28

19.4K 1.3K 5
                                        

"Keluarga mu sangat ramah." ucap Arsen.

"Ya, begitulah." jawab Abyan acuh.

Keduanya tengah menonton televisi bersama, setelah keluarga nya pergi suasana menjadi sunyi kembali, hanya suara langkah kaki beberapa maid yang bolak-balik, mengerjakan tugas nya.

"Apa kau tak mau kencan hari ini?" tanya Arsen.

"Aku malas keluar, kita kencan di rumah saja." ucap Abyan.

Arsen mengangguk, ia menarik pinggang Abyan agar lebih mendekat.

"Baiklah, seharian ini akan aku patuhi semua perintah mu." Arsen mencium pipi Abyan sekilas.

Abyan hanya diam, ia terlalu terkejut saat ia mendapat ciuman di pipi, menurut nya ciuman di pipi sangat manis dibanding di bibir.

"Wajah mu, me merah." cetus Arsen.

Abyan terkesiap, ia menjadi salah tingkah.

"Kau malu." goda Arsen, ia meremas paha Abyan.

"Diamlah, dan singkirkan tangan mu itu." Abyan menarik tangan Arsen yang lancang membuatnya meremang.

Arsen hanya terkekeh, kadang menurutnya Abyan ini sangat manis.

Arsen mengelus kepala Abyan, yang kini bersandar di bahu nya. Andai saja Rose tidak mengandung anak nya, maka Arsen akan dengan tulus mencoba mencintai Abyan.

Apa yang ia takutkan untuk mencintai Abyan, suami nya nyaris sempurna secara fisik. Kekuasaan? Jelas saja Abyan di atas nya, apalagi? Hanya saja Abyan tak bisa memberikan nya keturunan, dan hal itu yang membuat nya sulit menerima Abyan.

Sedangkan Rose? Perempuan itu mengandung darah daging nya, ibu dari calon anak nya.

Tiga tahun mengenal Rose membuat Arsen tahu segala nya, tahu seluk-beluk kehidupan Rose, ia tak akan mampu meninggalkan Rose, yang menggantungkan hidup nya.

"Kau ada masalah?" tanya Abyan, ia menghentikan elusan Arsen, dan membuyarkan lamunan nya.

"Tidak." Arsen menggeleng kecil.

"Lalu kenapa kau diam sedari tadi?" ucap Abyan.

"Aku bertanya-tanya, kenapa kau semanis ini." ucap Arsen, lagi-lagi ia mencium pipi Abyan. "Dan aku suka saat kau malu, seperti ini, kau berkali-kali lebih manis."

"Mulut dan segala kata-kata manis mu, memang berbahaya." cetus Abyan.

Apa ini, dia terus menggoda ku? Abyan menggelengkan kepalanya.

"Maaf mengganggu anda Tuan, Tuan Lucas menunggu anda di ruang tamu." lapor Lalisa.

Abyan berdiri dari duduk nya. "Aku akan menemui nya, tunggulah disini." ucapnya, pada Arsen, hanya dibalas anggukan.

Lalisa membungkuk, lalu pamit undur diri.

Lucas menyesap kopi buatan maid, ia rasanya sedang berkunjung ke hotel berbintang, karena selalu di beri pelayanan baik di rumah Abyan.

"Ada apa kau menemui ku, sedangkan kita tidak ada janji." Abyan datang duduk di hadapan Lucas.

"Kau seperti sedang di perusahaan saja." cetus Lucas, ia mendengus lalu meletakan cangkir kopi nya.

Abyan merotasikan matanya, ia menjadi heran pada dirinya sendiri, kenapa ia harus bertemu orang menyebalkan seperti Lukas.

"Ada sesuatu yang ingin ku katakan dan meminta bantuan mu." ucap Lukas, ia tak ingin basa-basi lagi.

"Katakan." Abyan menanggapi dengan serius.

Lucas menghela napas nya. "Ini soal Vans, aku berbuat sesuatu padanya, sampai dia tak bisa memaafkan ku."

Abyan mengerutkan kening nya tak mengerti. "Apa yang kau perbuat padanya?" tanya nya.

Lucas menghela napas nya. "Aku memperkosa nya." Ia berkata lirih.

"Apa!" pekik nya, Abyan sontak menarik kerah kemeja Lucas. "Bajingan ini." desisnya, ia naik pitam saat mendengarnya.

