〖 Part 10 〗

387 44 5
                                    

"Pagi Tyun..." Sapa mamah Beomgyu pada Taehyun yang baru saja turun dari lantai dua, kamar Beomgyu.

Taehyun tiba-tiba menoleh terkejut, ternyata mamah Beomgyu sudah bangun. Ia pun menundukkan tubuhnya sedikit, grogi. "P-pagi juga mah..." Balas sapanya gugup.

Mamah Beomgyu tersenyum. "Mau apa?" Tanyanya sembari memulai membersihkan peralatan makanan yang kotor.

"T-Tyun mau air, mah, B-Beomgyu haus katanya..." Jawab Taehyun yang masih gugup itu.

Mamah Beomgyu mengangguk. "Ambil aja." Balasnya dan diangguki oleh Taehyun yang mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air. "Oh iya, Tae." Panggil mamah Beomgyu, membuat Taehyun tersentak sedikit, lalu ia memalingkan kepalanya. Menatap mamah Beomgyu yang mengeringkan kedua tangannya dengan cara menyipratkannya, lalu ia membalikkan badannya menatap Taehyun. "Tentang Beomgyu..."

"Oh, i-itu mah, kemarin-"

"Gak usah kamu jelasin." Potong mamah Beomgyu, membuat Taehyun semakin takut. Namun, dari nada suara yang dikeluarkan oleh mamah Beomgyu terkesan lembut, seperti tidak akan memarahinya sama sekali. Tapi ya siapa tau ye kan. "Kita udah bicarain ini sedari malem, sama ayah ibu kamu, sama papah Gyu juga." Ucapnya menjeda. "Karena kebetulan kita masih pandemi, mamah bakal minta sekolah biar Beomgyu belajar online aja di rumah, daring. Kamu, tetep ikutin peraturan sekolah, ya?" Jelas mamah Beomgyu yang terkesan sangat lembut, membuat Taehyun cukup tenang.

Taehyun pun mengangguk, masih grogi sebenarnya. "I-iya mah, Tyun paham."

"Nanti kamu dianterin sama ayah kamu atau papah Gyu ke sekolah, terus pulang sekolah juga dianterin sekalian beli bahan-bahan buat keeprluan Gyu yang lagi hamil itu." Jelas mamah Beomgyu lagi, dan diangguki paham oleh Taehyun. Mamah Beomgyu pun mengambil secarik kertas yang ada di atas meja, lalu menyodorkannya pada Taehyun. "Ini list belanjaan yang harus dibeli, uangnya dari papah atau ayah kamu." Lanjut penjelasannya lagi.

Taehyun pun menerima kertas yang bertuliskan daftar barang-barang yang harus dibeli. Cukup banyak, meski gak banyak amat sih, tapi lumayan. Setelah menatap cukup lama kertas tersebut, ia mendongak menatap mamah Beomgyu lalu tersenyum. "Mah, maafin Tyun, ya? Soalnya Tyun gak bisa jagain Gyu, terus malah Tyun yang nyakitin Gyu sekarang. A-awalnya, Tyun mau gugrin anaknya, takutnya..."

Mamah Beomgyu yang melihat anak tetangganya itu pun tersenyum. Ia menjongkokkan tubuhnya agar setara dengannya. Kedua tangannya yang hangat itu mengelus kepala milik Taehyun, dimulai dari pucuk kepala, sampai pada pipinya. "Gak papa, mamah paham kok. Sekarang, kamu pasti belum paham ini itu kan tentang kehamilan?" Taehyun menggeleng. "Sekarang kamu cukup dengerin aja apa kata mamah, papah, atau ibu sama ayah kamu. Kamu gak usah mikirin yang udah-udah, gak usah mikirin uang dulu, pokoknya prioritasin dulu Beomgyu sama sekolah dulu, ya?" Taehyun yang mendengarnya pun tersenyum senang lalu mengangguk. Mamah Beomgyu pun ikut tersenyum dan mengecup kedua pipi milik Taehyun lalu berdiri. "Ya udah, sana jaga Beomgyu dulu, abis itu siap-siap sekolah. Kalau udah siap, ajak Beomgyu turun juga, biar kita sarapan bareng." Ucap mamah Beomgyu dan diangguki oleh Taehyun.

Taehyun pun pergi menuju kamar Beomgyu, dengan kedua tangannya yang membawa gelas yang berisikan air penuh untuk Beomgyu. Sesampainya ia di kamar, ia menyalakan lampu tidur sembari menyimpan gelas di atas meja belajar. Ia pun membantu Beomgyu duduk, lalu memberikan segelas air yang ia bawa tadi pada Beomgyu. "Minum dulu, ya." Ucapnya.

Beomgyu pun mengangguk lalu minum, dibantu dengan Taehyun. Setelah merasa cukup, Taehyun pun menyimpan gelas itu kembali pada meja belajar, lalu kembali duduk di sisi kasur, bersebelahan dengan Beomgyu. "Masih gak enak perutnya? Masih mual?" Tanyanya pada Beomgyu dengan khawatir.

Marriage at YoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang