Pengumuman

5 1 0
                                    
















































Maaf sebelumnya. Kali ini aku hanya akan bercerita, menjelaskan, dan menulis sedikit lebih banyak kalimat.
Sedikit curhat juga. Mungkin akan ada banyak kalimat yang terulang, tapi memiliki maksud yang lain. Mungkin juga memiliki maksud yang sama, tapi beda makna. Bagiku, itu tidak masalah.
Kalau merasa membosankan bisa skip aja.  Aku hanya ingin menjelaskan. Karena bagiku satu perbedaan kata bisa memengaruhi maksud yang ditujukan. Lebih mudah diucapkan daripada dituliskan. Karena tulisan, bisa membuat orang bingung, apalagi jika tidak suka membaca.

Tulisan ini dibuat untuk menciptakan sebuah karakter yang cocok dengan apa yang aku inginkan. Menuliskan poin-poin kehidupan dari awal sampai akhir. Tapi ternyata tidak sesuai realita. Jauh dari harapan, karena sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tulis disini.
Sebuah kisah harus memiliki akhir yang sesuai. Terserah mau memilih sad ending atau happy ending. Tapi sayangnya, karakter yang aku inginkan tidak bisa memiliki akhir yang baik. Hanya ada akhir yang menggantung. Dia ditakdirkan untuk tidak mendapatkan apa-apa. Meski begitu ia masih bisa mendapatkan cinta dari orang lain. Dia tidak memiliki peran yang sangat sangat besar, meski hanya peran kecil tapi memiliki posisi yang lebih penting.
Keberadaannya tidaklah berarti, tapi tanpanya, cerita tidak akan berjalan. Seperti itu kira-kira.

Jika begitu, dia tidak pantas mendapatkan peran sebagai tokoh utama. Tapi jika dia tidak menjadi tokoh utama, maka apa yang ingin aku ceritakan, apa yang ingin aku sampaikan tidak akan pernah terwujud.

Dulu aku pernah membuat sebuah kalimat pendek ketika sedang membuat outlain fiksi yang tidak jadi aku lanjutkan. Isinya
"Dia bukan tokoh utama, tapi dia layak menjadi tokoh utama"
Awalnya aku hanya bisa menangkap satu kalimat itu tanpa tahu penjelasan yang lebih panjang. Yang aku pikirkan hanyalah, aku ingin dia jadi tokoh utama, tapi ketika aku mulai menyusun cerita, selalu saja merasa salah. Tidak menemukan akhir yang tepat. Jika tidak menunjukkan detail cerita, akan ada banyak kisah yang janggal. Terlalu banyak bagian yang rancu.

Beberapa kali pernah ikut pembelajaran tentang menulis di grup wa. Aku suka saat itu, apalagi penjelasannya mudah dipahami dan diberikan beberapa contoh.
Jujur, aku gak begitu suka teori. Aku lebih suka penjelasan lalu praktek. Tapi, kalau langsung dikasih tugas aku juga gak suka. Intinya aku itu moody-an.

Awal mula, yang sering aku tonton pertama kali ada drakor, berlangsung selama satu tahunan. Dilanjut dengan anime, kira-kira tiga puluh bulan. Lalu belakangan ini lebih ke komik.

Dari cerpen, novel, film, drama, anime, dan komik. Aku lebih ngeh ke komik.
Dari novel dan film aku menyimpulkan bahwa inti dari cerita tersebut bisa dituliskan hanya dengan satu atau dua kalimat. Sedangkan drakor dan anime bisa di jabarkan lebih panjang tapi masih bisa di tangkap inti permasalahannya. Sedangkan komik, sebenarnya sama saja. Hanya saja, mungkin aku terlalu mendalami. Aku lebih dapat karakter dalam cerita komik.

Aku biasa baca komik di manga***n. Tema yang diangkat sama aja. Hanya ada dua jenis yang lebih sering aku baca. Yaitu kehidupan seorang CEO yang dominan dan istri yang lemah atau keras kepala. Kebanyakan termasuk time travel, hampir 80% nya seperti itu. Dan yang kedua adalah cerita yang berlatar historical, kerajaan China.  Aku tidak tahu semua yang aku baca itu hasil translate atau memang ada satu atau dua karya yang asli buatan tangan anak Indonesia. Memang hanya dua itu yang paling dominan.

Biasanya orang lebih sedikit memasukkan kisah dan pemikiran kehidupan nyata. Mungkin hanya 20% an maksimalnya dan sisanya hanyalah fiksi belaka.
Mungkin hanya drama Indonesia yang memiliki lebih banyak cerita non-fiksi. Coba kalian lihat, bener gak?
Cerita drama Indonesia ada yang bisa mencapai 70% diambil dari kehidupan sehari-hari dan selalu memiliki banyak episode.

Berbeda dengan film-film luar negeri yang menggali lebih banyak tentang keindahan dan keuntungan, sedangkan film Indonesia lebih ke pendekatan penduduk. Pengajaran sehari-hari.

Kurang lebih seperti itu pengantarnya. Selanjutnya akan di bahas secara terpisah di bagian yang berbeda.
Karena jika di satukan tidak akan menemukan kata yang tepat untuk menyambungkannya.

Sekian dan terima kasih.

Existence NotionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang