HK | Can't Stop, Won't Stop

253 22 0
                                        

“Dari tadi senyum-senyum terus, baru dapet duit ya lo? Atau baru dapet pacar?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Dari tadi senyum-senyum terus, baru dapet duit ya lo? Atau baru dapet pacar?”

Soobin terbatuk mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jihoon. Belum sempat ia menjawab, Hyunjin yang duduk di sampingnya menepuk punggungnya dengan cukup keras.

“Heh, beneran dapet pacar? Gue bilangin Bang Yeonjun lho ya,” ujar sahabatnya itu.

“Pacar apaan? Lagian kenapa harus laporan Bang Yeonjun segala?” tanya Soobin sambil mengernyit.

“Jadi apa yang bikin lo seneng, Soob? Berbagi kebahagiaan dong sama kita,” Haechan berkata dengan mulut yang penuh oleh siomay pesanannya, tidak mempedulikan pandangan jijik dari Jihoon.

“Gak tau, perasaan gue lagi seneng aja sih, gak ada alesan khusus,” jawab Soobin jujur. Pagi itu ia bangun dengan suasana hati yang baik, rasanya akan ada sesuatu yang bagus terjadi di hari ini, entah apa. Ia lalu teringat sesuatu. “Eh, tapi pas gue ganti baju, terus mau benerin saku celana, ternyata ada duit dua puluh ribu!”

“Wah, lumayan tuh. Gua juga pernah nemu duit gak sengaja, keselip di buku novel,” cerita Jihoon.

“Gue kok gak pernah ya? Yang gue temuin nyelip di saku atau barang-barang gue itu seringnya bon, struk ATM, sama bungkus permen.” Haechan menggaruk-garuk kepalanya.

“Gue dong, pernah tau-tau nemu duit lima ratus ribu,” Hyunjin berkata penuh semangat.

“Anjir, serius? Lima ratus ribu?” Mata Haechan terbelalak takjub.

“Iya, di atas meja bokap pas gue masuk ke ruang kerjanya. Ternyata itu memang duit bokap gue.” Hyunjin menghela napas dan menampakkan wajah sedih.

“Si memble minta ditabok dari ujung rambut sampe ujung kaki,” Jihoon bersungut-sungut.

“Loh, loh, mengapa Anda jadi emosi, saudara Jihoon?”

“Bodo amat, jangan ngomong lagi sama gue, lo bikin tekanan darah gue naik.”

Soobin tertawa melihat tingkah sahabat-sahabatnya.

“Permisi, ini es kelapanya, aden-aden sekalian.” Tiba-tiba ibu pemilik kantin tempat mereka makan datang membawa baki berisi empat mangkuk es kelapa muda.

“Loh? Kita gak pesen es kelapa, Bik,” sahut Soobin. Ketiga pemuda lainnya pun tampak kebingungan.

“Iya, ini dari aden yang di sana. Udah dibayarin, katanya buat aden-aden semua, spesialnya buat yang pake jaket hitam-putih,” jelas wanita separuh baya itu.

Kompak mengecek baju yang mereka pakai, keempat sahabat tersebut kemudian melihat ke arah laki-laki yang dimaksud oleh ibu kantin. Lelaki yang semula menatap mereka itu langsung melempar pandangannya ke arah lain.

“Ya udah, Bik, simpen di meja aja es kelapanya. Udah dibayar kan?” tanya Hyunjin memastikan.

Si ibu mengangguk. “Udah, Den.”

“Makasih, Bik. Bilangin juga ke dia, makasih. Es kelapanya kita makan, tapi kalo mau deket sama temen kita yang ini—” Haechan menunjuk Soobin. “Gak cukup cuma pake makanan, dia harus usaha lebih keras lagi.” Ia tersenyum manis sebelum menyendok es kelapanya.

Wanita itu kembali mengangguk sebelum melangkah menghampiri meja di ujung ruangan. Pemuda bertubuh jangkung yang duduk di situ menoleh, mendengarkan ibu kantin berbicara padanya.

Empat pasang mata menangkap senyum sedih di wajah sang lelaki, sebelum akhirnya ia berdiri dan melangkah pergi.

“Kai, terima kasih banyak ya!” seru Soobin tiba-tiba, membuat Kai—lelaki tadi—tersandung kakinya sendiri.

Berbalik, Kai menatap Soobin seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Soobin tersenyum. “Ayo berjuang biar gue beneran luluh dan temen-temen gue ngasih restunya buat lo!” serunya lagi.

Dengan wajah memerah dan mata membulat, Kai mengangguk, membalas senyum Soobin kemudian berlari meninggalkan tempat itu.

***

On My Mind : SoobinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang