Perasaanku campur aduk. Aku bukan anak kandung Ibu! Kecewa, karena Ibu merahasiakannya selama ini dariku. Marah pada diri sendiri karena selama ini selalu berburuk sangka bahkan jahat pada Bapak, dan tentu saja sedih, karena harus menerima kenyataan kalau keluarga ini tidak ada hubungan darah sama sekali denganku.
Namaku Sarifah Aprilia. Semua orang memanggilku Sari, padahal kalau boleh memilih, aku lebih suka di panggil Rifah. Tapi ya sudahlah, apalah arti sebuah nama panggilan. Yang penting tidak merugikan dan membahayakan orang lain, bukan?
Seperti kata Ibu saat aku kecil, nama ini di berikan sendiri oleh Ibu. Sarifah artinya adalah Bangsawan, masih kata Ibu, Ibu bilang nama belakang itu hanya sebagai penanda kalau aku lahir di bulan April awal. Tidak ada arti khusus maupun istimewa.
Mungkin Ibu sengaja memberikan nama Sarifah padaku dengan harapan kelak hidupku akan di limpahi kemuliaan. Walaupun pada kenyataannya di tubuhku sama sekali tidak ada keturunan ningrat, mungkin Ibu harap nama itu akan menjadi doa yang baik untukku.
Kembali ke awal, setelah mengetahui fakta bahwa kami tidak ada hubungan darah sama sekali, akhirnya ku paksa Ibu untuk bercerita lebih detail. Walaupun Ibu bilang semuanya sudah beliau sampaikan, entah kenapa aku masih belum puas. Banyak pertanyaan di dadaku, berharap salah satunya mendapatkan jawaban.
Dari sekian banyak rasa penasaranku, satu yang paling ingin ku tanyakan, Di mana wanita yang telah melahirkanku itu sekarang? Apa Ibu masih berhubungan dengannya? Apa wanita itu benar-benar memenuhi janjinya?
Tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan wajahnya perempuan tak tahu terima kasih itu. Seperti apa wajahnya? Apakah dia mirip sepertiku? Tapi melihat wajah sendu Ibu, aku tak sampai hati menanyakan nya. Biarlah, mungkin lebih baik aku tidak tahu saja. Luka lama Ibu pasti terbuka kembali seandainya aku nekat mengulik lebih dalam kisah masa laluku.
"Mau ikut Ibu jemput Bapak?"
ibu membuyarkan lamunanku. Ia bertanya dengan wajah adem seperti biasanya.
"Bapak maafin Sari nggak ya, Bu?"
Aku menunduk tak berani menatap. Tanganku memilin milin gamis biru Ibu.
"Bapak pasti ngerti. Sari nggak salah apa-apa."
Aku seketika mendongak di balas dengan anggukan Ibu yang mencoba meyakinkanku.
Gamang rasanya untuk berkata Iya. Apakah pertemuanku dengan Bapak ini sudah saatnya? Apa Bapak akan mau memaafkanku?
"Kalau Sari belum siap sekarang, mggak apa. Nanti di rumah juga ketemu."
Inilah Ibuku, yang paling tahu diriku. Kenapa bukan wanita mulia ini saja yang melahirkanku?
Aku mencoba tersenyum. Sejak mengetahui kebenaran asal usulku, entah kenapa tersenyum menjadi hal yang sangat sulit ku lakukan sekarang.
"Ibu sama siapa?"
"Sama Bulek. Ya sudah, Ibu berangkat. Kamu baik-baik di rumah."
Ibu mengecup keningku singkat lalu bergegas keluar rumah.
Ngomong-ngomong soal rumah, sampai saat ini kami masih tinggal di rumah Bulek. Belakangan baru aku tahu kalau Bulek adalah sepupu Ibu. Sementara rumahku, eh maksudku rumah Bapak dan Ibu saat ini masih di renovasi.
****
Suara bentor berhenti tepat di depan rumah Bulek. Di susul kemudian suara Ibu dan Bulek bersahutan. Dadaku terasa penuh, aku tak menyangka untuk bertemu Bapak rasanya akan seperti ini. Malu dan rasa bersalah menyelimuti kepalaku.
"Nduk ... Buka pintunya ...." teriak Ibu dari luar.
Pada akhirnya aku harus memaafkan diriku sendiri bukan? Sekarang atau nanti pertemuan ini akan terjadi. Siap tidak siap aku harus siap.
"Iya."
Sambil berjalan cepat ku
langkahkan kakiku ke arah pintu. Membuka kuncinya dan melebarkan daun pintu itu sehingga sinar matahari langsung menembus ke dalam.
Tak jauh dari tempat ku berada sekarang tengah berdiri dua wanita baik hati sedang mengapit Bapak yang terduduk di kursi roda.
"Bantuin Ibumu. Dorong kursi rodanya." Titah Bulek sambil mengangkat beberapa tas yang ku tebak adalah baju kotor dan selimut Bapak. Wanita berkulit sawo matang itu kemudian masuk ke rumah.
Aku yang sedari tadi fokus menatap Bapak terkesiap.
