"𝙿𝚎𝚛𝚜𝚎𝚝𝚊𝚗 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚔𝚊? 𝚂𝚊𝚢𝚊 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚒𝚊𝚜𝚊!"
......
Dengan segala trauma nya dan sangat takut kejadian itu terulang kembali, akhirnya Gerhana dengan 1001 traumanya itu bertem...
Alo gesss Nana kembali.... Absen dulu yukkkk anak anakk✍️✍️✍️
- - - - - Okay gak usah banyak cingcong Langsung aja cekidottt..😇😇😇 - - - HAPPY READING BESTIE
*** [ CHAPTER 05 - KEBOHONGAN ]
"Tak ubahnya aku memelihara beberapa banyak wajah, hingga aku melupakan mana diantara mereka yang sedang merebut aku secara serakah" Gerhana Amartha Zayn
Ada seorang gadis yang setiap harinya mencoba untuk kuat, melawan segala traumanya, tetapi pada hari itu dia menangis. Dia mencoba menangis tanpa mengeluarkan suara, berdiam diri disudut kamar, dia merasa selalu capek fisik dan mental. Satu orang pun tidak ada yang peduli, dia memukul kepalanya sendiri atas apa yang udah terjadi, kekesalan dan emosi tertahan, dia Cuma bisa menangis dan menangis. Padahal dia selalu menguatkan orang lain dengan sangat baik, tetapi gagal. Iya gadis itu adalah Gerhana.
Ruangan gelap sunyi hanya terdapat cahaya dari bulan lewat celah jendela. Sosok seorang gadis yang sudah tergeletak dipojokkan sudut ruangan gelap itu yang tergeletak lemas dengan berbagai bekas sayatan dan sayatan baru yang telah ia buat.Berbagai jenis obat-obatan penenang yang berserakan mengelilingi tubuh gadis itu.
"Eghh.." Lirihnya
Gerhana perlahan memindahkan posisi duduk meringkuk yang semula tergeletak tidur dilantai kamarnya.
"Na? are you ok? " Tanya Bintang yang sudah duduk terjongkok persis didepannya itu.
"Tidak kak, kenapa dunia begitu kejam sama Gerhana kak? Peluk aku kak aku butuh pelukan mu sekarang!" Pinta Gerhana sesambil ia meneteskan air netra yang telah membasahi pipinya.
Gerhana kembali menghela nafasnya dengan teratur untuk menenangkan dirinya sendiri, kepada siapa lagi yang bisa menenangkan dirinya ketika ia sedang keadaan terpuruk seperti ini kecuali dirinya sendiri. Teman-temannya? ah tidak mungkin, Gerhana tidak pernah menceritakan masalah hidupnya ke siapa pun bahkan ke sahabatnya tidak. Bukan Gerhana tidak mempercayai sahabatnya,tetapi Gerhana tidak mau sahabatnya ikut masuk ke permasalahan hidupnya karena ia pikir akan menambah beban mereka.
Hari Minggu pagi Gerhana dengan setelan outfit yang bernuansa kalem, celana levis kaos putih polos dan outer rajut warna coksu lengan panjang untuk menutupi luka sayatan yang ia buat semalam, dan rambut yang ia gerai, Gerhana melangkahkan kakinya menuju halte dekat rumahnya untuk menunggu taxi maupun angkutan umum lainnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gerhana sesampai di halte itu dengan permen lolipopnya yang ada di tangannya itu yang ia bawa dari rumah, seperti biasa dimana dan kapan pun Gerhana berada selalu membawa lolipop untuk ia makan diwaktu senggang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.