Geby menyantap bubur miliknya dengan terpaksa tanpa tahu di belakangnya kini ada sepasang mata yang menatapnya tajam.
"Habisin Nai awas aja kalau nggak. Lo tak hih sama gue." Tangannya bergerak menggorok tepat di lehernya sembari matanya yang melotot.
Geby hanya mampu menelan makanannya kasar. Nindi terlihat menyeramkan sekarang.
Tak lama meja mereka di hampiri dua orang siswa. Siapa lagi jika bukan Jo yang sering kali menempeli Nindi. Di sampingnya jelas s ketua kelas kita, Angga.
"Jangan keseringan makan pedes lo Jo." Nindi langsung memperingatinya saat melihat kuah bakso miliknya memerah sangat.
"Sesekali gak papa." Acuhnya.
"Muka lo keliatan pucet." Ucap Angga membuat Geby mendongak melihatnya.
"Hm." Hanya deheman singkat yang dia berikan.
Geby ini bukan orang yang gampang akrab. Dari dulu juga gitu maka tak heran dia terlihat tak perduli.
"Lo kalau sakit ijin aja." Saran Angga. "Guru juga gak gimana-gimana dari pada lo maksain ujungnya juga gak bener."
"Sok bijak lo Jo." Sungut Nindi misuh-misuh.
"Apa sih lo main nyerobot aja."
Setelahnya terjadilah pertengkaran keduanya. Angga menatap keduanya malas. "Sabar banget gue ngeliat lo berdua."
Geby terkekeh. "Biarin. Gue suka lihatnya."
Angga terdiam melihat senyum gadis itu. Wajahnya yang pucat tak menutupi bagaimana cantiknya gadis itu. Tanpa sadar dia ikut tersenyum.
Cantik banget ni cewek. Wajahnya pucet malah keliatan lucu apalagi hidungnya yang merah. Batinnya.
"Minggir lo."
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung. Angga yang memang duduk di paling ujung membuat tubuhnya terjengkang.
Seisi kantin yang melihatnya tercengang. Sang berandalan kini berhadapan dengan s teladan kelas Unggulan. Apa yang terjadi akan keduanya? Heksa tak biasanya mencari perkara lebih dulu.
"Lo gak papa Ga?" Jo langsung saja membantunya. Dia menatap Heksa marah. "Lo apa-apaan sih? Datang-datang buat rusuh aja."
Mata safirnya hanya meliriknya tajam lantas atensinya kembali menatap Geby. "Gak usah deket-deket cewek gue."
Mereka terdiam bahkan seisi kantin pun bisa mendengarnya.
Geby melotot. Dia segera bangkit, "lo- sialan." Umpatnya pelan. Tak mampu berkata lebih.
Geby tak mengerti dengan apa yang lelaki itu lakukan. Belum apa-apa tapi sepertinya Heksa sudah lebih dulu gila karenanya.
Tanpa kata Heksa menariknya mendekat, memeluk pinggang gadisnya posesif. "Kalau sampe gue liat lo deketin cewek gue lagi abis lo sama gue." Ucapannya itu bukan sekedar ancaman semata tapi ia tunjukkan pada semua orang akan kepemilikannya.
Geby memberontak yang membuat Heksa makin mengencangkan cengkraman tangannya. Dia pun pasrah, berdiri dengan malas di sampingnya.
"Lo juga." Di tatapnya gadis itu. "Gak usah deket-deket sama cowok lain. Gue gak suka." Heksa berucap rendah.
"Deket-deket dari mananya sih?" Geby jadi geram sendiri. Ini lakik gak ngaca kah? Dia bersikap seakan memang dia pasangannya. Padahal keduanya baru saja bertemu.
Dia cubit pinggang cowok itu membuat Heksa mengerang. "Sakit By." Lirihnya.
"Ya lo aneh-aneh aja. Sana minta maaf." Geby mendorongnya menjauh membuat rengkuhan keduanya sedikit melonggar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, Liebling!
Teen FictionCara biar gebetan lirik balik itu gimana caranya? Geby punya 1001 cara buat narik doi ke sisinya. Di buat gila juga karena hilangnya dia di hidupnya. Resikonya? Di kejar secara ugal-ugalan. "Kali ini akan gue buat lo sendiri yang ngejar gue." _G ...
