7. Sakit

179 11 2
                                        



"Gue rencana mau nyari soal Geby lagi."

"Bukannya udah pernah lo bobol bang?"

Tristan terdiam. "Gue mau minta bantuan seseorang."

"Sama bang Vano maksud lo?"

"Cuman itu yang bisa gue lakuin. Mudah-mudahan bisa buat tu bocah ngomong lagi biar gak murung kayak sekarang."

Ini sudah dua hari setelah pertemuannya dengan Geby. Gadis itu menghilang bak di telan bumi. Bahkan temannya Nindi yang ia introgasi kemarin pun tak tahu.

Guru memilih bungkam seakan memang di sengaja. Membuat Heksa uring-uringan. Lelaki itu pun sudah membolos dua hari ini. Dia hanya berdiam di markas, duduk di pojokan dengan rokok di kedua jemarinya.

Di bawahnya putung rokok berhamburan, minuman kaleng di mana-mana. Tidak saja dia meminum minuman keras untunglah Heksa bukan termasuk peminum.

"Gue ikut Tan." Lion menatapnya. "Gue juga gak mungkin diem doang."

"Lah terus gue bang gimana?" Galen menatap keduanya panik. "Gue gak mau duaan doang sama s bos. Nyeremin anjing!"

"Tar gue suruh anak-anak ke sini buat nemenin lo."

"Aelah lo gak usah ikut aja napa bang."

"Lo di sini aja dah Yon kasian s Galen."

Terpaksa Lion mengangguk. Padahal dirinya ikut ingin mengobati rasa penasarannya.

Geby, lo terlalu misterius.

☘️

"Mari pulang~ marilah pulang~ marilah pulang~"

Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kaki yang ikut ia goyangkan. Senyum merekah terpancar di wajah pucatnya. Geby tak sabar ingin segera pulang dan kembali bersekolah. Dia muak berada di ruangan serba putih ini.

"Seneng hm?" Puncak kepalanya ia elus. Geo ikut tersenyum melihat adiknya yang kembali ceria.

"Senenggg." Nadanya mendayu manja. Geby tersenyum polos pada Geo yang ada di depannya. "Nanti adek bisa langsung masuk sekolah kan abang? Adek udah gak sabar mau ketemu temen baru adek lagi." Serunya.

"Boleh sayang."

"Semuanya udah beres bang." Ghea datang dari arah pintu. Gadis itu baru saja mengurus administrasi sembari membawa obat untuk adiknya.

"Ayok pulang baby." Geo menggendongnya dengan satu tangan dan tangannya yang lain menjinjing tas adiknya.

"Biar Ghea aja bang."

"Gak usah sayang, kamu bawa tas laptop abang aja." Geo menunjuk tas laptop di meja.

Ghea tak protes dia langsung mengambilnya.

Ketiganya pun keluar dari kamar inap rumah sakit. Banyak pasang mata yang melihatnya.

Bagaimana Geo menggendong Geby belum visual lelaki itu yang tampan. Sungguh lelaki idaman sekali. Jerit para wanita di sana.

"Sampe rumah adek pengen sop telur buatan kakak."

"Iyah sayang."

Syukurlah kondisi adiknya sudah membaik walau wajahnya masih pucat tapi setidaknya Geby kembali ceria lagi. Berbeda dengan dua hari kemarin adiknya tak banyak bicara, hanya mengeluhkan kepalanya yang pusing.

Soal penjelasan dokter Samuel waktu itu Geo juga Ghea memilih menutupinya. Mereka tak akan bertanya lebih pada adiknya, agar Geby tetap merasa nyaman dan aman saat bersama mereka.

Hi, Liebling!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang