Kekecewaan (12)

3.3K 213 30
                                        

YOU POV

Setelah keduanya berhenti memukul satu sama lain, aku minta Jungkook dan Sunghoon untuk duduk di sofa ruang tengah apartemenku. Tak banyak kata yang mereka ucapkan, Jungkook maupun Sunghoon sama-sama tenggelam dalam rasa sakit yang keduanya ciptakan di tubuh masing-masing, sementara aku menyiapkan kotak P3K untuk mengobati luka keduanya dalam kamar mandi. Setelah aku mencuci muka, menyikat gigi dan menuntaskan panggilan alam ini. Aku hampiri Jungkook dan Sunghoon guna mendudukkan diri di antara keduanya.

Yang mendapat perhatianku pertama kali tentu saja sahabat dekatku, yaitu Jungkook. Aku minta agar ia mengubah posisi duduknya sedikit menghadapku, aku perhatikan luka di wajahnya dan mulai mengobati luka-luka itu dimulai dengan membersihkan lukanya dari darah yang masih mengalir.

"Tahan ya, mungkin akan sedikit perih." ucapku yang hanya dijawab anggukan kepala oleh lelaki itu. Aku sadar, Jungkook berusaha melampiaskan rasa perih yang ia rasakan dengan meremas sesuatu, tetapi tidak pahaku juga dong, membuatku merasa geli sekaligus mendapat tatapan tajam dari lelaki bersurai hitam yang duduk tepat di sebelah kiriku.

"Yak sialan! jangan cari kesempatan!" Sunghoon pukul tangan Jungkook yang meremas pahaku sambil mengumpat kasar. Membuat lelaki itu terkejut sampai nekat menghentikan kegiatanku dan berniat memukul Sunghoon, tetapi berusaha ku tahan sekuat tenaga seraya meminta, "Sudahlah berhenti berkelahi!" pada keduanya yang tidak begitu Jungkook pedulikan. Ia nekat bangkit dari posisinya untuk menarik Sunghoon keluar dari apartemenku.

Tak seperti sebelumnya, Sunghoon terlihat tak melakukan perlawanan apapun ketika Jungkook memintanya keluar dari apartemen ku. Sunghoon hanya menatapku tajam seolah menunggu reaksi dariku, namun sampai Jungkook menutup pintu apartemen tersebut dengan kasar.

Aku tak kunjung mengambil sikap atas kepergiannya. Mungkin, cara terbaik adalah dengan melepas karakter tersebut pergi, satu sisi aku tak perlu melanjutkan permainan tersebut dan disisi lain aku tak perlu membunuh siapapun walaupun Sunghoon merupakan karakter dari permainan yang aku mainkan.

Jungkook pun kembali mendudukkan diri di sofa tepat di sebelahku, lelaki itu tersenyum ke arahku sebelum meminta maaf atas kejadian yang tadi. "Maaf, aku lancang telah menyentuh tubuhmu." ujar lelaki itu yang hanya aku jawab dengan tawa pelan, "Tak apa, aku tahu itu gerakan refleks." ucapku, sempat saling bertukar tatapan dengan Jungkook sebentar sebelum lelaki itu menghembuskan napasnya kasar.

"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Jungkook ikut membuatku bingung. Aku tundukkan kepalaku, membuatku akhirnya menyadari kalau pergelangan tanganku telah membiru akibat ikatan yang Sunghoon buat pada tubuhku tadi malam.

"Maafkan aku, Jungkook. Aku tak bermaksud menyeretmu dalam permainan ini." ucapku yang membuat Jungkook tersadar juga atas memar di pergelangan tanganku. Ia bawa kedua tanganku untuk ia perhatikan dengan seksama, "Aku masih belum percaya kita berasal dari dunia yang berbeda, namun setelah melalui segalanya aku jadi tersadar kalau yang kau jelaskan memang benar adanya. Kita berasal dari dunia yang berbeda dan kamu bukan Y/n yang selama ini menghabiskan hari bersamaku." gumam Jungkook membuatku terdiam dipenuhi perasaan campur aduk, antara sedih, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sampai tak tahu harus merespon ucapan Jungkook seperti apa. Cukup lama aku terdiam sambil memperhatikan Jungkook yang menggenggam kedua tanganku begitu erat.

Aku beranikan diri menatap atensi lelaki itu, "Aku tetap Y/n yang kamu kenal Jungkook. Mungkin jalan cerita hidup kita sedikit berbeda antar dunia, tapi hubungan kita di kedua dunia itu masih tetap sama, menjalin kedekatan lebih dari seorang sahabat. Apa kau juga merasakan hal yang sama?" tanyaku sukses mengembangkan senyuman di wajah sahabatku tersebut.

Mata Jungkook berkaca-kaca saat menjawab pertanyaanku dengan, "Iya, kau benar." seiring membawaku ke dalam pelukannya erat. Dapat ku rasakan degup jantung Jungkook yang berdegup kencang, begitu pula denganku yang perlahan merasakan hal yang sama. Aku benar-benar merasa aman dan nyaman saat berada di dekat lelaki itu, walau aku sadar Jungkook yang bersamaku kini bukanlah Jungkook yang selama ini aku kenal. Keduanya adalah orang yang sama namun berbeda.

EN-PLAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang