Bagian 3: Pesan Misterius

121 10 0
                                    

"Jika saja aku bisa menukar nyawaku untuk membuatmu hidup kembali, maka aku akan melakukannya dengan senang hati."

🥀

"Apa aku boleh tidur di sini malam ini? Kepalaku sakit, rasanya aku hampir gila." Biru mengusap pusara Luna dengan lembut, lalu ia menyenderkan kepalanya di samping pusara milik mendiang istrinya itu.

Beberapa hari setelah Luna hadir dalam mimpinya, Biru kembali dihantui oleh rasa bersalah. Rasa bersalahnya bahkan sudah melampaui batas dirinya, hingga hampir membuatnya hilang akal.

Jalan satu-satunya, ia hanya bisa melampiaskannya dengan mengunjungi makam sang istri, atau mungkin memilih menyerah saja untuk ikut menyusul Luna.

"Kalau memang kamu ingin aku menyusulmu, aku bisa menyusulmu sekarang juga. Tetapi aku harus tahu dulu kejadian yang sebenarnya agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku ingin mencari tahu alasan dibalik kepergianmu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Biru di dalam hatinya sembari menghela napas panjang.

"Apa benar aku yang membunuhmu? Ataukah orang lain? Tapi bagaimana caranya agar aku bisa menemukan jawabannya? Semua orang menjauhikuㅡkecuali Juan. Juan bahkan juga tidak mau memberitahuku. Lantas, aku harus bagaimana?" Batinnya.

Biru pun hanya bisa bermonolog di depan pusara Luna, lalu ia memanjatkan doa, berharap ada secercah keajaiban agar ia bisa menguak rahasia di balik kematian istrinya.

Lelah setelah memikirkan berbagai macam praduga kejadian yang ia pikirkan, Biru pun merasa kelelahan.

Ia tak sadar jika pada akhirnya ia tertidur di pemakaman, sembari memeluk pusara istrinya dengan erat.

🥀

"Biru? Bangun! Dosennya sudah masuk." Ucap seorang gadis yang ketika itu memilih untuk duduk di sebelah Biru sembari berusaha membangunkan Biru dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.

Biru sedikit mengerang, ia merasa sangat kelelahan dan rasanya berat sekali untuk membuka mata.

Namun, ia merasa ada suara seseorang yang tengah membangunkannya. Memang, suara tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinganya.

Suara Luna.

Biru berhasil membuka matanya, dan yang ia lihat pertama kali adalah senyuman Luna yang sangat ia rindukan.

"Ini kedua kalinya kamu hadir di mimpiku. Terima kasih, Luna." Batin Biru sembari membalas senyuman Luna.

Luna bingung, ia merasa aneh dengan sikap Biru yang terlihat sangat berbeda, bukan seperti Biru yang biasa ia kenal.

Biru yang biasanya terlihat jutek, dingin dan cuek itu tiba-tiba saja tersenyum manis kepadanya. Luna bahkan sampai menepuk pipinya beberapa kali, mengira jika ia sedang bermimpi.

"Kamuㅡtersenyum padaku?" Tanya Luna tak percaya. Biru pun mengernyitkan keningnya begitu mendengar kalimat sederhana yang terlontar dari bibir Luna itu.

Ia sadar ia sedang bermimpi, tetapi mengapa terasa begitu nyata?

Sangat nyata hingga ia mengira jika Luna masih hidup.

ANGAN BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang