Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga: Jeno dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senin pagi di SMA Harapan Bangsa terasa lebih riuh dari biasanya. Giselle melangkah menyusuri koridor dengan sisa-sisa kegelisahan dari pertemuan tak terduga dengan Nancy kemarin. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar, hingga ia mendapati Seungmin sedang bersandar santai di dekat mading sekolah.
"Umin! Kamu harus menjelaskan ini padaku!" seru Giselle tanpa basa-basi. "Bagaimana bisa kamu terlihat setenang itu saat tahu Karina resmi jadian dengan Haechan? Bukankah kamu... menyukainya?"
Seungmin menoleh, lalu tawanya pecah seketika hingga membuat beberapa siswa yang lewat melirik heran. "Memangnya aku harus menangis tujuh hari tujuh malam?"
"Eh? Kamu kan selalu menempel padanya!"
"Giselle, dengar ya," Seungmin mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Karina itu adik sepupuku. Kalau aku sampai menyukainya, Ibuku pasti akan menggeprekku sampai halus dan menyajikannya di meja makan!"
"APA?!" Giselle membeku. Rasanya seperti baru saja terkena serangan jantung kedua. Setelah dikejutkan oleh kabar kencan Karina-Haechan, kini ia dihadapkan pada plot twist silsilah keluarga yang sama sekali tidak ia duga.
"Jangan pasang wajah bodoh begitu. Lihat, ada sesuatu di sudut matamu," goda Seungmin sembari mendekatkan wajahnya.
"Enak saja! Aku baru saja dari toilet, ya!"
"Sedang apa? Melakukan ritual pembersihan jiwa?"
"Bisakah otakmu dicuci sekali saja? Jorok sekali pikirannya!" Giselle mendengus kesal, mendorong bahu Seungmin menjauh.
"Hehe, bercanda. Oh iya," raut wajah Seungmin mendadak sedikit serius. "Jeno dan Nancy... mereka sudah benar-benar berakhir. Semalam mereka bicara jujur di depan kami semua."
Jantung Giselle berdenyut nyeri mendengar nama itu lagi. "Lalu... apa itu karena aku lagi? Aku merasa seperti akar dari semua masalah ini."
"Jangan terlalu percaya diri, anak cengeng," Seungmin menjawil hidung Giselle. "Nanti kalau kamu menangis lagi, akan kujodohkan kamu dengan Kak Younghoon supaya kalian bisa mengadakan kompetisi menangis berjamaah di malam pertama."
"Umin! Mulutmu itu benar-benar—"
"ASTAGA, KAK SEUNGMIN!"
Suara melengking itu muncul entah dari mana. Karina tiba-tiba sudah berdiri di sana, langsung menjewer telinga kakak sepupunya dengan tenaga penuh. Tak lupa, ia mendaratkan tamparan ringan di bibir Seungmin yang baru saja bicara melantur.
"Rasakan itu! Siapa suruh mengajari anak orang yang tidak benar!" Karina memarahi Seungmin habis-habisan.
"Heh, bocah! Kalau kamu berani padaku, aku tidak akan merestui hubunganmu dengan si Haechan itu!" ancam Seungmin sembari menatap tajam ke arah Haechan yang baru saja menyusul di belakang Karina. Haechan yang biasanya berisik, seketika menciut dan bersembunyi di balik punggung kekasihnya.
"Coba saja kalau berani! Akan kulaporkan pada Tante supaya kamu tidak diberi uang jajan dan dilarang keluar rumah!" balas Karina tak mau kalah.
Di tengah pertengkaran jenaka kakak-beradik sepupu itu, sebuah kehadiran yang kuat membuat suasana mendadak hening bagi Giselle. Jeno muncul dari belokan koridor, langkahnya tenang namun pasti, langsung menuju ke arah mereka.
"Hai," sapa Jeno. Ia berdiri tepat di depan Giselle, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan ada kerinduan namun juga rasa bersalah di sana.
"Kak Jeno?" Giselle merasa kakinya melemas. Binar di mata Jeno terlihat begitu tulus, kontras dengan sikap dinginnya saat pertama kali kembali dari Amerika.
"Hai, Giselle. Sudah lama ya kita tidak bicara seperti ini," ucap Jeno lembut, mengabaikan Seungmin dan Karina yang masih berdebat kecil di samping mereka.
Giselle berusaha mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. "Oh... hai juga, Kak Jeno."
Tepat saat Jeno hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang lebih dalam, Karina tiba-tiba menyela dengan nada yang dibuat-buat panik. "Eh, aku lupa, Gis! Tadi kamu dicari oleh Pak Chanyeol di Green House!"
"Ah? Pak Chanyeol? Sekarang?" Giselle bingung.
"Iya, mendesak katanya! Cepat ke sana sebelum beliau berubah pikiran!" Karina mendorong bahu Giselle menjauh.
Giselle, yang tidak ingin mencari masalah dengan guru, akhirnya bergegas pergi menuju kantor guru, meninggalkan Jeno yang hanya bisa menatap punggungnya dengan kecewa. Namun, saat melewati jalan setapak menuju Green House, langkah Giselle terhenti.
Di sana, ia melihat Pak Chanyeol sedang berdiri sendirian, tampak sangat serius berbicara dengan... pohon pisang yang sedang berbuah.
"Kapan kalian akan matang? Saya sudah tidak sabar ingin memakan kalian semua dengan selai cokelat," gumam Pak Chanyeol dengan nada sedih.
"Selamat siang, Pak," sapa Giselle ragu-ragu. Pak Chanyeol tersentak, menoleh dengan wajah sedikit malu. "Oh, selamat siang, Giselle. Kenapa kau di sini? Sebentar lagi jam istirahat berakhir."
"Kata Karina, Bapak mencari saya?" jawab Giselle polos.
Pak Chanyeol mengerutkan kening. "Justru Bapak yang sedang mencari Karina karena dia belum mengumpulkan tugas observasi tanaman. Kenapa dia malah bilang Bapak mencarimu?"
Giselle terdiam sesaat, lalu helaan napas panjang lolos dari bibirnya. "Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Nanti saya sampaikan pada Karina kalau Bapak sedang menagih tugasnya."
Giselle berjalan menjauh dengan perasaan dongkol yang meluap. "Karina benar-benar pembohong besar!" batinnya kesal. Ia sadar sepenuhnya bahwa Karina sengaja mengusirnya agar ia tidak perlu berurusan dengan Jeno.