Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi tirai tipis di kamar mereka sudah mulai menyaring cahaya kuning lembut yang hangat. Mata Yoshi perlahan terbuka, memperlihatkan wajah teduh suaminya yang masih terlelap usai pergumulan yang mereka berdua lakukan pada saat berbaikan.
Matanya terasa berat, tapi bukan karena kurang tidur— melainkan karena semalam ia akhirnya menangis sampai habis. Di sebelahnya, Junghwan masih tertidur. Nafasnya tenang. Dadanya naik turun dengan ritme yang Yoshi kenali sejak malam pertama mereka tidur bersama sebagai suami istri.
Yoshi menyentuhkan telunjuknya ke dagu Junghwan, kemudian turun ke leher. Lalu ke dadanya, seperti memastikan bahwa Junghwan masih di sana. Ketika ia hendak beranjak dari ranjang, tiba-tiba tangan Junghwan menahan pergerakannya.
"Jangan pergi dulu." suara Junghwan serak, berat, tapi penuh kelembutan. "Aku masih mau peluk."
Yoshi mengerucutkan bibirnya, setengah protes. "Aku mau bikin sarapan."
Dahi Junghwan mengerut, seakan-akan ia coba meningat sesuatu. "Mama sama ayah udah pulang?"
Kali ini Yoshi yang ikut mengerutkan dahi. "Duh aku ngga tau.. bentar aku cek hp." dan benar saja sudah ada pesan dari ayahnya yang bilang kalau mereka sudah kembali ke rumah mereka beberapa jam setelah Junghwan membawa Yoshi masuk ke kamar.
Senyum Junghwan merekah. "Bagus deh." Junghwan menarik Yoshi ke pelukannya. "Lagipula, kita kan baru baikan. Jangan langsung pergi, aku masih mau hisap bibir kamu."
Yoshi terkekeh pelan, menyembunyikan wajahnya di leher Junghwan.
"Nyebelin ya."
Junghwan mencium kening Yoshi, lalu menempelkan telapak tangannya di perut sang istri. Dan saat itu juga... mereka berdua menyadari ada yang bergerak.
Sebuah tendangan kecil dari dalam, lembut. Tapi jelas terasa.
"Eh!" Yoshi kaget, matanya membulat. "Dia nendang, Hwan. Kamu ngerasain gak??" tangannya menempelkan tangan Junghwan lebih kuat ke perutnya.
Junghwan langsung membeku, matanya perlahan melebar. Lalu menatap Yoshi dengan sorot yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Dia... denger suara kita, ya?" bisik Junghwan. "Dia tahu kita baikan."
Yoshi mengangguk kecil. "Kayaknya iya. Dia ikut happy dengernya."
Junghwan tertawa pelan. Tangannya mengelus perut Yoshi dengan penuh rasa. "Maaf ya, nak... Papa sama Mama sempat berantem. Tapi sekarang kita udah baikan kok."
Yoshi menatap Junghwan dengan air mata bening di sudut matanya. "Kamu masih suka bilang 'kita', dan aku senang banget denger itu."
Junghwan membalas tatapannya, lalu menggenggam jemari Yoshi. "Kita. Karena aku gak mau jalan sendiri lagi. Aku mau jalan bareng kamu, meski jalannya berat."
Yoshi mencium tangan Junghwan. "Aku juga."
Mereka tidak bicara lagi setelah itu, hanya membiarkan mentari pagi masuk ke kamar mereka —
menemani dua manusia yang pernah hancur, tapi kini memilih untuk memulai lagi... pelan-pelan.
Dan di perut Yoshi, kehidupan kecil itu kembali bergerak. Sebagai pertanda... bahwa meski pernah retak tetapi cinta mereka masih terus bertumbuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUDA [Hwanshi] END
RomansaAku bukan anak kecil. #1 Hwanshi 280423 #2 Junghwan 060725
![MUDA [Hwanshi] END](https://img.wattpad.com/cover/306950166-64-k676925.jpg)