bagian dua puluh

1.2K 141 34
                                        

Pintu kamar terbuka pelan.

Junghwan berdiri di depan sana, langkahnya terasa berat— lebih berat dari beban mana pun yang membuatnya jadi tak bisa bergerak. Ia melihat Yoshi sudah berbaring. Selimut menutupi tubuh kecil itu sampai bahu.

Lampu kamar masih menyala, saat Junghwan menutup pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam— Yoshi tidak bereaksi. Tapi Junghwan tahu, istrinya itu belum tidur.

Berdiri diam di sana cukup lama. Tangannya menggenggam ujung kemeja yang masih ia pakai, seolah kalau ia bergerak sedikit saja, semuanya akan runtuh di depan mata.

Lalu, tanpa suara, ia meletakkan ponsel di meja. Melepas semua pakaiannya dan duduk di tepi ranjang.

Yoshi masih diam. Tidak terusir, tidak juga menyambut. Hanya... diabaikan.

"Maaf," bisik Junghwan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.

Ia melakukan semuanya dalam diam, mandi dan berganti baju di sana— di ruangan yang sama, tapi rasanya bukan lagi kamar mereka. Udara di antara mereka seperti kaca beku yang tak bisa dipecahkan oleh kata apa pun.

Setelahnya Junghwan memutuskan naik ke ranjang, pelan. Satu sisi ranjang itu terasa luas... terlalu luas. Tapi Yoshi masih tidak bereaksi, tidak mengusirnya, juga tidak memaki. Itu bukan penerimaan. Tapi juga bukan penolakan. Lebih seperti ruang. Dan ruang itu dingin.

Junghwan berbaring. Tubuh mereka hanya terpisah beberapa jengkal, tapi kehangatan yang dulu mengalir bebas... kini tertahan di udara. Rasanya Junghwan seperti tidak diberi izin untuk melirik ke arah isterinya.

Yoshi menarik napas pelan. Suaranya nyaris tak terdengar. Tapi cukup untuk menusuk dada Junghwan.

"Jangan peluk aku malam ini."

Kalimat itu kecil. Tapi terasa seperti pisau yang menusuk dada Junghwan perlahan. Junghwan mengangguk walau tak dilihat. "Oke."

Mereka membisu. Tak ada pertengkaran, tak ada teriakan. Tapi yang paling menyakitkan adalah saat dua hati memilih bertahan... tanpa tahu bagaimana caranya bersentuhan lagi.

Junghwan menatap langit-langit, menggigit bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi napasnya berat. "Kalau kamu mau, aku bisa tidur di sofa..."

Yoshi menjawab cepat, tapi cuek. "Enggak usah. Ini... masih rumah kamu juga."

Kata-kata itu seperti peluru yang menghantam dada Junghwan.

Tanpa sadar ia membenahi posisinya untuk bisa menatap punggung Yoshi yang tak beranjak.

Masih rumah kamu juga— bukannya rumah kita.


Hati Junghwan benar-benar perih, saat malam semakin dalam dan kebisingan seakan menghilang. Yoshi meliukkan badannya memeluk bantal hamilnya erat-erat. Tubuhnya sedikit berguncang— tapi ia pastikan tak ada isakan yang terdengar.

Sedangkan Junghwan... hanya bisa memandangi punggung Yoshi dan mati-matian menahankan diri untuk tidak memeluknya dari belakang.

Bukan agar ia bisa tertidur.

Tapi untuk menahan air mata yang datang terlambat.










MUDA [Hwanshi] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang