[ FOLLOW DULU YA SEBELUM BACA ]
Ini kisah dua insan yang di pertemukan oleh sebuah takdir. Takdir lah yang membuat mereka bertemu dan akhirnya bersama. Saling melengkapi kekurangan masing-masing. Banyak perbedaan di antara mereka berdua. Salah satu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Takdir yang tak terelakkan akhirnya menjauhkan langkah kita. Di antara kata-kata yang terucap, ada sebuah keheningan yang tak terungkap. Hanya reruntuhan kisah kita yang tersisa, mengisahkan kepedihan yang terlalu dalam untuk diceritakan
Happy reading semuanya....
Dalam keheningan ruangan yang terang benderang, ia duduk termenung di ujung kasur rumah sakit. Pandangannya yang kosong menatap jendela, mengikuti jejak-jejak hujan yang turun dengan lembut di luar sana.
Tiap tetes air mengingatkannya pada kehampaan yang menyelinap dalam setiap detik kehidupannya yang kian tak pasti. Hujan turun dengan gemuruh, mencerminkan kesedihan yang menggelayuti hatinya.
Di balik senyumnya yang tipis, tersimpan luka yang dalam. Meski terlihat rapuh di antara selimut, senyum itu membawa kehangatan dalam dinginnya suasana. Hujan yang turun di luar seperti menyatu dengan air mata yang tak tertumpahkan.
Sepertinya langit memahami perasaan yang tengah bersedih. Langit menurunkan sebuah hujan untuk mewakilkan kesedihan nya yang menyakitkan. Di ruangan ini ia sendirian, memikirkan hal hal yang mampu membuat nya semakin terjatuh. Ia menghela nafas panjang, lelah itulah yang ia rasakan.
"Apakah ini akhir dari segalanya?" pikirnya sambil meraba getir di dalam hati. Namun, di antara kekosongan itu, kilatan memori bahagia dengan sang kekasih menghampirinya, menyentuh jiwanya yang hampir padam. Senyuman yang pernah terukir di wajahnya, kini tenggelam dalam air mata.
Di saat ia hampir menyerah pada keputusasaan, pintu ruangan terbuka,terdengar suara langkah lembut menghampirinya. Ia menoleh, mrlihat sorot mata itu yang memancarkan kehangatan perlahan menembus kerapuhan hatinya yang retak.
"Kita tak pernah tahu apa yang menunggu di ujung perjalanan ini," bisik nya dengan lembut.
"Mungkin, di balik awan kelabu, ada cahaya yang menanti untuk menerangi langkahmu lagi."
Aaron menggeleng, tidak mengerti arti dari setiap kata yang di lontarkan.
" Bunda pamit dulu, sebentar lagi papah sama adik kamu datang " pamit Nabila.
Aaron mengangguk, ia menatap pintu yang kembali tertutup. Kini ia sendiri lagi, hujan semakin deras, suara petir terdengar sangat kuat.
"Dunia ini begitu luas, tetapi mengapa jalan hidupku harus berakhir di sini?" gumamnya perlahan, suaranya penuh dengan kelelahan. Terkadang, kesunyian ruangan rumah sakit membawa terikatnya pikirannya dalam kesedihan yang dalam.
Dari luar ia mendengar suara yang ribut, sepertinya pertengkaran. Aaron pun turun dari ranjang, ia melangkah pelan ke arah pintu dan membuka pintu kamar. Ia melihat, bunda nya dan juga papah nya yang tengah berdebat, Aathifah tengah berusaha menghentikan perdebatan.