bagian delapan belas

1.4K 151 16
                                        

Siang hari yang panas itu, Yoshi keluar dari ruang USG lebih dulu dengan wajah penuh senyum yang sudah lama tidak muncul. Di tangan Yoshi, ada selembar foto kecil yang memperlihatkan bayangan hitam putih sebesar kacang, tapi penuh harapan.

Tak berselang lama Junghwan segera menyambut kedatangannya setelah telefon yang tiba-tiba masuk mengganggu waktu keluarga mereka di sana. Junghwan bertanya sembari mengusap-usap pundak isterinya.

"Em.. dia sehat?" tanya Junghwan setelah matanya memperhatikan hasil usg tadi.

Yoshi mengangguk. "Dokternya bilang, semuanya normal. Kandungannya kuat. Jauh lebih baik dari sebelumnya."

Junghwan menarik napas pelan. Rasanya seperti bisa bernapas lagi setelah berbulan-bulan hidup di bawah permukaan air. Mereka sempat kehilangan— rasanya begitu menyakitkan, seperti dicabut nyawanya sedikit demi sedikit. Tapi kini, semesta seakan memberi kesempatan kedua untuk mereka.

"Sayang mau langsung pulang ke rumah atau mau mampir ke toko bayi?" tanya Junghwan sembari terus melangkahkan kakinya membawa Yoshi menuju parkiran.

Senyumnya merekah, Yoshi mengangguk semangat dan memeluk Junghwan erat-erat. "Tapi.. seriusan kamu ngga capek?" 

Matanya berbinar seolah-olah memaksa Junghwan untuk berkata 'ya' karena kini Yoshi sudah mencari di sosial media toko bayi mana yang memiliki koleksi imut dan lucu. Junghwan tersenyum memperhatikan kebahagiaan yang terpancar dari gerakan kecil isterinya itu, asalkan Yoshi bahagia— maka Junghwan pun sama.

Meski hari sudah menuju malam, tetapi mereka benar-benar mampir ke toko bayi kecil di pusat kota. Bukan untuk belanja besar-besaran— hanya membeli botol susu mungil dan baju bayi berwarna putih.

"Kalau cowok namanya Daito. Kalau cewek..? kamu mau kasih nama apa sayang?"  gumam Yoshi sambil menempelkan baju bayi ke dadanya namun masih bisa terdengar oleh Junghwan yang berdiri membelakanginya.

"Eh? apa tadi sayang? maaf.. aku ga fokus."

Yoshi menghela nafasnya, senyum kaku terukir jelas di wajahnya dan setelah itu Yoshi meletakkan semuanya kembali di tempat semula.

Tindakannya itu membuat Junghwan bingung, langsung saja ia menyimpan hp nya ke dalam saku celana dan menghampiri karyawan yang sedari tadi menemani Yoshi mencari baju bayi yang ia suka.

"Saya beli semua yang udah dipegang sama isteri saya, tolong cepat ya, saya buru-buru."

Tak butuh waktu lama Junghwan langsung menenteng beberapa tas yang berisikan botol susu dan sepatu bayi untuk calon anak mereka, termasuk pula di dalamnya piyama tidur berwarna putih yang sempat Yoshi pegang.

Setelah ia menyimpan seluruh barang belanjaan ke pintu belakang, Junghwan segera menghampiri isterinya dan duduk di sebelahnya. "Sayang.. maafin aku ya."

"Memangnya kamu salah apa? sampai minta maaf begitu.." nadanya ketus, jelas Yoshi merajuk setelah perlakuan Junghwan di dalam toko tadi.

Junghwan menundukkan kepala, tak cukup hanya beban pekerjaan yang menimpanya— ternyata hormon sang istri yang tengah mengandun calon bayi mereka juga turut menambah beban pikirannya.

Tangannya terangkat untuk menggenggam jemari Yoshi tetapi detik itu juga Yoshi langsung menghindar. Junghwan tak mau menyerah, ia langsung menarik tangan Yoshi dan membuatnya mau tidak mau duduk dan menghadap ke arahnya. 

"Please.. aku capek sama urusan kantor, kamu jangan nambahin lagi."

"Oh jadi maksud kamu, aku ini beban. IYA?!"

Nadanya tiba-tiba meninggi, Junghwan terkejut hingga air mukanya berubah. "Sayang? kamu kenapa hei..?" diusapnya rambut Yoshi yang turun menutupi sebelah matanya. "Hormonnya nyebelin iya sayang ya..?"

MUDA [Hwanshi] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang