Part Fourteen

304 56 4
                                        

Mata Beomgyu terbuka. Dia lelah. Tapi sinar matahari yang menembus masuk ke matanya membuatnya terbangun dari tidurnya.

Tidur siangnya.

Beomgyu kembali mencium aroma rokok yang tersebar di udara. Beomgyu ingin memaki siapa pun yang membuang asap rokok mereka di depan wajah Beomgyu, tapi jika dilihat, di sekitar Beomgyu empat dari lima orang sedang merokok.

Beomgyu merasa dirinya lebih pendek satu senti. Kepalanya juga lebih ringan. Biasanya dia agak risih sama rambut panjangnya. Udah lama mau potong rambut tapi tidak sempat-sempat. Kali ini Beomgyu bangun tidak ada rambut yang kesana-kemari.

Sama seperti kemarin.

Beomgyu cepat-cepat bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kaca. Walaupun dia berharap wajahnya lah yang dia tatap, dia tau dia tidak akan melihat wajah ganteng seorang Lennon Beomgyu Asgard. Dia tau bahwa dia akan melihat seseorang yang lebih pendek satu senti darinya dengan potongan rambut jadul namun keren.

Entah siapa yang dia tatap, Beomgyu tidak tau. Untuk sekarang dia sedang berada di apartment yang begitu berantakan dengan kertas-kertas yang berisikan angka-angka dan bullshitnya. Yang Beomgyu tangkap hanya nama Albert Einstein dan The Theory of Relativity. Entahlah, Beomgyu tidak akan pernah fokus dengan hal yang beginian.

Dia terbangun dengan keadaan tidak mengenakan baju, hanya mengenakan celana kerja saja. Jika hari ini berjalan seperti mimpi buruk Beomgyu kemarin (although semakin lama Beomgyu semakin yakin kemarin bukanlah mimpi buruk), maka Beomgyu akan menghadapi masalah rasisme yang cukup crucial.

Beomgyu berjalan membuka lemari baju entah siapa lah ini dan mengenakan salah satu kemeja yang ada. Kemarin yang Beomgyu lakukan hanya teriak dan berjalan keluar sebentar dari apartment, mendapatkan tindakan rasis dari warga sekitar dan kembali ke apartment menguburkan wajahnya di bantal dan menangis hingga dia tertidur kembali dan terbangun sambil berjalan, kemudian di tuduh yang enggak-enggak oleh Sunwoo.

Beomgyu tidak sempat melihat sekitarannya. Beomgyu berjanji untuk menjelaskan semuanya pada kedua saudaranya, tapi mereka butuh bukti yang kuat dulu.

Jam tiga pagi sebelumnya

Beomgyu berada di mobil di kursi belakang sendirian sambil melihat jalanan yang menuju ke rumahnya. Hyunjae sedari tadi menatapinya dari kaca spion, sementara Sunwoo sedang menyandarkan kepalanya di kaca sambil tertidur.

Karena merasa risih dilihati oleh abang sulungnya, Beomgyu mulai buang muka dan kembali menatap jalanan. Masalahnya terkadang Beomgyu sering mengistirahatkan pandangannya di kaca spion tengah sehingga wajah sangar dan capek Hyunjae langsung kelihatan olehnya. Jika wajah supir kelihatan di kaca spion tengah ,maka kita kelihatan sama supir.

"Kenapa?" Tanya Hyunjae.

"Ntahlah, tadi siang gua bangun rasanya kayak mimpi. Mimpi buruk" jelas Beomgyu. Sunwoo mulai membuka matanya secara perlahan karena merasa cerita Beomgyu sedikit gossip worthy.
Mb

"Terus?" Tanya Hyunjae masih melihati Beomgyu dari kaca spion tengah.

"Ya mimpinya kayak real gitu. Gua jadi orang lain entah tinggal di mana-mana kaga tau gua. Mobilnya masih jadul terus gak banyak cewek yang pakai baju kerja" jelas Beomgyu.

Sunwoo langsung menegapkan kepalanya dan menatap lekat ke arah Beomgyu. Ceritanya sangat menarik.

"Gua takutnya gua mimpi hal yang sama. Gimana nih?" Lanjut Beomgyu sambil melihat kedua saudaranya dengan tatapan menyerah.

Flashback off.

Pertama, kata Sunwoo, cek kalender.

Beomgyu memutar kepalanya mencari kalender. Zaman sekarang siapa sih yang masih menggunakan kalender ketika ada kalender digital. Tapi 'orang' ini ada kalender di apartmentnya. Beomgyu berjalan pelan menuju tempat kalender tersebut ditempel.

The Gimmick | BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang