29

20K 1.3K 21
                                        

Arsen tersenyum senang saat Lalisa mengatakan Abyan pergi menemui Vans, ia tak peduli dengan urusan Abyan.

Ia dengan senyum merekah, pergi menemui Rose.

Bahkan sampai membawa se ikat bunga mawar untuk Rose, sangat romantis bukan?

Arsen menekan bel apartement Rose, hingga beberapa menit pintu di buka.

Senyuman Arsen luntur saat mendapati pria yang membuka pintu.

"Anda siapa?" tanya Arsen. "Dimana Rose?" lanjutnya.

"Masuklah, Rose ada di dalam kami sedang makan siang bersama." ucap pria itu.

Arsen masuk dengan kesal, ia mendapati Rose tengah duduk manis sambil menyantap makanan nya.

"Kau datang!" pekik Rose, ia menghampiri Arsen.

"Ya, aku selalu memikirkan mu." ucap Arsen. "Siapa dia?" Arsen bertanya dengan kilatan kemarahan, sangat jelas jika ia cemburu.

"Dia Grey teman ku, kau tak perlu cemburu." jelas Rose. "Dia membantu ku membawa belanjaan waktu itu." lanjutnya. "Ini bunga untuk ku?" tanya Rose, ia mengambil bungan yang diberikan Arsen.

"Iya, aku mengingat mu saat melihat bunga itu." jawab Arsen.

"Kau suami nya?" tanya Grey. "Aku Grey." Ia mengulurkan tangan nya.

"Arsen." Ia menerima uluran tangan Grey.

"Rose mengeluh bosan pada ku, jadi aku menemani nya makan, jadi jangan marah padanya." jelas Grey, tak enak dengan suasana saat ini.

"Tentu saja kau sudah membantu Rose, mana mungkin aku marah." ucap Arsen setengah hati.

Keduanya duduk, sesekali berbincang ringan hingga Arsen mengetahui jika Grey sudah memiliki putri dan dia duda.

Sebenarnya dalam hati kecil nya, ia tak terima Rose berteman dengan Grey, bagaimana jika ia merebut Rose?

"Berapa usia putri mu?" tanya Arsen.

"Lima tahun." sahut Rose. "Putri Grey sangat cantik, aku jadi tidak sabar menunggu baby lahir." lanjutnya.

Arsen mengepalkan tangan nya, ia yakin Rose dan Grey sudah sangat dekat.

"Aku bertemu dengan putri Grey saat aku ikut menjemput nya, dia pintar sekali dan sangat sopan." Rose bercerita dengan semangat.

Membuat Arsen semakin panas, ia jadi tak mau meninggalkan Rose sendiri.

"Kalian sangat dekat ya." kekeh Arsen.

"Ya, Grey sudah sangat sering merepotkan dirinya karena ku." ucap Rose, sepertinya ia belum sadar jika saat ini Arsen sedang menahan kekesalan nya.

"Kau melebih-lebihkan, aku sama sekali tak repot membantu mu." sahut Grey.

Arsen menghela napas nya, rasanya ingin sekali membogem wajah Grey saat ini juga, bisa-bisa nya ia mengatakan itu pada Rose.

"Kau tak ada kerjaan?" tanya Arsen pada Grey.

"Ini hari libur." ucap Grey ia tersenyum, dan itu terlihat menyebalkan di mata Arsen.

"Lalu putri mu, pasti saat ini ia ingin menghabiskan waktu nya dengan mu." ucap Arsen, ia mencari-cari cara untuk memgusir Grey.

"Putri ku sedang berlibur bersama guru dan teman-teman nya, katanya piknik." jelas Grey.

Arsen tak bisa berkata-kata lagi, apa Grey ini tak mengerti jika dia tak nyaman dengan kehadiran nya? Apa pria dihadapan nya sangat tebal muka, itu sungguh membuatnya muak.

Aku tak mau Rose di buat pelarian mu saja, kau sudah pasti pria brengsek dan kau menduakan Rose, apa Rose tahu kebusukan mu? Aku jelas lebih baik dari mu. Batin Grey, ingin sekali ia mengatakan nya secara langsung namun ia tak mau gegabah, karena ia belum mengetahui kebenaran hubungan Arsen dan Rose.

Grey harus mencari tahu, karena jika bertanya pada Rose, wanita itu terus mengalihlkan pembicaraan nya.

"Kau tahu Arsen, nama putri Grey juga sangat bagus." celetuk Rose.

"Memang siapa namanya?" tanya Arsen, ia bersikap sebaik mungkin.

"Ellysa." ucap Rose. "Bukan kah manis?" lanjutnya.

"Iya, aku jadi penasaran dengan putri mu Grey, pasti dia sangat cantik dan manis sampai Rose terus membicarakan nya." tutur Arsen.

"Ya, dia princes di hidup ku, sudah jelas dia cantik dan manis." Grey berucap dengan bangga.

"Jika baby perempuan, aku ingin baby mirip dengan Elly." cetus Rose.

"Aku Ayah nya, seharus nya kau meminta dia mirip dengan ku." ucap Arsen tak terima.

"Tidak, aku sebal padamu jika pun aku mau, dia lebih baik mirip dengan Grey, pasti dia akan lembut dan baik." ucap Rose.

Arsen sampai menganga tak percaya, apa-apaan itu, ia semakin ingin menendang Grey dari sini.

Sedangkan di rumah, Abyan baru saja datang setelah menemui Vans, benar dugaan nya jika Vans tidak baik-baik saja, apalagi tadi ia melihat dengan jelas mata Vans sembap dan juga kusut.

Sampai Abyan memutuskan memberi cuti pada Vans, walaupun asisten nya itu menolak namun Abyan tidak menerima penolakan itu, ia benar-benar iba dengan keadaan Vans.

"Kau dari mana saja?" tanya Arsen yang baru saja datang.

"Bukan kah aku yang harus bertanya begitu?" cetus Abyan ia menghampiri Arsen yang terlihat lesu. "Ada apa dengan mu?" tanya nya.

"Itu bukan urusan mu." ketus Arsen.

Abyan mengerutkan kening nya, ada apa dengan Arsen, apa dia ada salah? Bukan kah siang tadi mereka baik-baik saja.

"Kau habis menemui Rose." cetus Abyan.

Arsen menghela napas nya. "Kau selalu menuduh ku, apa kau tak bisa, sekali saja percaya pada suami mu ini." ucap Arsen.

"Lalu kenapa kau harus marah, jika tuduhan ku tak benar." ucap Abyan.

"Seharus nya aku tak bersikap baik pada mu, kau memang tak pantas untuk di perlakukan baik." ucap Arsen.

Abyan sampai menganga, apa salah nya? Sampai Arsen mengatakan hal yang begitu menyakiti nya.

"Aku tak menyuruh mu bersikap baik pada ku." tekan Abyan. "Lalu kenapa kau memilih ku, kau bisa pergi dengan Rose." ucapnya.

Abyan melangkah pergi. "Bagaimana aku bisa percaya, jika sikap mu seperti ini." lirih nya sebelum benar-benar menaiki tangga.

Mendengar itu Arsen mengacak rambut nya, bagaimana bisa ia meluluhkan Abyan lagi.

Seharus nya ia mengontrol emosi nya, ini semua karena Grey yang mengacaukan nya.

Andai saja ia tak emosi pada bedebah itu, Abyan tak akan marah pada nya.

Harus bagaimana lagi ia meluluhkan Abyan, ia tak mungkin mulai dari awal.

Arsen semakin merasa pusing memikirkan nya, ia benar-benar buntu.

Abyan melempar pas bunga yang di atas nakas, sungguh rasa sesak itu memenuhi relung hati nya.

Lihat saja, besok ia akan mencari tahu tempat tinggal Rose.

Ia akan memberi perhitungan pada jalang itu, tak peduli jika masalah nya semakin membengkak, yang jelas ia harus melakukan nya.

Abyan sudah lelah di perlakukan seperti ini, ia lebih baik melajang sampai tua dari pada menjalin hubungan yang sudah rusak dari awal.

Abyan mengepalkan tangan nya, rasa sakit dan juga tak terima terus menggerogoti hati nya.

Jangan sama kan Abyan dengan orang sabar di luaran sana, karena di dunia ini yang tak bisa di maafkan adalah pengkhianatan.


LUKA [Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang