PART 26

192 15 0
                                        

Hari - hari telah Vanya lewati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari - hari telah Vanya lewati. Vanya sudah menempatkan hatinya untuk mendapatkan Aaron. Vanya sampai rela pindah duduk di samping Aaron. Seperti saat ini saat pelajaran sedang berlangsung, Vanya malah sibuk menatap wajah tampan Aaron yang fokus menatap ke depan.

Aaron merasa risih, tapi ia memilih diam, karena ia tahu jika ia memarahi Vanya pasti Vanya akan semakin menjadi jadi. Aaron sudah lelah dengan Vanya. Selagi Vanya tidak melewati batas maka Aaron akan membiarkan nya.

"Gue iri sama lo" ucap Vanya dengan berbisik.

Aaron bingung dengan ucapan Vanya. Bagaimana mungkin Vanya iri dengan nya yang biasa saja.

"Gue iri lo memiliki keluarga yang utuh" lanjut Vanya.

Aaron langsung menatap Vanya.

Tatapan mereka bertemu. Entah mengapa jantung Aaron berdetak dengan cepat, entah mengapa Aaron ingin terus menatap mata cantik Vanya.

Vanya tersenyum manis, membuat Aaron terpana melihat senyuman nya. Namun dengan segera Aaron melepaskan tatapan tersebut ketika mendengar suara bel istrahat.

"Kantin yok" ajak Diov.

Aaron mengangguk.

Mereka semua beranjak, tetapi Vanya tidak beranjak dari tempat duduk nya.

"Gak ke kantin Clare? " tanya Zaidan.

Vanya menggeleng.

"Kalian aja, gue mau di kelas aja" ucap Vanya.

"Ada yang mau di titip? " tanya Zaidan.

Vanya menggeleng.

Kini Vanya sendirian di kelas. Vanya berpindah ke tempat duduk Aaron yang kebetulan di dekat jendela. Vanya menghadap keluar jendela, menikmati angin.

Brak.

Vanya terlonjak kaget. Vanya menoleh, menatap orang yang membuat nya terkejut.

"Kagetin gue aja lo! " kesal Vanya.

Aaron mengedikkan bahu nya. Ia duduk di bangku Vanya.

Aaron menyerahkan sebungkus roti dan satu susu kotak kepada Vanya. Dengan senang hati Vanya menerimanya.

"Makasih lo makanan nya" ucap Vanya.

Aaron mengangguk.

Vanya menatap Aaron.

"Udah mulai luluh ya? " tanya Vanya.

Aaron memutar  bola matanya malas.

"Jangan bermimpi terlalu tinggi " ucap Aaron.

"Gak papa. Prinsip gue kejarlah mimpi setinggi mungkin" jawab Vanya dengan bangga.

VAARON (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang