Sepertinya pria itu harus mulai belajar kesabaran tingkat tinggi dalam menghadapi sikap tunangannya. Sikap protektif, tukang ngatur, dan semena-mena Myungho sungguh membuat Jun muak.
Jika bukan karena dia menghargai kedua orangtua mereka, mungkin detik itu juga Jun akan langsung memutuskan untuk berpisah dengan Myungho.
"Lho kok kesini?" tanya Myungho usai Jun memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
"Tadi katanya mau makan." jawab Jun.
Myungho berdecak. "Ya enggak disini juga dong Jun. Kamu enggak lihat itu lingkungannya kayak gimana? Kotor gitu, pasti juga nanti banyak pengamen yang ganggu. Enggak ya kita enggak akan makan disini."
"Ya terus Lo maunya makan dimana?" seru Jun kesal.
"Restoran atau cafe banyak lho sekitar sini, ngapain kamu ngajak makan di tempat angkringan kayak gini sih." sahut Myungho.
Oke, Jun lagi-lagi harus bersabar. Dia akan menahan dirinya, dan kita lihat sampai kapan dia akan bersabar menghadapi Myungho. Tanpa banyak berucap, Jun kembali mengemudikan mobilnya menuju salah satu restoran yang ada disana.
"Kemarin kamu kemana aja, kok enggak ada kabar?" tanya Myungho memecah keheningan diantara mereka.
Jun tak mau menjawab, dia segera memarkirkan mobilnya begitu sampai disalah satu restoran yang ada disana. Jun segera turun meninggalkan Myungho sendirian didalam mobil, membuat gadis itu berdecak kesal.
Myungho lantas segera turun dan menyusul Jun, begitu sampai didalam restoran, seorang pramusaji wanita menghampiri Jun. Melihat itu, Myungho langsung merangkul lengan Jun posesif dan melayangkan tatapan tidak suka pada pramusaji itu.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanyaya dengan ramah, meskipun sangat terlihat jelas Myungho tak menyukai pramusaji itu.
"Reservasi untuk dua orang." jawab Jun tak mempedulikan Myungho yang sedang bergelayut manja memeluk lengannya.
"Privat." tambah Myungho cepat.
Pramusaji itu tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, mari saya antar." ujarnya ramah.
Jun dan Myungho berjalan mengikuti pramusaji tadi. Sesekali Myungho melihat ke arah Jun yang sepertinya fokus memperhatikan pergerakan bokong pramusaji didepannya. Myungho tidak bodoh untuk mengetahui arah pandang tunangannya itu.
Gadis itu langsung meraih dagu Jun dan mengarahkannya padanya. "Jangan genit!"
Jun mendengus dan menepis tangan Myungho dari dagunya.
"Silakan." ucap pramusaji itu mempersilakan Jun dan Myungho masuk ke dalam private room dan memberikan buku menu.
"Shoyu ramen-"
"Eh, enggak boleh makan mie!" potong Myungho melarang Jun saat pria itu mulai memesan makanan. Dia segera merebut buku menu dari Jun, dan memesan menu sesuai dengan keinginannya.
"Chicken teriyaki satu, bulgogi satu, nasi ayam wasabi mayonaise satu, em minumnya Lemon tea aja deh dua." ucap gadis itu.
"Gue enggak terlalu suka makan nasi, Myungho." ucap Jun penuh penekanan.
"Kamu butuh nasi buat energi kamu, enggak usah ngebantah deh, ini juga buat kamu, biar kamu makannya kenyang." jawab Myungho.
Jun mendengus. "Amerikano-"
"No! Enggak boleh ada kopi! Udah itu." sahut Myungho segera dan menyuruh pramusaji tadi untuk segera pergi.
"Gue enggak suka nasi, dan gue suka kopi. Lo enggak usah sok ngatur Gue." ujar Jun penuh penekanan.
"Aku enggak ngatur kamu, aku cuma ngelakuin apa yang menurut aku pas buat kamu. Aktivitas kamu banyak di kampus, kamu banyak tugas, ada praktikum juga, kamu butuh karbohidrat. Dan kopi itu enggak baik buat kamu yang lagi sesibuk sekarang. Kamu butuh istirahat cukup, kopi malahan bikin kamu melek semaleman." bela Myungho.
"Gue tahu apa yang baik dan enggak buat Gue." seru Jun.
