Hari masih sangat pagi. Lampu jalan masih menyala, langit masih gelap, udara masih dingin dan berkabut. Suara orang berdzikir di masjid masih terdengar bersahutan, tapi aku sudah berada di tengah jalan menembus keheningan pagi dengan melajukan motor secara pelan.
Ini adalah hari minggu, hari di mana para pekerja dan anak sekolah libur. Dua alasan yang bisa membuat jalan jalan menjadi sedikit lengang. Selama berkendara aku hanya sesekali berpapasan dengan ada motor lewat itupun mereka adalah para bakul sayur yang baru saja kulakan dan akan dijajakan ke pasar-pasar.
Semalam, Aku sudah berunding kembali dengan Ibu masih berusaha minta izin untuk bisa mencari kerja. Dan setelah merengek beberapa kali syukurnya ibu akhirnya setuju.
Awalnya, tentu saja Ibu keberatan. Tapi untung saja Bulek yang saat itu ikut dalam perundingan itu bisa meyakinkan hati ibu sehingga mengerti.
Dan dari perdebatan semalam aku semakin sadar betapa Ibu sayang padaku. Ternyata alasan ibu selama ini melarang dan rela bekerja serta membiarkan Bapak di jaga olehku adalah ibu terlalu khawatir.
Sepertinya ibu ada trauma yang baru aku mengerti.
"'Dia anak perempuan, Lan, aku tidak mau terjadi apa-apa padanya' ucap ibu semalam.
Motor yang kukendarai sudah cukup jauh dari tempat tinggal Bulek. Lampu-lampu jalan sudah dipadamkan, jalan yang kulintasi juga sudah mulai ramai oleh pengendara lain tetapi kabut masih muncul tipis-tipis karena sinar matahari belum muncul sempurna.
Rencananya hari ini aku akan melamar pekerjaan. Ada tiga tempat yang akan ku kunjungi karena aku mendapatkan informasi sedang membutuhkan karyawan.
Tempat yang pertama adalah di pasar. Pasar ini sudah ramai saat kakiku menginjak di sana. Dan aku langsung bertemu dengan Bosnya.
"Temannya Ali? " tanya seorang wanita padaku.
Aku mengangguk cepat. Wanita berusia sekitar lima puluhan itu memandangku sedikit berlebihan, menurutku.
"Kamu beneran mau kerja di sini? " Dia bertanya lagi.
"Iya, Bu." Apa aku terlihat seperti bocah yang sedang bermain-main?
Aku sudah se formal ini lho ...
Dia kembali memandangku bahkan sekarang seperti menelanjangi tubuhku.
"Ikut saya." serunya kemudian sambil melangkahkan kaki mendahuluiku.
Hatiku bersorak seketika. Walaupun tadinya sempat pesimis melihat bagaimana wanita tadi menyambutku tapi setidaknya ia langsung mengajakku ke tempat kerja.
Bayangan akan mendapatkan pekerjaan membuat dadaku berdebar tak sabar. Kemarin, Ali teman SMP_ku membuat pengumuman di grup sekolah, dia bilang ada lowongan kerja di pasar ini. Ali juga bilang pekerjaannya di mulai pukul empat sore dan berakhir jam sembilan malam. Jam di mana aku bisa meninggalkan Bapak.
"Kamu beneran tidak keberatan kerja seperti itu? "
Ucapan Bos wanita itu sontak membuat langkahku terhenti. Sekaligus membuyarkan lamunan tentang pekerjaan yang sebentar lagi akan kujalani.
Wanita yang memakai baju oversize itu memandangku lagi sekilas kemudian mengarahkan dagunya ke sebuah arah.
"Kalau menurut saya tidak cocok." katanya sekali lagi membuatku meringis.
Pemandangan di depan kini menjawab semua pertanyaanku. Pekerjaan yang sedang kulamar ini memang sama sekali tidak cocok untukku. Bagaimana tidak, apa aku sanggup memanggul beras berton ton seperti mereka?
Dalam hati aku menyumpahi Ali. Kenapa dia tidak menjelaskan secara rinci tentang lowongan kerja itu? Ah, salahku juga sih tidak menanyakan nya.
Hah, aku mendengkus perlahan sebelum akhirnya pamit ke wanita tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BENALU YANG TAK TERLIHAT(Tamat)
RomanceAwalnya aku membencinya. Lelaki itu bagaikan Benalu di kehidupan kami. Tanpa kusangka sebuah rahasia terkuak dan pada akhirnya penyesalan yang aku rasakan. Aku tidak mengizinkan siapapun memplagiat tulisan ini!! Jangan lupa follow YESS Terimakasih
