Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Ada yang kirim makanan buat gue barusan. Pagi banget, sialan, ganggu tidur gue. Kamar gue digedor-gedor Tante Jessi. Mending kalo makanannya yang gue suka, ini liatnya aja males,” celoteh Soobin begitu muncul di kamar Yeonjun.
Yeonjun terkekeh melihat penampilan teman indekosnya. Masih dengan baju tidurnya, laki-laki yang lebih muda itu bersandar di pintu dengan mata setengah terpejam, tak lama ia menguap. “Masuk, Soob. Memang siapa yang ngirim?”
Soobin melangkah masuk kemudian menjatuhkan tubuhnya di bean bag yang terletak di sudut ruangan. “Gak tau, Tante Jessi juga gak nanya driver-nya. Lo mau, Bang? Ada di kamar gue, kalo gak mau biar gue kasih pak satpam.”
“Ya udah, kasih Pak Lee aja. Kita keluar cari sarapan, yuk,” ajak Yeonjun sembari mengambil hoodie-nya. “Lo mau makan apa?”
“Wah, baru dapet komisi, Bang? Tumben ngajakin jajan.”
“Yang bilang gue mau bayarin lo siapa?”
“Sial. Udah lah, mending tidur lagi gue.” Soobin bangkit dari tempat duduknya. Yeonjun pikir ia akan kembali ke kamarnya sendiri, tapi ternyata Soobin melompat ke tempat tidur, menarik selimut milik Yeonjun untuk menutupi tubuhnya.
“Heh, balik ke kamar lo, ngapain tidur di sini?” Yeonjun menendang tubuh Soobin pelan.
“Jauh, Bang, ikut tidur bentaran. Nanti gue pindah pas lo beres sarapan,” sahut Soobin sebelum memejamkan mata.
Yeonjun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Sate ayam mau gak? Kita makan di sini aja.”
Soobin terbelalak. “Serius? Emang cuma lo, Bang, yang peduli sama gue di sini. I love you dah.”
“Hm. Gue pergi dulu.”
“Pake lontong jangan lupa, Bang! Sekalian tolong mampir ke kamar gue, kasihin bungkusan di atas meja buat Pak Lee!” pesan Soobin.
“Banyak request!”
*
“Malem Minggu gak ke mana-mana lo?” tanya Yeonjun melihat Soobin termenung di teras. Ia menempati kursi kosong di samping pemuda berambut hitam itu.
“Bang, ada yang ngasih ini buat gue.” Soobin menunjukkan amplop di tangannya pada Yeonjun. “Pas gue pulang dari kampus, itu ada di lantai kamar. Kayaknya diselipin lewat bawah pintu.”
“Apaan nih? Boleh gue baca?” Yeonjun meminta izin sebelum membuka amplop tersebut.
“Iye, baca aja. Gue gak tau siapa yang ngirim, mungkin lo tau itu tulisan siapa.”
Yeonjun mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop kemudian membacanya. Matanya membulat, beberapa saat kemudian ia tertawa. “Anjir! Anjir, si Soobin dapet surat cinta!”