"I am here, and he is here, and everything I need to know is that I will hold him and he will hold me until I am warm again, until I know I belong."
— David Levithan, My True Love Gave to Me: Twelve Holiday Stories
﹉﹉﹉
Barcode lagi asyik balesin pesan dari Us yang isinya laporan kalo dia abis diputusin Ta (buat yang ke-100 kalinya minggu ini), pas suara derap langkah kaki yang berat tapi beraturan mendekat ke arah sofa.
Pemuda Tinnasit itu nggak perlu repot-repot ngangkat kepala buat tau siapa yang dateng. Dia udah hafal sama suara langkah kaki itu, bahkan wangi parfum yang ikut kebawa angin pas orang itu lewat.
"Code?"
"Ya, Kak?" jawab Barcode sambil tetep fokus ke layar ponselnya.
"Hari ini kita nggak ada acara ke mana-mana, 'kan?"
Barcode akhirnya mendongak, nemuin Jeff yang berdiri di depannya dengan tangan masuk ke saku celana. Barcode ngegeleng pelan. Hatinya sempet mencelos sedikit, mikir apa Jeff mau pamit pergi ke rumah Perth? Atau Jeff udah bosen nemenin dia di hari ketiga ini?
"Enggak ada. Kenapa? Kakak ada acara, ya?" tanya Barcode, berusaha suaranya tetep santai.
"Enggak, aku mau ngajak kamu nonton konser. Kebetulan Job sama Bas nggak bisa dateng karena ada urusan mendadak, jadi mereka kasih tiketnya ke aku. Mau, nggak?"
Barcode ngerutin dahinya. "Konser? Konser siapa?"
"Kodaline."
Mata Barcode langsung berbinar-binar, kayak ada bintang yang tumpah di sana. Kodaline itu band favoritnya. Lagu-lagu mereka selalu nemenin Barcode di saat-saat paling terpuruk, bahkan pas dia pertama kali divonis gagal ginjal.
"Mau banget!" sahut Barcode kelewat antusias, sampe-sampe rasa nyeri di pinggangnya mendadak ilang gitu aja ketutup adrenalin. Tapi sedetik kemudian, wajahnya berubah cemas. "Kapan konsernya?"
Barcode takut. Takut kalo konsernya bulan depan, atau bahkan minggu depan. Dia nggak punya waktu selama itu.
"Malem ini."
"Hah?! Serius?!" Barcode melotot, kaget bukan main.
Jeff ngangguk kalem. "Iya. Aku juga baru dikasih tau tadi."
"Tapi Kak, ini udah jam tiga sore! Kita belum siap-siap..." Barcode mulai panik sendiri, dia langsung berdiri buat ngecek jam dinding.
"Santai, Code. Masih keburu kalo kamu gercep," Jeff terkekeh liat Barcode yang grasak-grusuk.
Barcode diem sebentar. Pikirannya mendadak melenceng. Oh, iya juga. Ini 'kan tiket dari Job sama Bas. Jeff cuma mau manfaatin tiketnya aja karena sayang kalo hangus. Tapi yaudah lah, Barcode nggak mau ngerusak momen.
"Aku siapin keperluan dulu kalo gitu. Kamu mandi duluan aja, Kak. Biar aku yang beresin tas," perintah Barcode.
"Okay."
Jeff jalan masuk ke kamar mandi, sementara Barcode langsung beraksi. Dia nyari kamera, powerbank, jas hujan (siapa tau hujan), dan yang paling penting; kantong kecil berisi obat-obatan darurat yang harus dia minum supaya nggak pingsan di tengah konser nanti.
Sebelum lanjut beres-beres, Barcode sempetin ngetik beberapa kata ke grup chat-nya bareng dua sahabatnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.