yeji sedang merapikan meja makan saat tiba tiba ia melihat suaminya turun dengan kaus rumahan dan celana pendek miliknya. jeno baru saja pulang bekerja dan langsung mandi karena merasa risih setelah bekerja seharian.
"ibu yeji, coba tolong di cek m-banking nya, ya. Uang bulanan udah turun nih" ujar jeno sambil berdiri bersandar di kulkas. ia mengangkat kedua alisnya kepada sang istri.
"sebentar, pak" mendengar uang bulanan yang sudah turun, cepat cepat yeji mengambil ponsel nya di meja. Mengecek aplikasi m-banking yang ada di ponsel nya untuk mencari tahu bulanan sudah cair tau belum.
raut wajah yeji berubah sumringah begitu menyadari saldo di rekeningnya bertambah. "bapak jeno, ini ngga salah transfer?" yeji bertanya ketika matanya menatap ada yang aneh dengan saldonya.
jeno yang sedang mengigit apel menoleh. "salah kenapa? udah masuk tapi kan?" tanya nya kebingungan.
yeji menganggukan kepalanya. "udah sih cuma kayanya ada ketambahan satu digit nih"
jeno menganggukan kepalanya. "oh itu, tadi dapet bonus. biasa. Lagipula skincare mu udah habis, kan? terus juga mau ke saloj juga. ya udah lah pake aja. lagian aku kerja juga buat kamu" ujar jeno santai membuat yeji membulatkan matanya gembira.
ia lantas berjalan memeluk suami nya dari samping kemudian mencium pipinya. "i love you" jeno tertawa karena geli. "iya. i love you too. eh tapi eric mana?" ujar jeno menanyakan kemana anaknya pergi karena tidak biasanya eric kembali malam seperti ini apalagi dalam kondisi kakinya yang masih luka.
"belum balik dia. ikut kakak kakak nya kali apa main sama sunoo yoshi" ujar yeji sambil mengambilkan nasi untuk jeno.
"masa? perasaan si kembar udah pulang deh tadi kata bang jae. jacob ada di lab sejak pulang sekolah. main di rumah younghoon kali ya jadinya lama" ujar jeno mencoba ber positif thingking mengingat rumah younghoon paling jauh dari rumah mereka dan kemungkinan juga eric akan kemalaman di jalan.
"iya kali. ya udah makan dulu aja nanti sisain buat eric. Nanti kalau kurang aku makan lagi. kalau nunggu eric kamu kelaperan" ujar yeji sambil memberikan lauk kepada jeno yang sudah menelan apel nya. jeno menganggukan kepalanya mengambil "thanks, sayang"
belum jeno menghabiskan setengah porsi makan malam nya, pintu rumah mereka terbuka menampakkan eric masuk dengan wajah dan seragam bersimbah darah dan tentu saja yeji panik bukan main.
"ERIC? KENAPA LAGI KAMU?" jeno memejamkan matanya saat yeji tiba tiba berteriak di sebelah nya. sebenarnya yeji bukan tipe orang yang sering menarik urat ketika berbicara, tapi entah kenapa setelah eric dewasa dan sering pulang babak belur, dia sering teriak karena khawatir bukan main. jeno juga awalnya panik tapi sekarang dia sudah terbiasa dengan anaknya yang pulang selalu saja membawa luka baru di tubuhnya.
"mama ini bukan darah eric, tenang tenang" ujar eric menghentikan mama nya yang panik. jeno menggelengkan kepalanya kemudian meneguk minumnya sebelum menghampiri anak dan istrinya yang berdiri di dekat pintu masuk.
"terus ini darah siapa? ini seragam mu merah semua, muka mu juga? mana yang luka itu juga bibirnya sobek. kamu berantem sama siapa lagi, eric?" eric membulatkan matanya saat mendengar berondongan pertanyaan dari sang mama. Dia bingung mau jawab yang mana dulu ini!
"yeji, udah. eric nya bingung. pelan pelan nanya nya" jeno berujar ketika melihat raut wajah anak nya yang kebingungan menjawab pertanyaan sang mama. yeji menghela napas. "oke oke, mama minta maaf"
"kamu kecelakaan dimana de? ini darahnya banyak banget kaya abis ketabrak lari" eric menggelengkan kepalanya. "engga, mama. eric ngga kecelakaan. tadi pulangnya nebeng kak kevin. aman" eric menjawab pertanyaan yeji jujur.
yeji langsung lega. "kamu berantem?" eric kali ini menganggukan kepalanya. "iya"
jeno dan yeji saling pandang. "berantem sama siapa kamu nyampe darahnya sebanyak ini? biasanya kamu berantem cuma luka doang ini kamu ngehajar orang sampai mati?" eric terdiam dan berkedip sejenak.
