologi. Ia begitu larut hingga tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.
"Heh!"
Giselle tersentak, bahunya terangkat kaget. "Astaga! Mengagetkan saja sih, Kak Umin!" protesnya sembari mengerucutkan bibir pada Seungmin. Hubungan mereka telah tumbuh begitu akrab selama tiga bulan ini, layaknya saudara kandung yang hobi saling melempar ejekan.
"Aku membawa kabar gembira yang akan membuat konsentrasimu buyar seketika," ujar Seungmin dengan mata yang berkilat jenaka.
"Kabar apa? Kalau soal kisi-kisi ujian, aku sudah punya," balas Giselle, kembali menunduk ke bukunya tanpa minat.
"Jeno kembali besok."
Kalimat singkat itu seketika membuat dunia Giselle berhenti berputar. Ia mendongak cepat, matanya membulat sempurna. "Apa? Kakak serius?!"
Tanpa sadar, saking meluapnya rasa bahagia yang tertahan selama tiga bulan, Giselle langsung menghambur memeluk Seungmin erat. "Terima kasih, Umin! Terima kasih sudah memberi tahu!"
"Ekhm... Tolong ya, dunia tidak hanya milik kalian berdua," suara cibir Karina tiba-tiba terdengar. Gadis itu melintas di depan mereka dengan nampan makan siang, menatap keduanya dengan pandangan menggoda. "Kasihanilah jomblo yang sedang lapar ini," lanjutnya sembari melengos pergi dengan gaya angkuh yang dibuat-buat.
Seungmin tertawa kecil sembari melepaskan pelukan Giselle. "Cie, lihat itu. Gebetanku sepertinya cemburu."
"Biarkan saja. Kemarin juga aku melihatnya asyik jalan berdua dengan Haechan di toko buku," balas Giselle jahil. "Makanya, cepat resmikan hubunganmu, kak. Jangan sampai ditikung orang lain."
Seungmin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya sedikit memerah. "Maunya begitu, tapi aku belum siap kalau harus berakhir dengan penolakan."
"Ungkapkan saja dulu. Masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan. Yang penting hatimu lega karena sudah jujur," desak Giselle, yang kini telah berevolusi menjadi penasihat cinta pribadi Seungmin.
"Nanti saja, aku masih punya urusan lain," Seungmin mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau pulang sekolah kita ke kafe? Kita belajar bersama untuk ujian."
"Belajar atau mau curhat lagi?" goda Giselle sembari tertawa. "Tapi ajak temanmu yang suaranya sangat berat itu ya, si Felix. Supaya aku tidak jadi obat nyamuk di antara kalian."
"Siap, Tuan Putri!"
Sesuai rencana, sore itu Giselle, Seungmin, dan Karina sudah berkumpul di sebuah kafe estetik dekat rumah Karina. Seungmin benar-benar menepati janjinya membawa Felix, teman mereka yang memiliki suara deep namun bertingkah sangat ceria.
Tumpukan buku sudah tersaji di atas meja kayu yang wangi aroma kopi. Namun, tiga puluh menit telah berlalu dan tak satu pun soal latihan yang tersentuh tinta pulpen.
"Tolong ya, teman-teman!" Seungmin menggerutu frustrasi, menatap Karina dan Felix yang malah sibuk berpose di depan kamera ponsel. "Katanya mau belajar! Ini malah sesi pemotretan mandiri! Aku sudah menganggur di sini selama tiga puluh menit dua belas detik tepat!"
"Hehe, maaf ya, Min. Habisnya tempat ini terlalu estetik untuk diabaikan," sahut Felix dengan gaya slay yang menjadi ciri khasnya. "Lagipula, wajah ulzzang sepertiku ini butuh asupan konten baru."
Seungmin hanya bisa menepuk dahi, menyesali keputusannya memilih tempat yang terlalu indah ini sebagai lokasi belajar. Ia menatap Giselle yang juga mulai kehilangan fokus.
"Eh, sudah-sudah! Ayo mulai belajarnya. Hari sudah semakin sore," ujar Giselle akhirnya, mencoba mengambil pensilnya kembali meski perhatiannya terpecah.
"Santai saja, Gis," balas Felix tanpa dosa, sembari kembali mengarahkan kamera ke arah Karina yang sedang berpose cantik di sudut ruangan yang instagenic.
Giselle dan Seungmin hanya bisa bertukar pandang penuh kepasrahan. Sesi belajar mereka berubah total menjadi sesi foto bersama. Di balik tawanya sore itu, jantung Giselle berdebar lebih kencang dari biasanya. Jeno akan kembali besok, dan ia sadar, ia sama sekali belum siap menghadapi UAS apalagi menghadapi pria yang telah menghilang dari hidupnya selama seratus hari terakhir itu.