Lucas sampai tak bisa berkutik, ia menjadi merasa sudah salah mengatakan hal itu.

Bug

Satu pukulan ia terima dari Abyan, para maid sampai berteriak histeris karena terkejut dengan apa yang terjadi.

"Sialan." umpat Lucas, saat Abyan akan memukul nya kembali, Lucas menahan tangan Abyan.

"Ini alasan kenapa aku tak ingin punya teman, karena semua nya sama seperti mu, bajingan." ucap Abyan, ia benar-benar emosi saat mendengat Lucas melecehkan Vans, bagaimana nasib asisten nya itu, pantas saja ada yang berbeda dari Vans akhir-akhir ini.

"Aku bisa jelaskan, jangan memukuli ku." Lucas melepas cengkraman Abyan, ia menjauh beberapa langkah.

Abyan menghembuskan napas nya, tak seharusnya ia lepas kendali.

"Jelaskan." tegas nya, menatap tajam pada Lucas.

Lucas duduk kembali, ia mengelus pipi nya yang terasa ngilu, pukulan Abyan tak bisa di remehkan.

"Malam itu aku tak sadar, aku mabuk berat entah kenapa Vans bisa mengantar ku pulang, karena aku tak ingat apapun, tapi yang jelas aku melecehkan nya dan juga memukuli nya. Terbukti saat aku sadar pagi hari, aku melihat wajah dan bahu nya terdapat lebam, dan yang jelas aku membuatnya marah karena melecehkan nya." tutur Lucas dengan penuh rasa bersalah.

Abyan menekan pelipis nya, ia tak habis pikir dengan Lucas.

"Aku mendukung Vans, dia memang tak harus memaafkan bedebah seperti mu." ucap Abyan.

"Aku bercerita padamu, agar kau mau membantu ku mendapat kan maaf nya, bukan nya seperti ini." cetus Lucas tak terima.

"Lalu dengan maaf mu, kau bisa mengembalikan sesuatu yang hilang pada nya? dia kehilangan harga diri nya, dia pasti susah mendapatkan pasangan." jelas Abyan. "Perempuan ataupun pria dia akan sulit mendapatkan nya, karena rasa percaya diri nya sudah hilang. Lalu apa bisa kau mengembalikan nya?" lanjutnya.

Lucas menghembuskan napas nya, yang dikatakan Abyan benar, perbuatan nya tak bisa di maafkan, tapi ia sangat merasa bersalah.

"Tapi setidak nya aku sangat merasa bersalah, walau tak bisa mengembalikan apa yang kau katakan." tutur Lucas, ia menunduk lesu.

"Vans orang pendiam, selama dia menjadi asisten ku, dia minim melakukan kesalahan, aku sudah sangat percaya padanya, dia seperti sodara ku sendiri, dan kau, dengan tingkah bajingan mu, melukai hati nya." ungkap Abyan, ia menjadi khawatir pada Vans. "Aku tak peduli kau merasa bersalah atau apapun itu, yang jelas perbuatan mu tak termaafkan." tekan Abyan.

Lucas semakin merasa tersudutkan, apa ia harus menyerah untuk mendapatkan maaf Vans.

"Coba kau bayangkan jika diposisi nya, jangankan memaafkan mu dia pasti tak ingin menemui mu." tambah Abyan.

Walaupun Abyan terlihat cuek tak peduli, tapi ia sangat mengerti bagaimana Vans saat ini.

"Lalu aku harus menyerah?" tanya Lucas, ia sudah tak bisa berpikir jernih.

Abyan menggeleng. "Kau harus berusaha lebih keras, luka Vans sangat besar dia pasti mengalami masa sulit saat ini, dia pasti merasa terhina." jelas Abyan.

"Lalu apa yang harus aku lakukan, jangan bertele-tele." Lucas sudah di ambang kekesalan nya.

"Selalu bersamanya apapun yang terjadi, selalu buat dia merasa bahwa dia bukan orang tercela." ucap Abyan. "Ku harap kau mengerti." lanjutnya.

Lucas mengangguk. "Terima kasih, maaf mengganggu mu." ucapnya.

"Kali ini ku maafkan, tapi lain kali aku tak akan menerima maaf mu. Kau sangat mengganggu kencan ku dan suami ku." tutur Abyan.









LUKA [Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang