"Kalau kamu mau marah, luapkan semuanya ke aku."
Yoshi membuka mata perlahan. Dilihatnya langit sudah tampak cerah di luar jendela kamar mereka dan suara burung terdengar berkicau pelan. Tapi yang baru ia sadari adalah... dirinya sudah kembali ke rumah.
Dan tubuhnya... hangat. Tapi bukan hangat karena demam.
Melainkan karena seseorang memeluknya dari belakang. Pelukan yang melingkar erat di pinggangnya, seperti tak ingin melepaskannya lagi seperti terakhir kali.
"Junghwan."
Belum sadar atau berpura-pura tidur, Yoshi tidak tahu. Tapi napasnya stabil, pipinya menempel di punggung Yoshi dengan tenang. Yoshi hanya diam, tangannya mengelus pelan selimut yang menyelimuti mereka.
Ada perasaan aneh... antara tenang dan juga takut.
Karena ia tahu... mereka tak bisa terus-terusan begini tanpa membicarakan lebih dulu mengenai semuanya.
Dan tepat saat pikiran itu muncul, suara pelan terdengar dari belakangnya.
"Udah mendingan?"
Yoshi tidak mau bersuara, yang ia berikan hanya anggukan kecil sebagai jawaban. Dan itu cukup untuk membuat Junghwan menarik nafas lega.
Lalu, Junghwan perlahan melepaskan pelukannya, membiarkan Yoshi menarik selimut dan menyembunyikan dirinya rapat-rapat. Junghwan mengerti kalau ia masih membutuhkan waktu untuk bisa berpikir jernih.
Dalam diam mereka sibuk dengan urusan masing-masing, Yoshi masih berkelahi dengan pikirannya dan Junghwan yang sedang siap-siap berangkat kerja. Sampai pada saat ia sudah mengambil kunci mobil, Yoshi tiba-tiba saja menahan langkahnya.
"Junghwan.. tunggu."
Anak muda itu berbalik dan menghampiri isterinya. "Iya.. kenapa, sayang?"
Yoshi agak gemetar saat mendengar dirinya kembali mendengar dirinya dipanggil dengan kata 'sayang'. Sampai pada saat Junghwan sudah menyamakan tingginya dengan Yoshi yang duduk di tengah tempat tidur, tubuh Junghwan pun ia tarik mendekat.
"Dasi nya dipakai yang bener dong." ucap Yoshi masih dengan ego nya yang tidak mau melihat ke arah Junghwan.
Mungkin ia takut, jika ia melihat mata suaminya itu ia akan seketika luluh dan melupakan segala pendirian yang susah payah ia pikirkan sampai jatuh sakit.
Melihat Yoshi yang menghindari melihat ke arahnya, Junghwan pun tersenyum simpul. Ia tahu Yoshi masih marah dengan dirinya, tetapi Junghwan tau isterinya itu tidak mau melupakan bahwa Junghwan adalah satu-satunya orang yang ia cintai sepenuh hati.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang.." ucap Junghwan dan tanpa seizinnya mengecup dahi Yoshi kemudian melangkah pergi secepat yang ia bisa.
Meninggalkan Yoshi di kamar dengan perasaan campur aduk, antara ia sudah berusaha membuka diri atau masih dengan ego nya yang setinggi matahari.
—
Malamnya, Yoshi tertidur dengan mata masih basah. Ia terlalu lelah untuk menangis lebih lama lagi. Kamar terasa sepi meski Junghwan kini tertidur di sisi lain ranjang, tapi mereka tak bersentuhan. Lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUDA [Hwanshi] END
RomanceAku bukan anak kecil. #1 Hwanshi 280423 #2 Junghwan 060725
![MUDA [Hwanshi] END](https://img.wattpad.com/cover/306950166-64-k676925.jpg)