[ FOLLOW DULU YA SEBELUM BACA ]
Ini kisah dua insan yang di pertemukan oleh sebuah takdir. Takdir lah yang membuat mereka bertemu dan akhirnya bersama. Saling melengkapi kekurangan masing-masing. Banyak perbedaan di antara mereka berdua. Salah satu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading semuanya.....
Berbeda orang tua, berbeda juga dengan kedua anak nya. Aaron dan Aathifah menikmati waktu berdua di kantin. Sang adik sibuk merengek kelaparan karena belum merasa kenyang saat sarapan di rumah tadi. Tanpa banyak bicara Aaron mengajak Aathifah ke kantin.
"Lo juga tadi di ajak ke kantin sok nolak " omel Ivora yang muncul bersama lainnya.
"Hehehehe sengaja mau buat capek abang " jawab Aathifah.
Semua menggeleng. Tidak heran dengan sifat manja Aathifah yang nurun dari sifat sang bunda.
"Kalian kenapa balik lagi ke kantin? " tanya Aathifah.
"Bosan, gak tau mau ngapain jadi ikut nemenin lo aja " jawab Dania.
Aathifah mengangguk mengerti.
"Eh eh eh itu apaan rame rame " heboh Diov.
"Alah palingan si ratu bully berulah lagi " ucap Vanya malas.
Vanya memilih acuh, ia memilih fokus ke buku pelajaran nya saja, pura pura ngambis biar dikira anak pintar, asli nya sih Vanya udah pintar.
"Sayang, kamu bukan Indonesia asli kan? " tanya Vanya.
Aaron mengangguk.
"Papah darah campuran " jawab Aaron.
"Pantesan pacar aku ganteng banget " gombal Vanya.
Semua mendadak pura pura muntah ketika mendengar gombalan Vanya.
"Sirik ae lo pada " kesal Vanya.
"Basi Nya, basi gombalan lo " ejek Agler.
"Sttss yang jomblo gak di ajak " ejek Vanya.
Seketika Agler jongkok di pojokan. Vanya tertawa kuat.
"Eh iya rencana aku pulang sekolah mau ke mall ada yang mau di cari, kamu mau nemenin gak? " tanya Vanya.
"Sebentar "
"Dek nanti Papah jemput gak? " tanya Aaron.
"Pas banget, Papah barusan chat ntar jemput sama bunda " jawab Aathifah.
Aaron mengangguk.
"Oke pulang sekolah " ucap Aaron.
Vanya mengacungkan kedua jempol nya.
Merasa bosan, Aaron menyadarkan kepalanya di bahu Vanya, sesekali ia memainkan rambut panjang Vanya, mengamati Vanya yang sibuk membaca.
"Itu kamu jawaban nya salah sayang " ucap Aaron.
"Lah bener kok jawaban nya endositotis " kekeuh Vanya.