"sebenarnya tadi giselle hampir dilecehkan, mama" yeji langsung ke trigger mendengar kata dilecehkan.
mendengar istrinya terdiam, jeno langsung mengambil alih. "gimana? giselle? kok bisa?" ujar jeno bertanya. eric kemudian menceritakan sebenar benarnya kejadian awal mula kenapa giselle bisa dilecehkan.
"tapi giselle ngga kenapa napa kan? kamu dateng tepat waktu kan de?" eric menganggukan kepalanya. "iya, ma. aku sama ningning berantem tadi. badannya kaya hulk semua. besar besar. preman kali ya" ujar eric menceritakan.
mendengar anak bungsu dari kakaknya ikut serta, jeno menganggukan kepalanya. "oh itu luka kena darah preman yang ditembak ningning, ya?" ujar jeno berspekulasi karena ia tahu si bungsu, satu satunya keponakan perempuannya itu andal dalam pertarungan jarak dekat dengan menggunakan pistol wah pasti ini darah orang orang yang dihabisi ningning. Namun gelengan kepala eric membuat ekspetasi jeno terhenti.
"bukan ningning?" jeno bertanya memastikan. eric menggelengkan kepalanya. "bukan, papa. ningning lupa ngga bawa pistol ke sekolah"
"terus itu darah kenapa nyampe ngotorin baju gitu?" yeji bertanya.
"anu ini darah orang yang dibunuh giselle nyembur kesini soalnya giselle pake gunting taman dan posisinya preman itu deket sama eric, kena deh" eric menceritakan tanpa beban dan tidak mengetahui kalau dua orang dihadapannya sudah shock berat.
yeji sampai terduduk di sofa dan jeno memijat keningnya pening. "terus jasad nya gimana? putus kan itu lehernya? di gunting atau gunting nya di tembusin ke jantung?"
eric mengangkat bahu. "dua duanya"
"damn, anaknya yuta" jeno langsung speechless. "terus sekarang jasadnya? ketahuan polisi dong?" eric mengangkat bahu.
"kata kokoh ada yang ngurus kok"
"siapa yang ngurus?"
***
"gue lagi gue lagi. untung gue inget kalau monica butuh makan. kalau engga gue ogah banget bawa mereka begini" younghoon yang berdiri sambil meminum susu kotak strawberry nya menepuk bahu sepupunya yang masih mengeluh saat membuka bagian belakang bak mobil yang sudah ditutup kantung plastik hitam besar guna menutupi jasad jasad yang bahkan terbilang tidak wajar.
"udahlah, terima aja job lu begini sebagai supir" younghoon berujar enteng mengabaikan rasa sebal hyunjae.
"kak jaeyoon, minta tolong di bawa ke kandang milo. sisain buat monika sama temen temen nya, ya" younghoon berujar kepada jaeyoon yang berdiri menatap ngeri jenazah di hadapan nya. tentu saja.
"ini bawa nya gimana?" jaeyoon menunjuk kepala yang sudah terpisah dari badannya.
"ditenteng ga bisa?" younghoon bertanya tanpa dosa. hyunjae yang masih sebal memukul punggung sepupunya. "dipikir coba koh, itu ngga ada rambut nya. mau nenteng kepala kaya gimana?"
younghoon mengaduh. "ya udah glindingin aja lah, ngga usah ribet ribet" ujar nya mengibaskan tangan tidak terlalu peduli, toh nanti juga tinggal sisa tulang tulang saja.
jaeyoon kemudian mengambil sebuah tali dan mengikatnya di kepala plontos pria tersebut dan membawanya, dia tidak sampai hati untuk menggelindingkan kepala pria berdosa di hadapannya.
"ini nanti tolong bersihin lagi mobil nya ya, gue mau ketemu sama kesayangan gue dulu" hyunjae menitip pesan kepada salah satu orang yang berada di dekat mereka kemudian berjalan menuju sebuah kandang yang berada tidak jauh dari mobil yang ia parkirkan. younghoon berjalan mengikuti hyunjae sambil menggigiti sedotan susu strawberry nya.
"halo monica sayang" younghoon langsung menatap salty hyunjae saat ia melihat sepupunya menyapa ular sanca di kandang yang seolah olah antusias dengan kedatangan sang majikan. Hyunjae lantas memasukkan tangannya ke kandang dan mengelus elus kepala ular sanca besar yang langsung tunduk di hadapannya.
younghoon menatap hyunjae kemudian berdecih. "orang gila"
---
jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya buat next update
KAMU SEDANG MEMBACA
KINGDOM
Fanfictionthis is kingdom you've been waiting for, right? ATEEZ, THE BOYZ, NCT third story of regno universe, go check them before you read this book! written with lowercase by amethystsnowie