Welcome back guys!
Jangan lupa vote + komen and share
Happy Reading
"Pagi, teman-teman!" sapa Lintang saat melangkah masuk ke kelas. Wajahnya tampak berseri, seolah membawa sisa-sisa kebahagiaan dari hari kemarin ke dalam ruangan yang masih beraroma debu kapur itu.
"Pagi, Lintang!" sahut teman-teman yang lain serempak.
Linda, yang sudah tidak sabar sejak tadi, langsung memasang umpan. "Lin, kemarin aku kayak lihat kamu di swalayan. Itu beneran kamu, kan?" tanyanya dengan nada yang sengaja dibuat santai, meski matanya memicing penuh selidik.
Lintang meletakkan tasnya, lalu menoleh sambil tersenyum lebar. "Lho, kalau lihat kenapa nggak menyapa? Iya, kemarin aku di sana bareng Kenzo," jawabnya tanpa beban, seolah menyebut nama Kenzo adalah hal paling wajar di dunia.
"Oh... aku takut salah orang, makanya aku diam saja," ucap Linda sambil melirik Nika dari sudut matanya.
Nika tetap bergeming di kursinya, namun jemarinya meremas ujung seragam di bawah meja. Suara Lintang barusan terasa seperti palu yang menghantam dinding pertahanannya hingga hancur berkeping-keping. Ternyata benar. Bukan salah lihat, bukan sekadar mirip. Itu memang mereka.
Ternyata ditampar kenyataan itu rasanya jauh lebih perih daripada sekadar dibayangi ketakutan, batin Nika pahit.
Kamu memang naif, Nika. Berharap pada seseorang yang bahkan tidak melihatmu, sementara dia sudah menemukan dunianya pada sahabatmu sendiri.
"Nik? Kenapa melamun terus? Kesambet, ya?"Suara Della yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya mengejutkan Nika. Ia mengerjap, berusaha mengumpulkan kembali kepingan dirinya yang sempat tercecer.
"Hah? Nggak apa-apa kok, Del," elak Nika dengan senyum yang dipaksakan—sejenis senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
~~~
"Kemarin itu, sebenarnya aku yang sengaja ke supermarket setelah tahu Kenzo ada di sana. Begitu lihat dia, aku langsung meluncur mendekat," ujar Lintang dengan nada bicara yang sengaja dibuat tinggi, seolah sedang memamerkan sebuah kemenangan kecil.
"Halah, Lintang! Bicara saja muluk-muluk. Biasanya juga kalau sudah di depan orangnya, kamu mendadak hilang nyali," sahut Della dengan nada meledek.
Tawa pecah memenuhi sudut kelas, membuat wajah Lintang menekuk masam.
"Lihat saja nanti! Kalau aku sudah resmi mendapatkan Kenzo, kalian semua adalah orang pertama yang bakal aku ejek habis-habisan!" balas Lintang sengit sebelum berbalik arah dan melangkah pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan.
"Lho, kok malah baper? Sensitif sekali," Linda mengangkat bahu, mengabaikan drama kecil yang baru saja terjadi.
Namun bagi Nika, itu bukan sekadar drama. Itu adalah pengumuman perang yang dibungkus tawa. "Ternyata begini, ya, rasanya saat orang yang kita taksir juga menjadi incaran sahabat sendiri," gumam Nika, lebih kepada dirinya sendiri.
"Itu namanya risiko, Nik!" seru Klara tanpa menoleh dari ponselnya.
"Benar. Risiko bersaing dengan darah sendiri," tambah Nika. Sebuah senyum kecut tersungging di bibirnya, jenis senyum yang hanya muncul saat seseorang mencoba menertawakan luka mereka sendiri.
Dalam hati Nika bergejolak. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang ingin bertaruh hati jika lawannya adalah orang yang ia sayangi sebagai sahabat. Namun, takdir seolah sedang mempermainkan mereka, memaksa Nika berdiri di arena yang tidak pernah ia pilih. Entah sampai kapan ia akan terus menggenggam harapan yang kian meruncing ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mungkinkah Bersama? {SELESAI}
Ficção AdolescenteTerimakasih telah datang menjadi bagian dari perjalanan ku Terimakasih untuk semua harapan dan goresan luka yang kau berikan Yuk langsung baca aja🤗 Cover by canva