"Biar Sari yang dorong, Bu," ucapku sambil berjalan menghampiri mereka.
Ibu mengangguk. Wajah Ibu terlihat lebih sumringah dari biasanya. Sudah lama sekali aku tak melihat wajah Ibu seperti ini.
Aku lalu mendorong kursi roda itu pelan. Rumah Bulek yang lebih tinggi dari halamannya membuatku sedikit mengeluarkan tenaga agar kursi roda itu bisa masuk ke ruang tamu. Semua ini tak ada apa-apanya di banding pengorbanan Bapak selama ini buatku, Bukan?
"Bisa, Nduk?"
Aku menoleh mendengar pertanyaan Ibu yang terlihat khawatir.
"Bisa dong, Bu. Sari sedari kecil kan suka makan bayam. Kekuatan Sari sebelas dua belas sama popeye sekarang hehehe"
Ibu sontak tertawa mendengarnya. Sudah lama sekali aku tak mendengar tawa Ibu. Apa selama ini begitu berat beban yang beliau pikul? Sehingga untuk tertawa seperti ini saja susah.
Bulek memintaku membawa Bapak ke ruang tengah. Rupanya sepupu Ibu itu sudah menyiapkan kamar buat Bapak.
"Cak, sementara tinggal di sini ya. Rumah kalian masih di perbaiki."
Bulek berjongkok, wanita yang usianya mungkin sama dengan Ibu itu sedang berkomunikasi dengan Bapak.
Dari sudut mataku, kulihat Bapak merespon. Walaupun hanya dengan kedipan mata, aku yakin Bapak mendengar.
"Ya sudah. Aku mandi dulu ya, Mbak. Nanti kita gantian. Kalau Mbak Ridah mau makan atau Cak Arif juga mau makan, itu tadi aku beli kuah soto depan Rumah sakit. Nasinya ada di mejicom."
Bulek bangkit lalu berjalan ke arah kamarnya, kemudian keluar lagi sambil membawa handuk.
"Lan .... "
Panggil Ibu menghentikan langkah Bulek.
"Makasih banyak, Lan." lanjut Ibu mendekatinya. Dengan suara parau Ibu memeluk Bulek.
Bulek mengangguk dalam dekapan Ibu. Sambil tersenyum wanita itu menepuk punggung Ibuku. Hingga kemudian pelukan mereka merenggang lalu tubuh Bulek menghilang terhalang kamar mandi.
Kini tinggal kami bertiga. Sesaat hening. Kalimat demi kalimat yang tadinya sudah ku susun agar dapat minta maaf pada Bapak dengan lancar seolah buyar. Ambyar seketika saat bertemu langsung.
Dari pada sebelum kebakaran, penampilan Bapak lebih rapi sekarang. Rambutnya sudah pendek, kumisnya juga sudah rapi, tubuhnya juga terlihat lebih bersih, tapi wajah Bapak masih sedikit pucat dan tatapan matanya masih kosong.
Ibu memberikan segelas air putih pada lelaki yang juga suaminya itu. Dalam satu kali tegukan air putih itu langsung tandas. Ibu menoleh padaku sambil mengangkat alisnya. Seolah bertanya.
Aku berdehem mencoba tenang. Lalu dengan rasa gugup luar biasa aku berjongkok di depan Bapak, persis seperti yang di lakukan bulek tadi.
"Bapak makan ya? Biar Sari suapin." kataku pelan sambil mencoba menatap netra itu.
Bapak diam tak menyahut. Tatapannya kosong. Dia tak meresponku.
"Makan pakai nasi soto ya, Pak. Enak lho."
Ku raih kedua telapak tangan Bapak, membawanya ke sebelah pipiku.
Ku nikmati sensasi itu. Dadaku berdesir, mataku memanas, tubuhku tiba-tiba bergetar lalu tanpa ku sadari nafasku tersengal-sengal.
Aku mendongak berharap Bapak sedikit saja memberikan respon padaku. Entah itu dengan isyarat atau dengan kedipan mata, atau dengan makian, akan kuterima. Bukan dengan tatapan kosong seperti ini, bukan dengan rancauan seperti ini.
"Maafkan Sari, Pak. Maafkan Sari .... " Aku tersedu.
Akhirnya aku tak bisa lagi menahan sesak yang sedari tadi coba kutahan. Dengan nafas tersengal dan air mata yang luruh begitu saja, aku bersujud di kaki Bapak. Berharap Bapak tahu, aku menyesal, aku menyesal, aku mohon Bapak sudi memaafkanku, aku ingin berbakti padanya demi menebus semua kesalahanku. Aku ingin melihatnya sehat seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BENALU YANG TAK TERLIHAT(Tamat)
RomantiekAwalnya aku membencinya. Lelaki itu bagaikan Benalu di kehidupan kami. Tanpa kusangka sebuah rahasia terkuak dan pada akhirnya penyesalan yang aku rasakan. Aku tidak mengizinkan siapapun memplagiat tulisan ini!! Jangan lupa follow YESS Terimakasih
