prolog

460 16 0
                                        

"Ih liat deh Heksa ganteng banget anjir!!"

"Semangat kak Heksa."

"Kyaaaa!! Heksa semangattt!"

Panas matahari tak membuat mereka menyingkir yang ada hanyalah pekikan cempreng yang makin heboh. Para siswi berjejer di pinggir lapangan, beberapa duduk di tribun yang lumayan teduh.

Mereka tak ada habisnya meneriaki satu nama.

Sang pangeran Antariksa.

Siang ini kelas IPA 9-2 tengah berolahraga yang di satukan dengan kelas IPA 8-1.

Yang membuat heboh tentu kelas IPA 9-2 itu sendiri.

Di tambah sekolah mereka sedang mengadakan rapat khusus tahunan membuat siswa siswi berkeliaran secara bebas. Tentu dengan tugas yang telah di berikan.

Namun, siapa yang akan mengerjakan itu? Kala guru tidak ada? Di tambah pangeran Antariksa tengah bermain bola di lapangan.

Mereka memilih melipir ke sana. Beberapa pergi menuju kantin sembari menonton dari jauh.

"Hah hah gila sih panas banget anjir." Salah satu lelaki di sana berujar dengan napas terengah.

"Istirahat dulu lh ceket ini gue." Timpal yang lain.

Segerombolan lelaki itu menghentikan permainan. Terduduk lemas di pinggir lapangan. Salah satu dari mereka langsung merebahkan dirinya. Tak perduli bila bajunya akan kotor.

Satu di antara mereka masih asik mengoper bola. Memainkan bolanya main main dengan kaki lantas melemparnya ke atas dan menangkapnya. Dia terlihat asik dengan dunianya padahal panas matahari menyorotnya penuh.

Bajunya telah basah oleh keringat. Tapi itu tak membuatnya menghentikan permainannya sendiri.

"Woy Heksa!! Minggir dulu bentar, ini panas banget anjir."

"Entar lo item tau rasa."

Matanya yang tajam meliriknya malas. Lantas berbalik menendang bolanya kembali.

"Bocah itu." Dengusnya. Tak habis fikir dengan temannya itu.

Tuk

Bola itu berhenti menggelinding tepat di kaki seseorang.

Heksa. Lelaki itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Lempar."

"Ambil aja sendiri." Balasnya acuh seraya melipat tangannya di dada.

Heksa mendengus. Seraya memutar bola matanya malas. "Gue gak mau basa basi. Jadi, bisa lempar itu sekarang?"

Sekilas ia menatap bola yang berada di bawah kakinya lantas menatap s empunya kembali.

"Nggak bisa." Tolaknya berani. "Kakak aja gak pernah jawab pernyataan aku tuh." Ungkapnya kekanak-kanakan sembari memalingkang wajahnya ke samping.

"Ck."

Enggan memperpanjang masalah Heksa memilih berbalik pergi. Biarlah bola itu di sana. Dia tak peduli.

"KAK HEKSA!!" Panggilnya kesal.

"Kapan kakak nerima perasaan aku?" Teriaknya lagi.

Suaranya membuat pandangan semua orang tertuju padanya.

"Seenggan itu yah?" Lirihnya.

Di tengah kebisingan itu Heksa masih bisa mendengar suaranya yang lirih.

Melihat tak ada pergerakan apapun darinya gadis itu menghela napas. Mungkin ini sudah waktunya dia melupakan lelaki itu. Cinta pertamanya.

"Sekali aja kak."
"Coba liat aku dengan pandangan berbeda."

"Keras kepala." Heksa berbalik lantas menatapnya dengan tajam.

Kini mereka jadi pusat perhatian bahkan beberapa melontarkan ucapan kasar.

Bagaimana tidak? Sang primadona Antariksa mengatakan hal yang begitu gila.

Setahunya mereka tak pernah dekat bahkan bersinggungan pun rasanya tidak pernah.

Bagaimana bisa gadis itu berucap demiikian dengan entengnya?

"Perlu gue omongin di sini?"

Mendengar suara dinginnya membuatnya melangkah mundur. "Aku tau."

Nyatanya seberapa keras pun dia mendekati Heksa. Hanya penolakan yang dia dapatkan.

"Bagus kalau lo tahu." Langkahnya ia bawa pergi sebelum berucap pelan. "Jadi berhenti untuk ngejar gue. Karna itu sia sia."

Tangannya mengepal di kedua sisi. "Baik."

"Aku pastiin kakak gak akan pernah ngeliat aku yang gila ini lagi. Yang ngejar kakak sampai gak tahu malu."

Setelahnya dia pergi. Meninggalkan keramaian yang mulai membicarakannya.

"Aku pastiin kamu bakalan nyesel kak."

"Dan semua ini belum berakhir." Ucapnya dalam hati.

Dia benar benar pergi. Meninggalkan sesosok yang kini hanya bisa memandanginya.

"Maaf By.."

Ucapan itu terucap begitu lirih. Terhembus begitu saja oleh kebisingan di sekitarnya.

Dia mengira semuanya pasti baik-baik saja. Seperti sebelumnya saat gadis itu menyatakan perasaannya.

Yang tak dia duga, kejadian itu menjadi akhir dirinya melihat gadisnya.

...
























Hi, Liebling!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang