14

18.4K 1.4K 81
                                        

Abyan memakai piama warna biru tua malam ini. ia memainkan ponsel nya, ia pikir tidur satu ranjang dengan Arsen tak kan secanggung ini.

"Mama besok mau kesini." ucap Abyan, membuka pesan dari Mama nya. "Kau titipkan Rose kemanapun yang kau bisa." lanjutnya.

"Aku ingin bicara serius." tutur Abyan, ia menyimpan ponsel nya. Mendengar itu Arsen duduk dihadapan Abyan, keduanya saling berhadapan duduk diatas ranjang.

"Baiklah." ucap Arsen.

"Aku tahu aku salah, aku selalu memojokan Rose, aku tahu aku orang ketiga dalam hubungan kalian, tapi apa kau pernah memikirkan perasaan ku?" ucap Abyan, ia menahan mati-matian agar suara nya tidak bergetar.

"Berhenti bicara, ini tak kan merubah apapun." sela Arsen, ia tak mau jika mendengar perkataan Abyan, itu akan membuatnya merasa bersalah.

"Kenapa?" tanya Abyan. "Kenapa kau tak bisa menerimaku." lanjut Abyan. "Sebenarnya saat ini Rose lah orang ketiga, karena disini posisi ku sebagai pasangan sah." lanjutnya.

Arsen memalingkan wajah nya, jujur saja ia tak suka merasa bersalah seperti ini, namun cinta tak bisa di paksa.

"Jawab aku, apa yang harus aku lakukan!" Abyan sedikit menaikan nada bicara nya. "Jalang itu, dia..."

Bukan nya menjawab Arsen bangkit dari duduk nya, meninggalkan Abyan.

"Bukan Rose yang jalang, tapi kau, kau yang murah ingin menikahi pria yang dengan jelas membenci mu." tutur Arsen sebelum ia pergi.

Abyan meremat selimut nya, ia memejamkan matanya menahan sesak di dada nya, bagaimana ia bisa menyadarkan Arsen, jika bicara tentang hubungan keduanya saja Arsen tak mau.

Abyan merebahkan tubuh nya, ia tak peduli dengan Arsen jika tak kembali pun.

Arsen menyesap kopi yang ia buat sendiri, ia sedikit memikirkan ucapan Abyan.

Yang paling mengganggu nya saat ini adalah Rose, ia harus membawa Rose keluar besok jika tidak mertua nya akan curiga.

Lama berpikir sampai kopi yang tengah ia nikmati telah tandas, Arsen segera kembali ke kamar Abyan.

Saat masuk ke kamar suami nya itu, ia sudah melihat Abyan yang sudah memejamkan matanya.

Arsen beringsut merebahkan tubuh nya disamping Abyan.

"Good nigth." lirih Arsen, ia menyesul Abyan mengejar alam mimpi nya.

__________

Seperti yang semalam Abyan katakan, Mama nya sudah ada di ruang tamu tengah duduk dengan elegan.

Abyan datang dengan setelan santai, ia langsung duduk disamping Mama nya.

"Mama datang di saat hari kerja, so ada apa?" ucap Abyan.

"Sorry son, Mama merindukan mu, kau dan Arsen tak pernah mengunjungi rumah." tutur Mama. "Mama sedikit khawatir, sampai Papa mu mendatangi menantu." lanjutnya.

Abyan mengerutkan kening nya, ia tak tahu perihal itu.

"Aku tidak tahu tentang itu." ucapnya.

"Apa kau tak punya sesuatu untuk dikatakan?" tanya Mama, Abyan menggeleng pelan. "Kemana perempuan itu?" Mama mengedarkan pandangan nya.

"Ma.."

"Mama tahu, sudah cukup kau menyimpan itu. Apa yang ada di otak mu itu, sampai melindungi perempuan tak tahu diri itu." sela Mama.

Abyan sontak terkejut dengan ucapan Mama nya, sejak kapan Mama nya tahu.

"Dimana Arsen sekarang?" tanya Mama.

"Arsen sudah pergi ke kantor." bohong Abyan, fakta sebenarnya Arsen tengah membawa Rose keluar entah kemana.

"Kau tak pintar berbohong, orang-orang Mama mengatakan Arsen tak ke kantor hari ini." ucap Mama.

Abyan menyerah orang tua nya, memang susah di kalahkan.