"Kalau kamu tahu, seharusnya kamu kurangi konsumsi kopi dan alkohol. Jangan kamu pikir aku enggak tahu ya kalau di tempat nongkrong kamu, kamu bisa habis dua botol!" sahut Myungho tak mau kalah.
Jun menyunggingkan smirknya. "Lo nguntit Gue? Nyewa mata-mata Lo, buat ngikutin Gue kemana pun?" tanya pria itu dengan sinis.
"Aku cuma mau menjaga kamu aja, menjaga apa yang sudah menjadi milik aku." jawab Myungho.
"Udah deh ya, enggak usah mendebat kayak gitu. Kamu nurut aja sama aku gampang kan? Aku enggak minta yang aneh-aneh lho, permintaan aku juga baik buat kamu." ucap gadis itu lagi.
"Baik buat Gue?" beo Jun.
Myungho mengangguk. "Iya, selama ini hidup kamu kurang tertata tahu gak? Kamu tuh calon dokter tapi masih suka konsumsi minuman yang bisa merusak badan, bahkan kamu juga ngerokok. Kamar kamu juga berantakan, kalo banyak nyamuk dan serangga gimana? Pakaian kamu juga suka asal pake, kamu harus belajar rapi."
Jun mendengus jengah mendengar ceramahan gadis itu, baru beberapa minggu resmi bertunangan tapi sikap tukang ngaturnya sudah membuat Jun muak. Apalagi saat mereka sudah menikah nanti.
~♥~
Panas cukup terik siang ini, membuat sebagian orang sangat malas meninggalkan ruangan ber-AC. Berbeda dengan Wonwoo yang justru sudah bertengger di depan gerbang fakultasnya.
Dia tak ada jadwal kelas hari ini, tapi ada beberapa hal yang harus dia selesaikan secara langsung di kampus, sehingga mau tak mau dia harus pergi.
Wonwoo sedang menunggu Mingyu yang katanya akan menjemputnya, tapi hingga setengah jam dia menunggu, Mingyu tak kunjung datang. Padahal jarak antara Fakultas Teknik dan Fakultas Seni dan Desain tak terlalu jauh.
Awalnya Wonwoo ingin pulang sendiri saja, dan dia sudah memiliki niat untuk mampir ke beberala tempat sebelum kembali ke kosannya. Hanya saja, Mingyu sendiri yang memaksa ingin mengantar dia pulang.
Wonwoo mendengus ketika melihat riwayat pesannya dengan Mingyu. Itu sudah terkirim sejak satu jam yang lalu, tapi Mingyu tak kunjung membaca pesannya.
"Gue naik taksi online aja kali ya." gumam Wonwoo seraya menutup aplikasi pesan usai tak ada tanda-tanda Mingyu akan membalas atau membaca pesannya.
Gadis itu lantas membuka aplikasi taksi online, akan tetapi saat dia sedang memesan, sudut matanya tak sengaja melihat sepasang pria dan wanita melewat didepannya dengan berboncengan motor.
Wonwoo mendengus saat mengetahui siapa pria itu. Mingyu. Sialan, dia membuat Wonwoo menunggu setengah jam disini, sedangkan dia justru malah sedang asyik dengan seorang perempuan lain?
Oke, Wonwoo tak peduli. Dia segera memesan taksi online, dan tak lama taksi itu datang. Wonwoo segera masuk dan bergegas pergi.
Di jalanan menuju gerbang keluar, Wonwoo kembali berpapasan dengan Mingyu yang sepertinya tak menyadari bahwa gadis yang ada didalam mobil disampingnya adalah Wonwoo.
Gadis itu kembali mendengus melihat tangan gadis yang Mingyu bonceng, melingkar erat diperutnya. Wonwoo hanya mencebik biasa, dia tidak cemburu. Dia hanya kesal karena menunggu dipanas terik seperti tadi.
Dia sungguh tak peduli Mingyu akan berhubungan dengan gadis lain, toh juga Wonwoo bisa bermain dengan pria lain.
~Relationship~
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHI(T)P I SVT GS
FanfictionApa sih yang orang-orang harapkan dari sebuah hubungan? Cinta? Kebahagian? Kesempurnaan? Tapi bagaimana kalau hubungan itu yang justru malah menghancurkan dirimu, batinmu, hingga jiwamu. Apakah kau akan bertahan dengan hubungan itu? Adult story...
