Jam baru menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Fakultas Psikologi sudah tampak ramai oleh mahasiswa, staf pengajar, juga staf lainnya. Pagi yang cukup cerah untuk memulai aktivitas. Mereka berlalu lalang menuju tujuan masing-masing.
Berbeda hal nya dengan Chan, dia terpaksa datang pagi ke kampus karena ada hal yang harus dia urus dengan salah satu dosennya. Padahal masih pagi, tapi Chan sudah dibebani tugas oleh dosennya.
Pria itu melangkah memasuki kantin fakultas untuk mengisi perutnya, dia tak sempat sarapan tadi di rumah. Setelah memesan apa yang ingin dia makan pagi ini, Chan duduk disalah satu meja yang lokasinya berada didekat jendela.
Dia kembali membuka laptopnya sembari menunggu pesanannya datang. Chan mengetikkan jemarinya di keyboard, menuliskan untaian kata yang ada dalam otaknya.
"Ciye ambis."
Chan mendongak melihat gadis yang datang menghampirinya. Jisoo. Memangnya siapa lagi gadis yang berani mendekati Chan yang terkenal sebagai sosok cuek dan misterius itu?
Satu Universitas tahu bahwa Chan adalah anggota termuda Fallow, mereka juga tahu bagaimana sifat Chan. Berbeda dengan temannya yang lain, Chan bukanlah seorang pemain wanita.
Jangankan bermain wanita, perempuan yang dekat dengannya selama ini hanyalah Jisoo. Hanya gadis itu yang berteman dekat dengan Chan, hingga banyak yang mengira bahwa mereka berpacaran.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa Chan adalah adik tiri Seokmin, termasuk Jisoo. Mereka seolah merahasiakan ikatan saudara satu Ayah itu. Yang publik tahu bahwa Chan dan Seokmin hanya sekedar sahabat sepermainan. Yang mengetahui status mereka berdua sesungguhnya hanyalah Fallow saja.
"Gue harus lebih giat, biar bisa menyaingi Lo." sahut Chan.
Diangkatan mereka, Chan dan Jisoo bisa dikatakan sebagai maskotnya. Selain kecantikan dan ketampanan mereka, akan tetapi segenap prestasi akademik yang mereka torehkan ikut secara tidak langsung menjadikan mereka maskot angkatan.
Jangan kira bahwa Chan mengikuti geng anak nakal tapi dia tidak berprestasi. Chan adalah anak yang berprestasi, dia cerdas dan pandai. Apalagi di bidang Psikologi yang memang sudah menarik minatnya sejak SHS.
Meskipun dia dan Seokmin memiliki darah yang sama dari Ayah mereka, akan tetapi mereka memiliki banyak sekali perbedaan. Chan tidak seambisius Seokmin, dia pun tidak segila kakak tirinya itu. Dia masih memiliki tingkat keawarasan jauh lebih tinggi dari Seokmin.
Di kalangan keluarganya, Seokmin selalu lebih diunggulkan karena mengambil jurusan Manajemen Bisnis, yang mana nantinya tentu saja menjadi sang pewaris tahta keluarga. Sedangkan Chan, sebagian keluarga besarnya memandang dia sebelah mata karena mengambil jurusan Psikologi. Hal yang sering mereka katakan tentang prospek kerja Chan suatu saat nanti adalah 'jadi dokternya orang gila'.
Tak apa, Chan memang suka berhadapan dengan orang gila. Bahkan sekarang pun dia bersahabat dan berada dilingkungan keluarga yang gila.
Jisoo terkekeh lalu duduk dikursi yang berseberangan dengan Chan, bersamaan dengan pesanan Chan datang. Chan menutup kembali laptopnya dan beralih pada makanan itu, sebab perutnya sudah berontak ingin diisi.
Namun, pandangan Chan menangkap sesuatu yang aneh dari gadis dihadapannya itu. Belum sempat dia memasukan nasi goreng kimchi ke dalam mulutnya, dia kembali menaruh sendok itu ke piring dan beralih pada Jisoo.
"Tangan Lo kenapa, Soo? Kok kayak memar gitu?" tanya Chan menyelidik.
Jisoo menunduk dan mengusap pergelangan tangannya, dia mencebik kesal.
"Kelakuan temen Lo nih."
"Seokmin?"
"Ya emang siapa lagi temen Lo yang suka merecoki kehidupan damai Gue?" sahut Jisoo.
Dia memang sudah yakin bahwa tangannya akan memar akibat cengekeraman kencang Seokmin semalam. Dan benar saja, pergelangan tangannya terdapat lebam melingkar dibekas genggaman pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHI(T)P I SVT GS
FanfictionApa sih yang orang-orang harapkan dari sebuah hubungan? Cinta? Kebahagian? Kesempurnaan? Tapi bagaimana kalau hubungan itu yang justru malah menghancurkan dirimu, batinmu, hingga jiwamu. Apakah kau akan bertahan dengan hubungan itu? Adult story...