"Maaf." hanya itu yang keluar dari mulut Abyan.

Mama mendelik, ia merasa sakit hati saat anak nya berbohong hanya ingin melindungi orang yang menyakiti diri nya sendiri.

"Lalu apa yang mau kau lakukan?" tanya Mama. "Papa mu belum mengetahui nya." lanjut Mama.

Abyan menghembuskan napas nya lega, Mama nya sedikit bisa di ajak berkerja sama.

"Tolong jangan katakan apapun padanya, sampai aku sendiri yang mengatakan nya." tutur Abyan.

"Dia tak pantas mendapatkan cinta mu ini, Mama tak mau kau menyakiti diri sendiri, Mama menerima dia karena Mama ingin kau bahagia bukan..."

"Hanya seperti ini saja aku bahagia, tenang saja aku baik-baik saja." potong Abyan, ia tak ingin Mama nya berujung menangis dan itu akan membuat nya menyerah dengan keadaan nya.

"Katakan apapun pada Mama, Mama akan menjaga rahasia ini dari Papa. Tapi Mama mohon jika kau sudah tak tahan, pulanglah." tutur Mama, Abyan menarik sang Mama kepelukan nya.

Air mata sang Mama menetes membasahi bahu Abyan, sang anak setia mengelus pungguh bergetar Mama.

"Hanya kau...anak...Mama.." ucap Mama di sela tangis nya.

Bagaimana bisa seorang ibu tak sakit hati saat anak nya disakiti oleh orang yang anak nya cintai, selama ini ia sudah cukup diam saat bawahan nya melaporkan kelakuan Arsen pada anak semata wayang nya.

Mama melepas pelukan Abyan, ia menangkup kedua pipi Abyan lalu mengecup kening Abyan.

"Mama harap dia segera menyesal dengan apa yang dia perbuat." lirih Mama, saat melepas kecupan nya.

Abyan tersenyum tipis, ia semakin merasa sakit saat melihat Mama nya menangis.

"Mama akan menginap." ucap Mama.

Abyan membelalakan matanya, tak biasa nya Mama nya ingin menginap apalagi mengingat sang Mama yang selalu tak merasa nyaman jika tidur bukan di rumah nya sendiri.

______

Arsen mendekap Rose, keduanya tengah di taman.

Perasaan Arsen sebenarnya tak tenang, ia takut mertua nya mengetahui semua nya.

Ia mengelus rambut Rose.

"Sayang, apa di rumah ada tamu besar?" tanya Rose.

"Orang tua Abyan ada di rumah." ujar Arsen jujur.

Rose merengut. "Terus kenapa kita harus pergi keluar, seharus nya diam saja di rumah agar orang tua Abyan tahu, bahwa kita sudah sejauh ini, dan kamu akan cepat selesai dengan Abyan." tutur Rose sangat ringan.

"Itu tak semulus yang kau pikirkan Rose." ucap Arsen. "Abyan adalah orang yang menanam saham besar diperusahaan, dia menantu kesayangan Papa." ucap Arsen.

"Aku tahu aku miskin, yatim piatu tapi mengapa dunia selalu tak adil padaku?" lirih Rose berusaha menarik simpati Arsen.

"Kau punya aku, yang tak dimiliki siapapun." sela Arsen. "Bahkan Abyan sekalipun." lanjutnya.

Rose mengembangkan senyum nya, Arsen benar, selama diri nya memiliki Arsen ia tak perlu khawatir.

"Aku membenci Abyan, kenapa dia harus nerima tawaran Papa kamu, dia itu emang jalang, dia merebutmu dari ku. Seharus nya yang berdiri di altar itu aku dengan mu, bukan dirinya." ucap Rose.

Arsen hanya diam mendengarkan apa yang Rose katakan, Abyan memang penghancur hubungan nya dengan Rose.

Ia menghancurkan apa yang Arsen impikan.

Seharus nya Abyan sadar diri, dia memang orang ketiga dari hubungan nya dan Rose.

Jika saja Abyan menolak tawaran Papa nya, mungkin saja saat ini Rose tidak memiliki nama jelek karena di cap seorang pelakor.

Bahkan tak ayal banyak orang-orang di taman yang menatap keduanya kagum, mereka menyangka Rose adalah istri yang beruntung, sudah jelas bahwa Rose yang cocok dengan diri nya.


LUKA [Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang