Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Taehyun melangkah keluar dari kamar, berhenti sejenak untuk menyimpan tasnya di lantai agar ia bisa memakai jaketnya. “Soob, aku ke studio dulu ya. Ada janji sama Kak Dahye, mau ngomongin soal proyek musik kita.”
Soobin yang tengah duduk di sofa sambil menyaksikan video musik dari laptopnya hanya berdehem.
Mengernyit karena respon singkat yang tidak biasa, Taehyun menoleh, mendapati sang pemuda jangkung sedang menatap tajam layar di hadapannya. Ia mengalihkan pandangan pada video yang sedang ditonton Soobin, namun tidak menemukan apapun yang mungkin menjadi sumber kekesalannya. “Ada apa?”
“Gak ada,” jawab Soobin datar. Musik yang diputar sudah berhenti, dan kini ia mulai mengetik, mencari video lain yang ingin ia lihat.
“Aku yakin pasti ada sesuatu,” Taehyun berkata, memperhatikan jari-jari panjang Soobin menekan keyboard dengan penuh tenaga. Meringis, ia berdoa semoga setelah ini laptopnya baik-baik saja.
“Gak, gak ada apa-apa. Udah sana, nanti Dahye kelamaan nunggu.” Soobin mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Taehyun untuk pergi.
Alih-alih melangkah menjauh, Taehyun duduk di samping jejaka favoritnya. “Okay, stop abusing the keyboard. Sekarang kasih tau aku, ada masalah apa.”
Akhirnya Soobin menatap mata Taehyun. Mendengus, ia menyilangkan tangannya di dada. “Kemarenan Chaerin jadi tutor kamu, terus kamu jadi model buat klub fotografinya Sohyun, sekarang proyek musik bareng Dahye. Ada apa sih sama kamu dan mbak-mbak? Kamu suka ya sama mereka?”
Taehyun awalnya kebingungan, namun setelah paham dengan ucapan Soobin, ia menyeringai. “Kamu cemburu?”
Yang ditanya kembali mendengus. “Aku? Cemburu sama mereka? Gak lah, ngapain?”
“Masa sih? Soalnya keliatan kayak gitu,” goda Taehyun, matanya berbinar jahil. “Kamu juga lebih tua dari aku, kalo kamu lupa.”
“Hei, aku bukan mbak-mbak!” protes Soobin, mencoba untuk memukul Taehyun, tapi yang lebih muda dengan sigap menangkap tangannya.
“Oh, atau gara-gara aku manggil mereka kakak ya? Kamu mau aku panggil 'Kak' juga?” Entah kenapa Taehyun sedang ingin menggoda Soobin. Ia suka jika laki-laki itu mencoba terlihat galak dan menyeramkan tetapi yang ada malah tampak imut dan menggemaskan.
“Apa maksud—”
“Atau Mas? Mas Soobin.”
Mata Soobin membulat ketika Taehyun mengatakannya. “Diem.”
Tentu saja Taehyun tidak mendengarkannya. “Mas Soobin,” panggilnya lagi, memekik dalam hati kala kedua pipi Soobin merona.
“Aku bilang diem!” Soobin menarik tangannya lalu mencubit pinggang Taehyun, merengut ketika lelaki di sampingnya terkekeh geli. “Berhenti ngeledekin aku!”
“Iya, maaf.” Taehyun mengecup bibir Soobin kemudian tersenyum. “Soob ... kamu gak perlu cemburu, gak peduli berapa banyak orang-orang yang kerja bareng aku, I won't fall for them. Tau kenapa? Soalnya hati aku punyanya Soobin, dan cuma buat Soobin. Aku boleh pergi gak sekarang?”
Soobin masih merajuk, namun ketika Taehyun kembali menciumnya, ia menghela napas. “Dasar tukang gombal. Iya, boleh, tapi jangan sampe malem banget, terus pulangnya beliin roti kesukaan aku.”
Mengacak rambut kekasihnya penuh sayang, Taehyun mengangguk. “Oke, Mas, nanti adek beliin buat Mas Soobin.”