Welcome back guys jangan lupa vote + komen ya
Happy Reading
Pagi itu, koridor sekolah masih terasa lengang. Nika duduk menyendiri, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit ia menunggu, namun gerbang sekolah pun baru terbuka separuh. Sepertinya, semangatnya berangkat pagi ini sedikit berlebihan.
"Sudah sampai, Nik? Wah, rajin sekali," sapa Della yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Nika tersenyum canggung. "Iya nih, sepertinya aku kepagian."
"Biasanya bareng Lintang?" tanya Nika lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tinggal tadi. Kupikir aku sudah kesiangan, eh, ternyata malah kepagian," kekeh Della.
Satu per satu siswa mulai berdatangan, mengubah keheningan menjadi keriuhan khas pagi hari. Di tengah keramaian itu, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul: Kenzo. Seperti rutinitas tak tertulis, mata Nika langsung terkunci pada sosok itu. Ia hanya bisa mengagumi dari kejauhan, menyimpan rapat-rapat perasaan yang meletup-letup di dadanya.
Jam pelajaran pertama dimulai dengan olahraga. Hari itu, kelas 7C dijadwalkan praktik bola kasti di lapangan basket, berbagi area dengan kelas 9A yang juga sedang beraktivitas.
"Aku benar-benar tidak bisa main kasti, Del," bisik Nika ragu sambil merapikan seragamnya di loker.
"Sama, aku juga tidak bisa. Tapi hei, kita kan belum coba!" balas Della menyemangati.
Setelah pemanasan selesai, Pak Lukas mulai menjelaskan teknik memukul bola. Nika mendengarkan dengan jantung yang berdegup kencang. Dalam hati, ia merapal doa pendek: Tolong, jangan jadikan aku yang pertama.
Namun, semesta nampaknya sedang ingin bercanda. "Ayo Nika, kamu maju pertama! Jadilah contoh buat teman-temanmu," panggil Pak Lukas tegas.
Nika melangkah maju dengan kaki terasa seberat timah. Pak Lukas memberi instruksi terakhir, "Begitu peluit bunyi, pukul bolanya sejauh mungkin, lalu lari secepat kilat, ya!"
Nika mengangguk mantap, mencoba mengusir gugup. Apalagi, ia sadar Kenzo sedang duduk tak jauh dari sana.
Prittt!
Suara peluit melengking. Dengan penuh keyakinan dan tenaga ekstra, Nika mengayunkan tongkat pemukulnya sekuat tenaga. Wush! Merasa sudah melakukan pukulan hebat, ia langsung melempar tongkatnya ke samping dan berlari kencang bak atlet lari estafet.
Baru tiga langkah, suara peluit kembali melengking, kali ini berkali-kali. Pak Lukas menghentikan lari Nika.
"Ada apa, Pak? Pukulan saya kurang jauh?" tanya Nika polos, masih terengah-engah.
Pak Lukas tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Masih tanya ada apa? Nika, kamu itu baru memukul angin! Bolanya masih diam di tempat, tapi tongkatnya sudah kamu lempar sembarangan. Untung tidak kena kepala Dion!"
Seketika, tawa meledak di seluruh lapangan. Teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak, bahkan kakak kelas dari 9A pun tak sanggup menahan tawa. Nika mematung, wajahnya terasa panas membara hingga ke telinga.
Rasa malunya mencapai puncak saat ia melirik ke arah bangku penonton. Di sana, bukan hanya teman-temannya yang menertawakannya, tapi juga kakak kelas yang kebetulan sedang berada di lapangan yang sama.
"Duh, bumi, tolong telan aku sekarang juga. Malu sekali, rasanya ingin pulang!" gumam Nika dalam hati, sambil menunduk dalam-dalam berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat matang.
~~~
Suasana kelas mulai tenang, namun pikiran Nika justru berkecamuk. Di tengah langkah mereka menuju kantin, Della tiba-tiba menarik lengan Nika, berbisik dengan nada serius.
"Nik, ada yang ingin kubicarakan," ucap Della pelan.
"Ada apa? Kok serius sekali?" Nika menghentikan langkah, penasaran.
"Begini... tadi saat aku tidak di kelas, Lintang yang menggantikanku duduk di dekatmu, kan? Dia sempat bercerita padaku. Katanya, hari ini dia nekat menyatakan perasaannya pada Kenzo," jelas Della dengan mata melebar.
Jantung Nika serasa berhenti berdetak sesaat. "Hah? Dia benar-benar menyatakannya?" seru Nika kaget.
"Sssttt! Jangan keras-keras, nanti orangnya dengar," Della langsung memperingatkan sambil meletakkan telunjuk di bibir.
Nika hanya bisa mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan sesak di dadanya. "Ya sudah, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya," ucap Nika pasrah. Meski dalam hati ia meringis; ia sudah menduga Lintang yang percaya diri itu tidak akan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Nika, Della, Linda, Klara, dan Amel sudah berkumpul di kantin. Aroma bakso dan es jeruk yang segar biasanya menjadi penyemangat, namun kali ini suasana terasa hambar bagi Nika.
Tiba-tiba, Lintang muncul dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasa ceria kini tampak kusut, seolah seluruh energi dunianya telah tersedot habis.
"Kamu kenapa, Lin?" tanya Nika, berusaha tenang meski ia sudah tahu jawabannya.
Lintang menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kasar. "Sumpah, aku malu sekali. Aku... aku ditolak oleh Kenzo," ucapnya dengan suara serak.
"Tenang saja, Lin. Dunia belum kiamat. Masih banyak cowok lain di luar sana yang lebih oke," sahut Della santai, mencoba menghibur.
Namun, kalimat itu justru menjadi belati bagi hati Nika. Ia menunduk, menatap bayangan dirinya di permukaan air gelasnya.
“Lintang saja ditolak... padahal dia cantik, tinggi, dan badannya ideal begitu,” batin Nika berteriak perih. Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja. “Apalagi aku? Dengan tubuh gemuk begini, rasanya mustahil Kenzo akan melirikku. Harapanku benar-benar sudah mati sebelum tumbuh.”
"Nik? Hei, Nika? Kenapa melamun?" tanya Linda, menyenggol bahunya.
Nika tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak getir. "Eh? Ah, tidak apa-apa, kok. Aku cuma sedang berpikir... mau tambah kerupuk atau tidak," jawabnya berbohong, berusaha menyembunyikan retakan di hatinya
Terimakasih yang sudah baca cerita ini jangan lupa vote + komen and share ya
Dan jangan lupa follow Ig @nikenkrissanta & @mystoryy_1
NK
KAMU SEDANG MEMBACA
Mungkinkah Bersama? {SELESAI}
Fiksi RemajaTerimakasih telah datang menjadi bagian dari perjalanan ku Terimakasih untuk semua harapan dan goresan luka yang kau berikan Yuk langsung baca aja🤗 Cover by canva
