Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Bukannya lo bilang mau berhenti?”
Beomgyu mengalihkan pandangan dari komputernya, mendapati seorang pemuda bertubuh tinggi bersandar di pintu studio. Ia menatap sang tamu beberapa saat sebelum kembali fokus pada layar di hadapannya. “Memang, tapi bukan hari ini.”
Laki-laki berambut hitam itu mendekat, mengambil rokok yang terselip di antara jari Beomgyu kemudian mematikan dan membuangnya ke asbak yang sudah hampir penuh.
“Hei!” Beomgyu hendak protes, tapi pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan energinya. “Apa yang lo lakuin di sini, Soobin?”
“Gue baru denger dari Taehyun. Kenapa lo gak bilang kalo beberapa hari yang lalu lo sakit?” tanya Soobin.
“Beberapa hari yang lalu. Sekarang gue udah baik-baik aja, gak usah khawatir.” Beomgyu mengedikkan bahu, jarinya sesekali menekan keyboard dan mouse.
“Choi Beomgyu.”
“Choi Soobin,” balas Beomgyu dengan nada yang sama.
Soobin menghela napas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi kosong di samping Beomgyu. “Gue gak suka kalo lo sakit dan gue gak ada buat ngurus lo.”
Sesaat lelaki yang lebih muda menghentikan aktivitasnya. “Gak apa-apa, gue tau lo sibuk. Gak usah dipikirin.”
“Lo udah berapa lama di sini?” Soobin mengganti topik pembicaraan dan menatap sekeliling studio. Wadah-wadah ramen instan yang sudah kosong serta beberapa botol minuman isotonik berserakan di meja. Sebuah hoodie dibiarkan tergeletak di sofa. Soobin tersenyum saat mengenali hoodie tersebut sebagai miliknya, namun tak lama senyumnya memudar kala netranya menangkap dua bungkus rokok serta korek api di sudut meja komputer.
Perlahan, Soobin mengambil mouse dari tangan Beomgyu. “Pindah,” ujarnya.
“Apa sih? Gue lagi ngerjain musik gue.”
“Gue pinjem komputer lo sebentar. Lo istirahat dulu aja.” Soobin menunjuk sofa yang ada di belakang mereka.
“Lo gak bisa seenak—”
“Gue bisa, dan gue maksa,” potong Soobin. “Save kerjaan lo terus istirahat, gue yakin lo pasti kurang tidur.”
Walaupun sambil mengomel, Beomgyu menurut. Ia berbaring di sofa, memakai hoodie milik Soobin untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Dari posisinya saat ini, ia hanya bisa melihat punggung lebar Soobin dan sedikit bagian samping wajahnya. Beomgyu memperhatikan pemuda itu hingga matanya terasa berat dan akhirnya ia tertidur.
*
Keadaan studionya gelap ketika Beomgyu terbangun, meski samar-samar ia masih bisa melihat pergerakan di hadapannya. “Soobin?” panggilnya pelan. Beomgyu tidak akan mengakuinya, namun dirinya merasa sedikit ketakutan.