Setelah hampir satu jam beristirahat, akhirnya aku bangkit. Rasanya sudah cukup aku beristirahat ternyata duduk terlalu lama bisa membuat bokong terasa kebas.
Aku berjalan perlahan ke arah kasir yang terletak cukup jauh dari tempat dudukku tadi. Memang aku sengaja memilih di pojok tadi biar tidak terlalu mencolok dan terlihat penghuni lain.
Sambil melangkah mataku ikut berkeliling melihat suasana cafe ini. Memang nyaman dan cocok sekali untuk nongkrong dan berkumpul rame-rame.
Argh...
Seumur hidup, seorang Sari ini sama sekali belum pernah merasakan yang namanya nongkrong bareng-bareng sama teman. Tidak ada waktu bagi seorang Sari ini untuk bersantai ria demi membahagiakan diri sendiri.
Dan ... teman? Siapa yang mau berteman denganku? Gadis ini terkenal jutek bin sombong seantero kampung.
Sedari kecil aku memang selalu membatasi diri dalam bergaul. Sengaja memang karena bagiku hidupku hanyalah untuk ibu. Aku terlalu takut berteman dengan anak-anak seusia karena aku selalu minder dan merasa tak punya apa-apa.
Kembali ke cafe ini, di depan kafe ini ternyata ada panggung kecil yang tadi tak kuperhatikan saat baru masuk. Di atas sebuah meja sederhana terdapat gitar yang tergeletak dan ada kursi tinggi di sebelahnya. Ada juga mikrofon yang bertengger di pojok panggung sehingga kalau saja aku tidak jeli mikrofon itu tidak akan terlihat olehku.
Aku semakin yakin bahwa pemilik dari cafe ini adalah orang yang punya darah seni atau orang yang sangat mencintai seni. Karena ternyata di sisi kanan kiri panggung banyak di pajang foto bernilai seni tinggi seperti hasil jepretan fotografer profesional.
Kembali ke panggung pertunjukkan. Panggung itu menghadap langsung arah pengunjung sehingga ketika ada orang yang sedang tampil penonton di depan langsung bisa menikmati sajian hiburan sekaligus menikmati waktu senggang.
Membayangkannya saja rasanya pasti seru, tapi ... hatiku tersenyum kecut. Lagi-lagi membentengi diri agar tidak mengharapkan sesuatu yang sulit di gapai meskipun itu hal yang sederhana seperti menikmati sajian musik di cafe cafe sepertu di cafe ini.
Setelah merasa cukup menikmati suasana cafe yang entah kapan lagi bisa ku rasakan aku segera mendekati kasir. Mas kasir yang ramah menyebut nominal yang harus kubayar kemudian aku berjalan keluar setelah menerima kembalian.
Saat kakiku sudah berada di parkiran rupanya matahari sudah meninggi. Dan tanpa menunggu waktu lama segera saja aku bergegas ke tempat tujuanku selanjutnya.
Pukul delapan tepat motorku sudah terparkir sempurna di depan sebuah Swalayan tujuanku. Swalayan bernama 'AINA SWALAYAN' ini sudah terlihat ramai dari luar. Banyaknya motor yang terparkir menjadi tanda bahwa ada pengunjung yang sedang berbelanja di sini.
Letak Swalayan ini sendiri berada di tengah-tengah komplek perumahan. Perumahan biasa, pinggiran, bukan seperti perumahan di kota-kota besar yang mewah.
Perumahan mewah masih sangatlah jarang di sini. Maklum, hidupku di daerah yang lumayan jauh dari kota besar.
"Pak, Supervisornya ada?" tanyaku langsung.
Aku sedang bertanya kepada seorang lelaki berkumis yang sedang duduk di samping pintu masuk. Lelaki berpakaian petugas keamanan itu tampak sekali menahan kantuk.
"Belum datang, Mbak," jawabnya setelah dia mampu menguasai diri. "Mau melamar kerja? "
Aku mengangguk cepat. Pak Satpam melihatku dengan tatapan heran. Penampilanku memang tidak seperti orang yang mau kerja. Aku hanya memakai atasan kaos yang kubalut dengan sweater hitam serta celana jeans yang bolong area dengkulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BENALU YANG TAK TERLIHAT(Tamat)
RomanceAwalnya aku membencinya. Lelaki itu bagaikan Benalu di kehidupan kami. Tanpa kusangka sebuah rahasia terkuak dan pada akhirnya penyesalan yang aku rasakan. Aku tidak mengizinkan siapapun memplagiat tulisan ini!! Jangan lupa follow YESS Terimakasih
