Beberapa waktu lalu, setelah menghubungi kedua orang tua Yoshi bahwa anak mereka sempat hamil namun mengalami keguguran— kedua orang tua Yoshi benar-benar terpukul.
Mereka terlihat tak sanggup untuk lebih lama lagi menyaksikan anak mereka yang menangis terus-terusan meminta maaf pada mereka karena telah gagal untuk menghadirkan seorang cucu.
Keduanya pun pulang, meninggalkan sekeranjang buah pir dan pisang yang diletakkan di sebelah meja. Benar dugaan Yoshi, sejak tadi Junghwan telah menahan diri untuk tidak menangis. Sehingga setelah kedua orang tua Yoshi pergi, barulah Junghwan mau menghampirinya.
Perlahan merebahkan badan dan menundukkan kepalanya. Junghwan menangis dengan menyembunyikan wajahnya di lengan Yoshi. Badannya bergetar hebat, semua emosinya tercurahkan saat itu juga.
"Kamu kenapa nangis.. kamu lihat kan aku udah baik-baik aja sekarang."
"Gak."
Saat ini Junghwan terlihat begitu emosional. Kepalanya terasa ingin pecah karena tak tahan memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Apakah ia juga akan kehilangan Yoshi jika malam itu ia tidak terbangun untuk mengecek sekitar.
"Kamu ngga baik-baik aja, kamu pasti kesakitan tapi kamu bohong ke aku."
Suara Junghwan terdengar lirih, ia tak mau mengangkat wajahnya karena saat ini ia benar-benar merasa berada di titik terendah dalam hidupnya.
Ia masih muda tetapi ia telah kehilangan harapannya yang ada pada Yoshi, seolah-olah Tuhan marah karena selama ini Junghwan telah memperlakukannya dengan kurang baik.
"Jangan nangis dong, malu dilihat sama anak kamu."
Mendengar itu, Junghwan refleks mengangkat wajahnya dan menutupinya dengan kedua tangan.
"Ga usah ngomong gitu." jawab Junghwan yang kini tengah mengusap wajahnya.
Junghwan berniat menarik ujung kaosnya untuk mengelap wajah yang berderai air mata, melihat hal itu Yoshi langsung menahan tangannya dan mengambil beberapa lembar tisu untuknya.
"Kenapa nangis?" tanya Yoshi lagi setelah mengetahui Junghwan sudah sedikit tenang.
"Aku kasihan sama kamu, pasti kamu kesakitan banget sayang."
Ohh..
Yoshi berusaha melukiskan senyumnya, melihat Junghwan sensitif seperti ini berhasil membuat hati Yoshi menghangat. Maka ditariknya tangan Junghwan untuk mendekat, kemudian ia mengusap wajah sembab Junghwan perlahan.
"Udahh, jangan dipikirin terus. Tadi kamu dengar 'kan kata Ayah? kita boleh sedih tapi jangan berlarut-larut."
"Iya."
"Sekarang tarik nafasnya dalam-dalam."
Junghwan menurut perkataan Yoshi. "Huuuuuuuhhhhh.."
"Hembuskan."
"Haaaahhhhhhhh."
"Ihh...bauu."
"Apa kamu bilangg?" Junghwan tertawa mendengarnya.
"Jangan nangis lagi ya.. kamu jelek kalau nangis."
Junghwan hanya menanggapinya dengan deheman kecil karena ia tahu isterinya itu hanya bercanda. Yoshi tertawa melihatnya. Tanpa sadar ia telah berhasil menyembunyikan kesedihannya di hadapan sang suami yang syukurnya masih terus bertingkah manja sekarang.
Mau bagaimanapun juga Junghwan tetaplah anak muda, meski ia sudah biasa bertingkah dewasa di hadapan Yoshi tetapi bagi Yoshi ia tetap menggemaskan seperti saat pertama kali mereka berjumpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUDA [Hwanshi] END
RomanceAku bukan anak kecil. #1 Hwanshi 280423 #2 Junghwan 060725
![MUDA [Hwanshi] END](https://img.wattpad.com/cover/306950166-64-k676925.jpg)