Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kalo aku pergi, kakak sedih gak?”
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Soobin mengalihkan perhatian Yeonjun dari komik yang sedang dibacanya. Ia menatap lelaki yang lebih muda dengan dahi berkerut. “Lu mau pergi ke mana?” tanyanya.
Soobin mengangkat bahu, kedua tangannya memeluk bantal milik Yeonjun dengan lebih erat. “Misalnya, Kak, misalnya aku pergi jauh ninggalin kakak dan gak balik-balik lagi, kakak bakal gimana?”
Yeonjun mendengus kemudian memalingkan wajahnya. “Ganti pertanyaannya, gua gak suka.”
“Kaaak,” rengek Soobin, “jawab dulu ih.”
“Gak.”
“Aku marah nih, liat .... Kak, liat, aku marah.” Soobin menarik-narik ujung kaos Yeonjun, memaksa laki-laki itu untuk kembali memberikan atensi padanya.
Meski setengah hati, akhirnya Yeonjun menoleh. Mau tak mau ia tersenyum mendapati Soobin menatapnya dengan mata menyipit dan bibir mengerucut. Benar-benar imut. Jika itu yang dimaksud Soobin dengan marah, maka sepertinya ia tak keberatan menjadi korban kemarahannya setiap saat. “Iya, ini udah liat, serem. Terus sekarang apa?”
“Sekarang jawab pertanyaannya,” ujar Soobin setelah memukul Yeonjun dengan bantal.
“Itu jawabannya.” Pemuda berambut hitam itu memandang lawan bicaranya lekat-lekat. “Gua gak bisa bayangin, gak tau gimana jadinya hidup gua kalo lu pergi ninggalin gua, apalagi sampe gak balik-balik lagi.”
“Oh, berarti bakalan sedih ya ....” Soobin mengangguk-angguk. “Oke deh, aku gak akan pergi, biar kakak gak sedih.”
“Emang tadinya lu beneran mau pergi, Soob?” tanya Yeonjun tak percaya, yang diikuti tawa kecil Soobin.
“Fifty-fifty sih kemungkinannya, soalnya kakak suka nyebelin, tapi gak apa-apa, aku bakal ambil risikonya.”
“Maksudnya apa?”
“Kakak jangan ninggalin aku juga ya,” ucap Soobin setengah berbisik tanpa menggubris pertanyaan Yeonjun.
“Gua gak akan kemana-mana, Soobin.”
“Janji?”
“Janji. Lagian gua mau pergi ke mana? Yang mau nampung gua kan cuma keluarga lu, seisi dunia lainnya—bahkan keluarga gua—kompak musuhin gua.”
“Gak boleh gitu, banyak tau yang sayang sama kakak.” Soobin kembali cemberut. “Terus memangnya kakak tau semua penduduk di bumi ini? Kakak kenal Sultan Brunei? Presiden Kamerun? Ratu Denmark? Badak Sumatera? Cacing Alaska? Kok bisa bilang seisi dunia musuhin kakak.”
“Heh, heh, apa-apaan.” Soobin melompat turun dari tempat tidur ketika Yeonjun ingin menariknya lebih dekat. “Gak boleh tidur berduaan kata Kak Jungkook. Sana tidur, aku balik ke kamar.”
“Goodnight kiss-nya mana?” pinta Yeonjun setengah bercanda. Setengah, karena dia tentu tidak akan menolak jika Soobin benar-benar menciumnya.
“Silakan kiss tembok di samping Anda. Night, Kak Yeonjun, tidur yang nyenyak ya!” seru Soobin, lengkap dengan lambaian tangan serta senyuman yang menunjukkan lesung pipinya.
Terkekeh geli, Yeonjun menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. “Selamat tidur, Soob. I love you,” bisiknya sebelum memejamkan mata.
*
Sesampainya di kamar, Soobin meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menarik napas panjang dan mengumpulkan keberanian, ia kemudian menghubungi seseorang.